Apakah Tekhnologi merampas Kehidupan Anda ?

” Tekhnologi…dengan kemampuannya mampu mengatur dunia hingga kita tidak perlu menjelajahinya lagi”- Max Frisch, Homo Faber

Kini, kita hidup dalam zaman tekhnologi. Kita berpergian dengan mobil atau pesawat terbang, serta berkomunikasi satu sama lain melalui telepon atau e-mail. Media dan internet menyajikan kepada kita informasi-informasi terbaru dari seluruh penjuru dunia. Fiim-film menghibur kita dengan spesial efek berteknologi tinggi. Air Conditioner (AC) dan penghangat ruangan menjaga kenyamanan hidup kita tanpa terpengaruh oleh perubahan cuaca…dan masih banyak lagi… Tekhnologi telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan kita. Tentu saja, beberapa diantara kita peduli akan polusi serta masalah lingkungan sebagai dampak kemajuan tekhnologi. Akan tetapi, rata-rata kebanyakan orang merasa bahwa tekhnologi sangat memberikan keuntungan dan kemudahan baginya. Continue reading

Kehidupan: Partikel Spiritual atau Spiriton

Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” (disebut atman dalam istilah Vedanta; istilah ‘spiriton’ dipilih oleh penulis). Vedanta menyebutkan bahwa ‘spiriton’ atau partikel spiritual mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a). Dia adalah energi spiritual yang berbeda dengan energi material Tuhan. b). Dia adalah partikel transendental dan berbeda dari materi secara ontologikal. c). Hanya melalui interaksi antara spiriton dan elemen material maka badan material terlihat aktif dan hidup. d). Sifat dasarnya adalah: (i) Kesadaran (ii) Kehendak bebas (iii) Niat (iv) Tujuan. e). Dia berada di luar persepsi indria-indria biasa tapi dapat dibuktikan. Kesadaran adalah gejala kehidupan yang paling bisa dilihat, sebagai bukti adanya spiriton. Sedangkan, materi bagaimanapun kompleksnya tidak akan mempunyai kesadaran. f). Keberadaannya kekal dan tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. g). Dia memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. h). Dia memiliki keinginan untuk bahagia. i). Dia memiliki daya tarik bukan hanya terhadap makhluk individu tapi juga kepada materi. Kekuatan atau daya tarik antara ibu dan bayinya disebabkan oleh interaksi antar spiriton. Namun, bila bayinya meninggal, kekuatan daya tariknya akan hilang karena spiriton tidak lagi berada dalam tubuh anak itu. Lebih jauh, ketika seseorang meninggal, dia dapat mengalami gejala lepasnya “spiriton” melalui mata, mulut, dubur, atau melalui lubang kulit kepala, bersamaan dengan udara kehidupan. Continue reading

AKU ADALAH WAKTU: PENGHANCUR DUNIA

Tidak ada hal yang paling kita kenal selain waktu, akan tetapi tidak ada hal lain yang lebih tidak diketahui selain waktu. Kita semua mengetahui tentang adanya sang waktu, dan ia menyelimuti kita, dan ia berlalu senantiasa, namun tepatnya berapa waktu yang masih tersisa tetap sebagai rahasia yang tidak diketahui oleh kebanyakan umat manusia.

Tidak ada hal lain yang mengadili kegiatan kita sehari-hari setegas sang waktu, namun sangat mengherankan, kita sedikit sekali berpikir tentang dia. Namun demikian, kehidupan kita tergantung sepenuhnya kepada sang waktu. Waktu sedang menggerakkan kita, membentuk kita, mencuri dari kita, dan pada akhirnya akan menghancurkan kita. Waktu tak henti-hentinya mendorong kita ke depan dan memaksa kita untuk patuh, tidak memberikan kita kesempatan untuk berhenti, berubah, atau bahkan mempengaruhi sumbernya.

Kita telah belajar untuk menghitung dan mengukur waktu, membagi dan menyimpan atau menghabiskannya. Namun, kita tetap begitu dipermainkan olehnya sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk berpikir tentang definisi atau tujuan dari waktu yang maha-perkasa, yang berada di mana-mana. Kita tidak mengetahui jam berapa dan untuk apa kita berada di sini. Biasanya kita melihatnya hadir begitu saja tanpa bertanya mengapa kita diikat olehnya, apa yang seharusnya dipelajari darinya, atau bagaimana caranya kita melepaskan diri dari cengkeramannya. Bahkan kita dengan bangga mengklaimnya sebagai “waktu kita,” seakan waktu adalah ciptaan atau milik kita, tidak menyadari bahwa kita adalah budaknya. Continue reading