<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Gaurangga &#124; Blog</title>
	<atom:link href="http://gaurangga.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gaurangga.wordpress.com</link>
	<description>Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare Hare. Hare Rama Hare Rama, Rama Rama Hare Hare</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 13:17:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='gaurangga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/43f771025e16ccc9d4fb9466f5a69216?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Gaurangga &#124; Blog</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://gaurangga.wordpress.com/osd.xml" title="Gaurangga &#124; Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://gaurangga.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bali 24 Hour Kirtan Festival</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/08/03/bali-24-hour-kirtan-festival/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/08/03/bali-24-hour-kirtan-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 12:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[24 Hour Kirtan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Dalam memperingati World Holy Name (Nama Suci Sedunia), kami dari Gourangga Youth mengadakan Bali 24 Hour Kirtan Festival, yaitu Kirtan selama 24 jam non stop, pada tanggal 5 &#8211; 6 September 2009, yang bertempat di Sri sri Jaganntha Gauranga Ashram, Jln. Tukad Balian No.108, Renon, Denpasar. Acaranya di mulai pukul 19.00 Wita. Kami dari Gauranga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=333&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/08/24-hour-kirtan-final.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-334" title="24-HOUR-KIRTAN final" src="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/08/24-hour-kirtan-final.jpg?w=640" alt="24-HOUR-KIRTAN final"   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam memperingati World Holy Name (Nama Suci Sedunia), kami dari Gourangga Youth mengadakan <strong>Bali 24 Hour Kirtan Festival</strong>, yaitu Kirtan selama 24 jam non stop, pada tanggal 5 &#8211; 6 September 2009, yang bertempat di <strong>Sri sri Jaganntha Gauranga Ashram</strong>, <span>Jln. Tukad Balian No.108, Renon, Denpasar. Acaranya di mulai pukul 19.00 Wita.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align:justify;"><span>Kami dari Gauranga Youth mengundang Anda semua untuk hadir dalam acara tersebut. Gratis..</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hormat Kami,</p>
<p style="text-align:justify;">Gourangga Youth</p>
<p style="text-align:justify;"><span><br />
</span></p>
<br />Posted in Artikel Tagged: 24 Hour Kirtan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/333/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=333&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/08/03/bali-24-hour-kirtan-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/08/24-hour-kirtan-final.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">24-HOUR-KIRTAN final</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kehidupan: Partikel Spiritual atau Spiriton</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/kehidupan-partikel-spiritual-atau-spiriton/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/kehidupan-partikel-spiritual-atau-spiriton/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 11:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Sain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” (disebut atman dalam istilah Vedanta; istilah ‘spiriton’ dipilih oleh penulis). Vedanta menyebutkan bahwa ‘spiriton’ atau partikel spiritual mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a). Dia adalah energi spiritual yang berbeda dengan energi material Tuhan. b). Dia adalah partikel transendental dan berbeda dari materi secara ontologikal. c). Hanya melalui interaksi antara spiriton dan elemen material maka badan material terlihat aktif dan hidup. d). Sifat dasarnya adalah: (i) Kesadaran (ii) Kehendak bebas (iii) Niat (iv) Tujuan. e). Dia berada di luar persepsi indria-indria biasa tapi dapat dibuktikan. Kesadaran adalah gejala kehidupan yang paling bisa dilihat, sebagai bukti adanya spiriton. Sedangkan, materi bagaimanapun kompleksnya tidak akan mempunyai kesadaran. f). Keberadaannya kekal dan tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. g). Dia memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. h). Dia memiliki keinginan untuk bahagia. i). Dia memiliki daya tarik bukan hanya terhadap makhluk individu tapi juga kepada materi. Kekuatan atau daya tarik antara ibu dan bayinya disebabkan oleh interaksi antar spiriton. Namun, bila bayinya meninggal, kekuatan daya tariknya akan hilang karena spiriton tidak lagi berada dalam tubuh anak itu. Lebih jauh, ketika seseorang meninggal, dia dapat mengalami gejala lepasnya “spiriton” melalui mata, mulut, dubur, atau melalui lubang kulit kepala, bersamaan dengan udara kehidupan. Di dalam Vedanta, terdapat dua aspek realitas—alam spiritual dan alam material. Harus dicatat bahwa aktivitas makhluk hidup bukan hanya aktivitas fisik. Banyak ilmuwan menghadapi kesulitan besar dalam menjelaskan tingkah laku manusia hanya melalui segi mekanik atau duniawi dan secara intuitif merasakan keterbatasan seperti ini. James Watson, penemu bentuk rantai ganda struktur DNA, mengatakan, “Masih merupakan masalah utama untuk dipecahkan tentang bagaimana informasi disimpan dan didapatkan kembali lalu digunakan di dalam otak. Ini adalah masalah yang lebih besar daripada DNA, dan masalah yang lebih sulit … Anda dapat menemukan gen yang mengatur tingkah laku, tapi hal itu tidak bisa memberi tahu anda bagaimana otak bekerja … kita masih tidak tahu bagaimana otak bekerja …” Baru-baru ini, Stephen Hawking juga mengungkapkan dalam kuliahnya, “Sebagaimana Dirac ungkapkan, persamaan cahaya Maxwell dan persamaan gelombang relativitas … mempengaruhi sebagian besar ilmu fisika, kimia dan biologi. Jadi pada prinsipnya, kita seharusnya mampu memprediksi tingkah laku manusia, namun saya tidak dapat mengatakan bahwa saya sudah berhasil. Masalahnya, dalam otak manusia ada terlalu banyak partikel, sehigga sulit bagi kita untuk dapat memecahkan persamaan tersebut.” Berdasarkan Vedanta, otak dari makhluk hidup yang sudah berkembang adalah organ mesin tubuh yang penting dimana gejala-gejala kesadaran ditransmisikan. Energi kesadaran ditransmisikan dari jiwa spiritual atau ‘spiriton’. Dalam buku biologi, kehidupan atau makhluk hidup secara umum didefinisikan sebagai yang memiliki potensi untuk tumbuh, berkembang-biak, bergerak, merespon rangsangan seperti sinar, panas dan suara dan ditopang oleh nutrisi, pernafasan dan ekskresi. Tapi apakah yang membuat sistem hidup ini tumbuh? Secara biologis, kita menjelaskan bahwa pertumbuhan disebabkan oleh penggandaan sel melalui berbagai jenis pembelahan sel seperti mitosis dan meiosis. Tapi apa yang membuat sel membelah diri pada tahap awal? Mengapa sebuah sel telur yang telah dibuahi (setelah sel sperma bersatu dengan sel telur) mengalami pembelahan yang membentuk seluruh organ tubuh? Vedanta menjelaskan bahwa dengan adanya ‘spiriton’, tubuh itu digerakkan dan diaktifkan serta mengalami enam jenis transformasi. Dilahirkan, hidup untuk beberapa saat, tumbuh, melahirkan beberapa keturunan, kemudian menua, lalu pada akhirnya hilang dan terlupakan. Itu seperti analogi sebuah mobil dan pengendara. Ketika pengendaranya pergi, mobil tidak dapat bergerak. Demikian pula, ketika sang roh (spiriton) pergi, atau yang biasa disebut kematian, tubuh tidak bisa digerakkan lagi walaupun nyatanya semua mesin molekuler yang membangun tubuh itu masih tetap utuh. Srimad Bhagavad gita (7.4-5) menyebutkan tentang perbedaan ‘spiriton’ dengan materi sebagai berikut: bhumir apo nalo vayuh kham mano bhuddir eva ca ahankara itiyam me bhinna prakrtir astadha apareyam itas tv anyam prakrtim viddhi me param jiva-bhutam maha-baho yayedam dharyate jagat Terjemahan: “Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu—secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku. Wahai Arjuna, disamping tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku yang lain yang bersifat lebih tinggi, terdiri dari para makhluk hidup (spiriton) yang memanfaatkan sumber daya alam material yang lebih rendah tersebut.” Berdasarkan Vedanta, pengetahuan tentang jiwa atau spiriton (atman) adalah hakikat utama spiritualitas. Bhagavad gita(9.2) menyatakan pengetahuan itu sebagai—raja-vidya raja guhyam pavitram idam uttamam pratyaksavagamam dharmyam su-sukham kartum avyayam yang berarti, ”Pengetahuan ini adalah raja pendidikan, yang paling rahasia dari segala rahasia. Inilah pengetahuan paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan kebahagiaan (BG. 9.2).” Berdasarkan Vedanta, tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk menemukan identitas spiritual yang sejati dan hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Dr T.D Singh kehidupan dan evolusi spiritual <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=324&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” (disebut atman dalam istilah Vedanta; istilah ‘spiriton’ dipilih oleh penulis). Vedanta menyebutkan bahwa ‘spiriton’ atau partikel spiritual mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a). Dia adalah energi spiritual yang berbeda dengan energi material Tuhan. b). Dia adalah partikel transendental dan berbeda dari materi secara ontologikal. c). Hanya melalui interaksi antara spiriton dan elemen material maka badan material terlihat aktif dan hidup. d). Sifat dasarnya adalah: (i) Kesadaran (ii) Kehendak bebas (iii) Niat (iv) Tujuan. e). Dia berada di luar persepsi indria-indria biasa tapi dapat dibuktikan. Kesadaran adalah gejala kehidupan yang paling bisa dilihat, sebagai bukti adanya spiriton. Sedangkan, materi bagaimanapun kompleksnya tidak akan mempunyai kesadaran. f). Keberadaannya kekal dan tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. g). Dia memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. h). Dia memiliki keinginan untuk bahagia. i). Dia memiliki daya tarik bukan hanya terhadap makhluk individu tapi juga kepada materi. Kekuatan atau daya tarik antara ibu dan bayinya disebabkan oleh interaksi antar spiriton. Namun, bila bayinya meninggal, kekuatan daya tariknya akan hilang karena spiriton tidak lagi berada dalam tubuh anak itu. Lebih jauh, ketika seseorang meninggal, dia dapat mengalami gejala lepasnya “spiriton” melalui mata, mulut, dubur, atau melalui lubang kulit kepala, bersamaan dengan udara kehidupan. <span id="more-324"></span>Di dalam Vedanta, terdapat dua aspek realitas—alam spiritual dan alam material. Harus dicatat bahwa aktivitas makhluk hidup bukan hanya aktivitas fisik. Banyak ilmuwan menghadapi kesulitan besar dalam menjelaskan tingkah laku manusia hanya melalui segi mekanik atau duniawi dan secara intuitif merasakan keterbatasan seperti ini. James Watson, penemu bentuk rantai ganda struktur DNA, mengatakan, “Masih merupakan masalah utama untuk dipecahkan tentang bagaimana informasi disimpan dan didapatkan kembali lalu digunakan di dalam otak. Ini adalah masalah yang lebih besar daripada DNA, dan masalah yang lebih sulit … Anda dapat menemukan gen yang mengatur tingkah laku, tapi hal itu tidak bisa memberi tahu anda bagaimana otak bekerja … kita masih tidak tahu bagaimana otak bekerja …” Baru-baru ini, Stephen Hawking juga mengungkapkan dalam kuliahnya, “Sebagaimana Dirac ungkapkan, persamaan cahaya Maxwell dan persamaan gelombang relativitas … mempengaruhi sebagian besar ilmu fisika, kimia dan biologi. Jadi pada prinsipnya, kita seharusnya mampu memprediksi tingkah laku manusia, namun saya tidak dapat mengatakan bahwa saya sudah berhasil. Masalahnya, dalam otak manusia ada terlalu banyak partikel, sehigga sulit bagi kita untuk dapat memecahkan persamaan tersebut.” Berdasarkan Vedanta, otak dari makhluk hidup yang sudah berkembang adalah organ mesin tubuh yang penting dimana gejala-gejala kesadaran ditransmisikan. Energi kesadaran ditransmisikan dari jiwa spiritual atau ‘spiriton’. Dalam buku biologi, kehidupan atau makhluk hidup secara umum didefinisikan sebagai yang memiliki potensi untuk tumbuh, berkembang-biak, bergerak, merespon rangsangan seperti sinar, panas dan suara dan ditopang oleh nutrisi, pernafasan dan ekskresi. Tapi apakah yang membuat sistem hidup ini tumbuh? Secara biologis, kita menjelaskan bahwa pertumbuhan disebabkan oleh penggandaan sel melalui berbagai jenis pembelahan sel seperti mitosis dan meiosis. Tapi apa yang membuat sel membelah diri pada tahap awal? Mengapa sebuah sel telur yang telah dibuahi (setelah sel sperma bersatu dengan sel telur) mengalami pembelahan yang membentuk seluruh organ tubuh? Vedanta menjelaskan bahwa dengan adanya ‘spiriton’, tubuh itu digerakkan dan diaktifkan serta mengalami enam jenis transformasi. Dilahirkan, hidup untuk beberapa saat, tumbuh, melahirkan beberapa keturunan, kemudian menua, lalu pada akhirnya hilang dan terlupakan. Itu seperti analogi sebuah mobil dan pengendara. Ketika pengendaranya pergi, mobil tidak dapat bergerak. Demikian pula, ketika sang roh (spiriton) pergi, atau yang biasa disebut kematian, tubuh tidak bisa digerakkan lagi walaupun nyatanya semua mesin molekuler yang membangun tubuh itu masih tetap utuh. Srimad Bhagavad gita (7.4-5) menyebutkan tentang perbedaan ‘spiriton’ dengan materi sebagai berikut: bhumir apo nalo vayuh kham mano bhuddir eva ca ahankara itiyam me bhinna prakrtir astadha apareyam itas tv anyam prakrtim viddhi me param jiva-bhutam maha-baho yayedam dharyate jagat Terjemahan: “Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu—secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku. Wahai Arjuna, disamping tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku yang lain yang bersifat lebih tinggi, terdiri dari para makhluk hidup (spiriton) yang memanfaatkan sumber daya alam material yang lebih rendah tersebut.” Berdasarkan Vedanta, pengetahuan tentang jiwa atau spiriton (atman) adalah hakikat utama spiritualitas. Bhagavad gita(9.2) menyatakan pengetahuan itu sebagai—raja-vidya raja guhyam pavitram idam uttamam pratyaksavagamam dharmyam su-sukham kartum avyayam yang berarti, ”Pengetahuan ini adalah raja pendidikan, yang paling rahasia dari segala rahasia. Inilah pengetahuan paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan kebahagiaan (BG. 9.2).” Berdasarkan Vedanta, tujuan akhir kehidupan manusia adalah untuk menemukan identitas spiritual yang sejati dan hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Dr T.D Singh kehidupan dan evolusi spiritual</p>
<br />Posted in Artikel, Sains Tagged: Artikel, Vedanta dan Sain <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=324&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/kehidupan-partikel-spiritual-atau-spiriton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU ADALAH WAKTU: PENGHANCUR DUNIA</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/aku-adalah-waktu-penghancur-dunia/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/aku-adalah-waktu-penghancur-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 11:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Sain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada hal yang paling kita kenal selain waktu, akan tetapi tidak ada hal lain yang lebih tidak diketahui selain waktu. Kita semua mengetahui tentang adanya sang waktu, dan ia menyelimuti kita, dan ia berlalu senantiasa, namun tepatnya berapa waktu yang masih tersisa tetap sebagai rahasia yang tidak diketahui oleh kebanyakan umat manusia. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=321&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada hal yang paling kita kenal selain waktu, akan tetapi tidak ada hal lain yang lebih tidak diketahui selain waktu. Kita semua mengetahui tentang adanya sang waktu, dan ia menyelimuti kita, dan ia berlalu senantiasa, namun tepatnya berapa waktu yang masih tersisa tetap sebagai rahasia yang tidak diketahui oleh kebanyakan umat manusia.</p>
<p class="judul" style="margin:0 0 10pt;" align="center"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><strong></strong></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Tidak ada hal lain yang mengadili kegiatan kita sehari-hari setegas sang waktu, namun sangat mengherankan, kita sedikit sekali berpikir tentang dia. Namun demikian, kehidupan kita tergantung sepenuhnya kepada sang waktu. Waktu sedang menggerakkan kita, membentuk kita, mencuri dari kita, dan pada akhirnya akan menghancurkan kita. Waktu tak henti-hentinya mendorong kita ke depan dan memaksa kita untuk patuh, tidak memberikan kita kesempatan untuk berhenti, berubah, atau bahkan mempengaruhi sumbernya.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Kita telah belajar untuk menghitung dan mengukur waktu, membagi dan menyimpan atau menghabiskannya. Namun, kita tetap begitu dipermainkan olehnya sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk berpikir tentang definisi atau tujuan dari waktu yang maha-perkasa, yang berada di mana-mana. Kita tidak mengetahui jam berapa dan untuk apa kita berada di sini. Biasanya kita melihatnya hadir begitu saja tanpa bertanya mengapa kita diikat olehnya, apa yang seharusnya dipelajari darinya, atau bagaimana caranya kita melepaskan diri dari cengkeramannya. Bahkan kita dengan bangga mengklaimnya sebagai “waktu kita,” seakan waktu adalah ciptaan atau milik kita, tidak menyadari bahwa kita adalah budaknya.<span id="more-321"></span></span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Jadi, bertanya tentang sifat waktu bukan hanya pertanyaan dangkal dan teoritis belaka<span> </span>kepada ilmuwan atau filosof rohani. Melainkan, pertanyaan ini akan membawa kita langsung tepat kepada intisari dari kehidupan kita. Ini adalah soal hidup dan mati, pertanyaan tentang asal mula dan tujuan dari dunia yang terwujud dan keberadaan kita di dalamnya.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Kita harus menginsyafi sifat sementara dan berkedip-kedip dari hal-hal yang tercipta di dalam sang waktu, termasuk badan, pikiran, perasaan, keinginan, kegiatan dan prestasi kita. Keinsyafan ini tidak dimaksudkan untuk melemparkan kita ke dalam samudera kebodohan dan penyesalan atau menyalakan hawa nafsu untuk bertindak, akan tetapi untuk membuka mata kita kepada dimensi yang bebas dari pengaruh waktu, atau kekekalan. Kekekalan bukanlah ekspansi dari waktu material yang tak terbatas. Melainkan ia adalah melampaui waktu material dan tempat tujuan dari kehidupan manusia. Dalam hal ini, setiap pembicaraan yang serius mengenai waktu pada akhirnya akan membawa kita kepada agama, dan semua usaha untuk mengerti gejala waktu secara terpisah dengan Tuhan pasti akan gagal.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Apakah Waktu tersebut?</span></span></strong></p>
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><strong></strong></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Ilmu pengetahuan dan teknologi modern lebih banyak mengacu kepada penghitungan dan pengukuran waktu, sedangkan mendefinisikan gejala waktu selalu menjadi urusan ilmu agama dan filsafat.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Homer, Pythagoras, Heraclitus, Parmenides, Plato, Aristotle, Lucretius, Seneca, dan Plotinus adalah contoh dari para pemikir jaman kuno yang menonjol yang mencoba untuk menggenggam makna dari waktu. Kemudian pada abad pertengahan, St. Augustine, salah seorang pastur yang berpengaruh, menyelidiki mata pelajaran ini secara mendalam. Dan pada jaman modern, para ahli fisika dan matematika seperti Copernicus, Kepler, Descartes, Newton, dan kemudian akhirnya Poincare dan Einstein mencoba untuk memberikan penjelasan yang cukup mengenai waktu, dan dilakukan juga oleh para filosof seperti Kant, Hegel, Marx, James, Nietzsche, Bergson, Whitehead, Wittgenstein, dan Heidegger.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Tanpa membahas teori-teori mereka, kita bisa menyimpulkan bahwa akhirnya mereka tidak mampu memberikan penjelasan yang mendalam atau sampai kepada pengertian yang mendalam mengenai waktu.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="text-align:left;margin:3pt 0 0;" align="justify"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Waktu sebagai Kehadiran Tuhan</span></span></strong></p>
<p class="IsiText" style="text-align:left;margin:3pt 0 0;" align="justify"><strong></strong></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Kitab-kitab Veda India kuno, waktu (dalam bahasa Sanskerta disebut <em>kala) adalah salah satu dari lima mata</em> pelajaran filsafat dasar. (Empat yang lainnya adalah Tuhan, sang roh, dunia, dan <em>karma). </em>Di dalam <em>Bhagavad-gita, buku</em> filsafat Veda yang utama, Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, menjawab pertanyaan mengenai waktu hanya dengan dua kata saja. Beliau bersabda, <em>kalo&#8217;smi, &#8220;Aku adalah Waktu.&#8221;</em></span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;"><em></em></span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Jadi Veda mendefinisikan waktu sebagai “kehadiran Tuhan” di mana-mana di dunia ini. Dengan kata lain, adalah salah satu kemungkinan dengan mana orang bisa merasakan dan menginsyafi Tuhan. Tuhan adalah waktu, dan adanya waktu adalah bukti dari adanya Tuhan. Tanpa adanya Tuhan maka tidak akan ada yang dinamakan waktu, dan tanpa adanya waktu tidak akan ada dunia ini. St. Augustine berkata, <em>non in tempore sed cum tempore Deus creavit caela et terram, &#8220;Tuhan menciptakan</em> Surga dan Bumi bukan <em>di dalam </em>waktu, akan tetapi <em>melalui </em>waktu.” &#8220;</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Waktu tidak tercipta melalui sebuah &#8220;big bang&#8221; pada awal perwujudan alam semesta seperti diklaim oleh teori-teori atheis modern tertentu. Melainkan, Tuhan, sebagai Faktor Waktu, menciptakan jagat raya ini. Dengan demikian waktu eksis secara independen di luar ciptaan material, dan waktu tetap ada setelah peleburan alam semesta.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Karena waktu adalah suatu aspek Tuhan, ia bukanlah pasif— yang “berlalu” begitu saja. Melainkan, ia adalah sesuatu yang aktif yang memaksa segala sesuatu untuk bergerak menuju kehancuran (akar kata Sanskerta <em>kala </em>adalah <em>kal, </em>yang berarti “memaksa.”). Waktu adalah sesuatu yang paling berkuasa di dunia. Ia memaksa segala sesuatu menjadi masa lalu, dan tidak ada orang yang bisa menghentikannya ataupun keluar dari pengaruhnya. Oleh karena itulah kitab-kitab Veda mengatakan bahwa waktu adalah aspek Tuhan yang berada di mana-mana yang bisa dilihat oleh setiap orang.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN">Apakah Waktu Bersifat Relatif?</span></strong></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong></strong></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Beberapa orang mengatakan bahwa waktu adalah bersifat relatif, tetapi hal ini adalah tidak benar dan mudah sekali disalah-mengerti. Karena waktu adalah aspek Tuhan, maka ia adalah mutlak dan berlaku universal. Hanya pemahaman dan ukuran kita mengenai waktu saja yang bersifat relatif disebabkan oleh badan material kita. Sebagai contoh, badan manusia merasakan waktu dengan cara yang berbeda dengan badan seekor laron. Demikian juga, kitab Veda menguraikan para mahluk hidup di dalam jagat raya ini (para dewa) dengan masa hidup yang jauh lebih panjang daripada kita. Walaupun pemahaman relatif para mahluk hidup mengenai waktu berbeda sepenuhnya, namun demikian mereka sama-sama mengalaminya dengan cara yang serupa. Waktu juga memaksa mereka melewati masa kanak-kanak, masa muda, masa tua, dan akhirnya kematian. Bahkan Dewa Brahma, mahluk hidup tertinggi di alam semesta ini, yang masa hidupnya terhitung sekitar 311 triliun tahun, akan menjadi tua dan meninggal.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan demikian pengertian waktu menurut Veda ini memecahkan masalah filosofis dan ilmiah yang ada di dalam benak para pemikir Eropa selama berabad-abad: Apakah hanya ada waktu mutlak yang tunggal yang berlaku di seluruh jagat raya ini, seperti yang diusulkan oleh Isaac Newton, atau apakah ada banyak macam bentuk waktu yang relatif, seperti dinyatakan oleh teori relatifitas modern?</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Jawaban Veda yaitu bahwa kedua gagasan tersebut adalah benar. Dari sudut pandang mutlak (sudut pandang Tuhan), hanya ada waktu yang tunggal yang berlaku secara universal. Akan tetapi para mahluk hidup memahami waktu yang mutlak ini secara relatif, menurut jenis badan material yang mereka miliki, dan juga kecepatan yang mereka tempuh di ruang angkasa, dan kedudukan geografis mereka.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN">Waktu Material dan Spiritual</span></strong></p>
<p class="IsiText" style="margin:5pt 0 0;" align="justify"><strong></strong></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Setiap hari kita mengalami waktu dalam tiga fase waktu yang berurutan: masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, dan waktu selalu mempunyai awal dan akhir. Dalam istilah Veda, kita menyebutnya sebagai waktu material (bertentangan dengan waktu spiritual di dunia rohani). Hal yang membahayakan dari waktu material tetap tidak bisa kita lihat. Kita tidak bisa melihatnya secara langsung, seperti halnya kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan secara langsung di dalam alam semesta ataupun kehadiran sang roh di dalam badan. Namun demikian sama halnya dengan Tuhan dan sang roh, kita bisa memahami sang waktu melalui gejalanya—perubahan terus-menerus dari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang yang memahlukkan segala sesuatu dan setiap orang.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam <em>Bhagavad-gita</em> (11.32) Krishna bersabda, &#8220;Aku adalah Waktu, penghancur dunia, Aku telah turun ke sini untuk menghancurkan semua orang.” Jadi kita bisa mengerti bahwa waktu dan Tuhan sebagai penghancur yang hebat, yang menyebabkan kita menyesal karena kehilangan milik kita di masa lalu dan membuat kita menginginkan sesuatu atau mengkhawatirkan apa yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang. Di dunia material ini, masa lalu dan masa yang akan datang kelihatan lebih baik karena kecemasan akibat kehilangan yang akan datang menjambret kepuasan yang dialami sekarang.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Namun kita tidak dipaksa untuk mengerti waktu dan Tuhan hanya dengan cara seperti ini saja. Agama menawari kita cara yang jauh lebih menyenangkan untuk menginsyafi waktu dan Tuhan. Kitab Veda menjelaskan bahwa di dunia rohani, di kerajaan Tuhan, waktu hadir selamanya. Sifat-sifat masa lalu dan masa yang akan datang dan akibat-akibat buruk dari sang waktu (penghancuran, kegagalan, kekecewaan, halangan, frustasi, kebosanan, penantian) yang kita alami di sini tidak ada di dunia rohani.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Waktu spiritual mengatur berangkainya kebahagiaan rohani yang berlangsung terus-menerus yang dialami dalam hubungan dengan Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Hubungan yang membahagiakan ini menyibukkan para mahluk hidup di dunia rohani untuk terserap sepenuhnya kepada objek pujaan mereka. Walaupun segala sesuatu di sana adalah secara mutlak hadir selamanya, peristiwa-peristiwa terjadi dalam suatu rangkaian keaneka-warnaan yang penuh kebahagiaan kekal.</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh karena itu agama Veda meminta kita untuk menggunakan waktu kita di dalam<span> </span>dunia material ini untuk melayani Tuhan dengan cinta bhakti. Dengan melakukan demikian, kita akan membuat diri kita memenuhi syarat untuk menerima karuniaNya. Sehingga pada akhir dari badan ini, atas kekuatan karuniaNya, kita akan bisa diizinkan untuk pulang kembali ke dunia rohani yang kekal, yang berada di luar ruang dan waktu material</span></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify">
<p class="bibliografi" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Bibliografi</span></strong></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify"><span style="font-size:12pt;line-height:125%;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">—http://www.iskcon.org</span></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify">
<p class="judul" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><strong><span style="font-family:Times New Roman;">MUTIARA VEDA</span></strong></span></p>
<p class="IsiText" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN">Seseorang harus mempunyai kemauan keras untuk mengetahui kebenaran. Jika orang ingin belajar berenang, dia haruslah tidak takut air. Pada saat yang sama orang harus mengerti bahwa </span><span style="font-size:12pt;font-family:Balaram;" lang="EN">çaraëägati </span><span style="font-size:12pt;" lang="EN">atau penyerahan diri bukan sesuatu yang sulit. Sesungguhnya, hal itu mudah dan alami bagi sang roh. Dan apa pun yang bertentangan dengan hal itu, tidaklah<span> </span>alami tetapi sebenarnya menyakitkan.</span></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify"><span style="font-size:12pt;line-height:125%;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">—Srila Bhaktisiddanta Sarasvati Thakur </span></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify"><span style="font-size:12pt;line-height:125%;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">Jawaban atas pertanyaan seorang murid</span></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify">
<p class="bibliografi" style="margin:0;" align="justify"><span style="font-size:12pt;" lang="EN"><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Bibliografi</span></strong></span></p>
<p class="bibliografiisi" style="margin:0 0 0 28.35pt;" align="justify"><span style="font-size:12pt;line-height:125%;" lang="EN"><span style="font-family:Times New Roman;">—<strong>Kembali Kepada Ketuhanan.</strong> Terjemahan <strong>Back to Godhead </strong>Vol 36. Februri 2002.</span></span></p>
<br />Posted in Artikel, Sains Tagged: Artikel, Vedanta dan Sain <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/321/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/321/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=321&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/24/aku-adalah-waktu-penghancur-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vegetarian dari Perspektif Agama</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/vegetarian-dari-perspektif-agama-2/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/vegetarian-dari-perspektif-agama-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 09:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vegetarian Food]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Vegetarian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara masalah sehat dalam arti sehat jasmani, tidak dapat dipisahkan dengan masalah sehat secara spiritual, karena ke duanya saling berkait. Kata bijak mengatakan di dalam jasmani yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Demikian juga sebaliknya seseorang yang sehat secara spiritual akan memilih makanan yang sehat untuk sang jiwa. Oleh karena itu makanan bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan akan zat gizi untuk tubuh tetapi juga untuk makanan yang sehat secara spiritual.

Dalam setiap sistem kepercayaan apapun apapun masalah makanan menjadi salah satu kunci penting dalam meniti jalan hidup, sehingga makanan dan makan adalah suatu yadnya atau sadhana bhakti yang harus dipatuhi. Tuhan telah menciptakan planet-planet dengan segala isinya, dan segala kehidupan atau mahluk yang mendiami planet ini. Diciptakan beraneka jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan. Hewan diciptakan dengan keaneka ragaman sifat termasuk juga dalam hal makannya. Setiap spesies telah diberikan kewajibannya (dharma) masing-masing dalam hal makan. Seperti singa tidak berdosa kalau memakan hewan yang lebih kecil karena itulah kewajibannya, namun dia dia tidak akan makan berlebihan dan tidak akan memakan yang bukan haknya, tidak mau makan rerumputan. Demikian juga sapi tidak akan memakan binatang yang lebih kecil, karena kewajibannya hanya makan rumput saja. Demikian juga dengan hewan-hewan lainnya masing-masing sudah mempunyai kewajibannya, hal ini termanifestasi dalam bentuk anatomi yang telah dijelaskan di atas. Demikian juga manusia telah mempunyai kewajiban dalam hal makan. Jadi makan bukanlah sekedar untuk memasukkan makan kedalam perut saja namun ada aturannya sendiri.

Pola hidup vegetarian telah ada sejak peradaban Veda, karena dalam Veda baik sruthi, smrthi dan purana tidak dibenarkan melakukan pembunuhan terhadap hewan. Bahkan orang yang memakan daging dianggap manusia kelas rendah atau disebut candala. Demikian juga peradaban agama-agama berikutnya, tidak pernah ada rekomendasi untuk menyakiti atau membunuh hewan. Perkembangan berikutnya pada zaman Kali banyak manusia tidak lagi mengindahkan anjuran kitab suci, perburuan dan pembunuhan hewan semakin merajalela, hingga di zaman modern saat ini daging dianggap merupakan sumber makanan yang baik dan kebutuhan semakin meningkat, sehingga dibangunlah banyak rumah potong untuk memenuhi kebutuhan daging. Dalam agama manapun sebenarnya tidak dibenarkan melakukan pembunuhan terhadap semua mahluk hidup, karena semua mahluk hidup adalah sesama ciptaanNya yang berarti saudara kita.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=317&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berbicara masalah sehat dalam arti sehat jasmani, tidak dapat dipisahkan dengan masalah sehat secara spiritual, karena ke duanya saling berkait. Kata bijak mengatakan di dalam jasmani yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Demikian juga sebaliknya seseorang yang sehat secara spiritual akan memilih makanan yang sehat untuk sang jiwa. Oleh karena itu makanan bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan akan zat gizi untuk tubuh tetapi juga untuk makanan yang sehat secara spiritual.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap sistem kepercayaan apapun apapun masalah makanan menjadi salah satu kunci penting dalam meniti jalan hidup, sehingga makanan dan makan adalah suatu yadnya atau sadhana bhakti yang harus dipatuhi. Tuhan telah menciptakan planet-planet dengan segala isinya, dan segala kehidupan atau mahluk yang mendiami planet ini. Diciptakan beraneka jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan. Hewan diciptakan dengan keaneka ragaman sifat termasuk juga dalam hal makannya. Setiap spesies telah diberikan kewajibannya (dharma) masing-masing dalam hal makan. Seperti singa tidak berdosa kalau memakan hewan yang lebih kecil karena itulah kewajibannya, namun dia dia tidak akan makan berlebihan dan tidak akan memakan yang bukan haknya, tidak mau makan rerumputan. Demikian juga sapi tidak akan memakan binatang yang lebih kecil, karena kewajibannya hanya makan rumput saja. Demikian juga dengan hewan-hewan lainnya masing-masing sudah mempunyai kewajibannya, hal ini termanifestasi dalam bentuk anatomi yang telah dijelaskan di atas. Demikian juga manusia telah mempunyai kewajiban dalam hal makan. Jadi makan bukanlah sekedar untuk memasukkan makan kedalam perut saja namun ada aturannya sendiri.<br />
<span class="fullpost"><br />
Pola hidup vegetarian telah ada sejak peradaban Veda, karena dalam Veda baik sruthi, smrthi dan purana tidak dibenarkan melakukan pembunuhan terhadap hewan. Bahkan orang yang memakan daging dianggap manusia kelas rendah atau disebut candala. Demikian juga peradaban agama-agama berikutnya, tidak pernah ada rekomendasi untuk menyakiti atau membunuh hewan. Perkembangan berikutnya pada zaman Kali banyak manusia tidak lagi mengindahkan anjuran kitab suci, perburuan dan pembunuhan hewan semakin merajalela, hingga di zaman modern saat ini daging dianggap merupakan sumber makanan yang baik dan kebutuhan semakin meningkat, sehingga dibangunlah banyak rumah potong untuk memenuhi kebutuhan daging. Dalam agama manapun sebenarnya tidak dibenarkan melakukan pembunuhan terhadap semua mahluk hidup, karena semua mahluk hidup adalah sesama ciptaanNya yang berarti saudara kita.<span id="more-317"></span></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Diet for Transcendence: Vegetarianism and the World Religions (Diet Transendental: Pola Hidup Vegetarian dan Agama-Agama Dunia)&#8221; karangan Steven Rosen. Ketika saya membaca buku itu, saya mulai berpikir tentang jawaban yang biasa saya berikan atas pertanyaan yang sering diajukan &#8220;Mengapa Anda vegetarian?&#8221; Dengan mudah saya membuat daftar manfaat kesehatan seperti menurunkan kolesterol, mencegah kanker, meringankan penyakit jantung dll., semua itu adalah alasan-alasan yang baik untuk tidak makan daging. Tetapi saya tiba-tiba sadar bahwa saya telah lalai menyebutkan alasan yang terpenting: welas asih kepada semua makhluk.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bukunya, Rosen menunjukkan bahwa Perintah Allah Keenam dalam Alkitab Kristen-Yahudi dan Sila Pertama Agama Budha adalah &#8220;Jangan Engkau membunuh&#8221; atau &#8220;Jangan membunuh&#8221;. Kata-katanya jelas dan tidak ditujukan khusus hanya kepada manusia. Pengarang tersebut juga menyebutkan bahwa &#8220;Aturan Emas&#8221; &#8211; &#8220;Lakukanlah terhadap yang lain sebagaimana engkau ingin yang lain lakukan terhadapmu&#8221; &#8211; ditemukan dalam hampir semua kitab suci di dunia, menimbulkan pertanyaan &#8220;Bukankah hewan juga termasuk &#8216;yang lain&#8217;?” Karena mereka hidup, bernapas, berpikir seperti yang dilakukan manusia, dan juga menunjukkan rasa kasih, takut dan marah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Pandangan Agama Hindu</span></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah makan dan makanan telah banyak diatur dalam kitab suci Hindu terutama Bhagavadgita dan Bhagavata purana. Personalitas Tertinggi Tuhan hanya mau menerima persembahan berupa buah, air, daun, dan bunga dengan tulus iklhas, bahkan makanan yang sudah di persembahkan kepadaNya, maka makanan tersebut akan disucikan. Tetapi bila makanan tidak dipersembahkan lebih dahulu maka dianggap sebagai pencuri atau makan dosa. Masih dalam Bhagavadgita, makanan dibagi menjadi 3 katagori; makanan yang satvik, makanan rajasik dan makanan yang tamasika. Jadi soal makanan dan makan telah diatur dan itu merupakan yadnya. Kenapa tidak diperkenankan memakan daging? Hal ini jelas untuk mendapatkan daging kita mesti melakukan pembunuhan terhadap mahluk hidup lain, demikian juga dalam kitab suci agama lain, pembunuhan merupakan larangan keras. Karena semua mahluk hidup adalah saudara-saudara umat manusia juga. Sri Krishna dalam Bhagavadgita menyatakan ” &#8230;&#8230;.. Akulah ayah yang memberikan benih kepada semua mahluk hidup&#8230;.” Karena karma dan pengaruh sifat alam (tri guna) yang berbeda maka ia menperoleh badan hewan, padahal sang roh yang ada di dalamnya adalah sama dengan sang roh dalam diri kita. Semua mahluk hidup berasal dari sumber yang sama, seperti dalam Bhagavadgita 15.7</p>
<blockquote><p>mamaivamso jiva-loke      jiva-bhutah sanatanah</p>
<p>manah-sasthanindriyani    prakrti sthani karsati</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">”Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran.”</p>
<p style="text-align:justify;">Orang hendaknya memperlakukan semua hewan binatang seperti kijang, kera, tikus, ular, burung-burung dan lalat dengan benar bagaikan putra sendiri. Betapa kecil sesungguhnya perbedaan antara anak-anak dengan binatang yang tidak berdosa ini. (Bhagavata Purana 7.14.9)</p>
<p style="text-align:justify;">Seseorang yang mengaku beragama hendaknya memahami filsafat dasar tersebut, oleh karena itu haruslah menghormati setiap kehidupan apapun, karena mahluk hidup juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan spiritualnya. Bila mahluk hidup mati dengan alamiah maka ia akan mendapatkan badan material yang lebih tinggi tingkat kesadarannya. Bila mati oleh karena dibunuh, disemblih maka ia akan kembali menjalani kehidupan seperti semula. Itulah ajaran dharma yang sejati.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tidak melakukan pembunuhan terhadap hewan berarti kita sebenarnya telah melaksanakan atau menegakkan prinsip dharma. Di zaman Satya-yuga, ada 4 prinsip dharma masih tetap tegakdalam Bhagavata purana dinyatakan : ”tapah saucam daya satyam iti padah krte krtah&#8230;..” &#8211; ada empat tiang dharma yang menyangga tetap berdiri tegaknya dharma pada zaman Satya Yuga, zaman keemasan, tiang dimaksud adalah 1. <span style="font-weight:bold;">Tapah (pertapaan)</span>, 2. <span style="font-weight:bold;">Saucam (kebersihan,   kesucian)</span>, 3. <span style="font-weight:bold;">Daya (karunia, cinta kasih)</span>, 4. <span style="font-weight:bold;">Satyam (kejujuran, kebenaran)</span>. Namun di zaman sekaran prinsip dharma itu telah dirongrong oleh 4 prinsip adharma, tiang penyangga dharma tersebut sudah roboh akibat dirongrong oleh tindakan adharma.</p>
<p style="text-align:justify;">1.   <span style="font-weight:bold;">Dyutam(berjudi)</span>: kegiatan ini akan menghancurkan satya (kejujuran). Kegiatan main judi menghancurkan kejujuran di dalam hati orang. Dyuta artinya tipuan. Dalam permainan judi tidak ada kejujuran. Pemain judi selalu berusaha mencari kesempatan untuk saling menipu.</p>
<p style="text-align:justify;">2.   <span style="font-weight:bold;">Panam(mabuk minuman keras)</span>: kegiatan ini menghancurkan sifat tapah (pertapaan, pengendalian diri). Jika orang mengebangkan kebiasaan mabuk-mabukan, pastilah tiang Dharma yang amat penting yaitu pertapaan atau pengendalian diri akan roboh.</p>
<p style="text-align:justify;">3.   <span style="font-weight:bold;">Striyah (berzinah)</span>: kegiatan ini akan menghancurkan saucam (kesucian badan). Tidak akan ditemui kesucian di dalam hati orang yang melakukan hubungan kelamin tidak syah. Di samping itu, bukan cerita baru lagi bahwa penyakit kotor yang berkembang dewasa ini yang pengobatannya belum ditemukan bisa berjangkit terhadap yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">4.   <span style="font-weight:bold;">Suna (membunuh binatang)</span>: kegiatan ini menghancurkan daya (cinta kasih, sifat welas asih). Resi Canaknya mengatakan bahwa sangat sulit menemukan cinta kasih di damal hati para pemakan daging. Tanpa karunia dan cinta kasih orang sulit mengembangkan hubungan, bukan hanya di masyarakat tetapi juga sulit mengembangkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ajaran Veda sangat menekankan pentingnya pengaturan jenis makanan. Sebab, makanan amat mempengaruhi sifat dan kesadaran orang. Jaisa anna vaisa mana, bagaimana makanan begitulah pikiran. Atau orang Barat mengatakan “You are what you eat”, Anda adalah apa yang Anda makan. Dalam Bhagavadgita, makanan dikelompokkan berdasarkan perbedaan kesenangan orang, yaitu ada makanan jenis kebaikan (sattvam), makanan jenis kenafsuan (rajas) dan makanan jenis kegelapan atau kebodohan (tamas). Disebutkan bahwa makanan yang disukai oleh orang-orang yang mantap di dalam sifat kebaikan (sattvam) adalah makanan yang memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberikan kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, mengandung lemak yang cukup bergizi dan menyenangkan hati. Makanan yang disukai oleh orang-orang di dalam sifat nafsu (Rajas) adalah makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras. Makanan seperti itu menyebabkan duka cita, kesengsaraan dan penyakit. Makanan yang disukai oleh orang-orang yang berada dalam sifat kegelapan (Tamas) adalah makanan yang disimpan terlalu lama. Makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makanan orang lain dan bahan-bahan yang tidak dibenarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak mengkonsumsi daging termasuk pengendalian diri, mengendalikan lidah, demikian juga melakukan puasa (upawasa), rasa kasih sayang terhadap semua mahluk, dengan tidak melakukan kekerasan terhadap semua mahluk, itulah prinsip sehat spiritual secara universal hal ini akan mempengaruhi sehat jasmani dan sehat mental.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ajaran Veda (Sanatana Dharma) tersurat banyak sekali perintah-perintah Tuhan dalam purana dan upanisad. Bagawat-gita (5.8), Khrisna menjelaskan bahwa kesempurnaan spiritual mulai ketika seseorang dapat melihat kesamaan semua mahluk hidup, “Orang bijaksana yang rendah diri, dengan pengetahuan yang murni, melihat dengan pandangan yang sama seorang brahmana yang terpelajar, seekor lembu, seekor gajah, seekor anjing, dan pemakan anjing”. Dengan demikian seseorang tidak seharusnya membunuh mahluk hidup lainnya demi kepuasan indria belaka. Landasan moral dan sastra Hindu (Veda) tentang vegetarian bahwa semua mahluk dialam semesta ini adalah merupakan percikan kekal dari Tuhan, bersifat abadi, ada selamanya, seperti diuraikan dalam Bhagavadgita oleh Sri Krishna sebagai sumber segala yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Kitab suci Weda, menekankan anti-kekerasaan sebagai dasar moral vegetarianisme. “Tidak ada daging yang diperoleh tanpa menyakiti mahluk hidup,” demikian dalam Manu-samshita, “Oleh karena itu biarkan seseorang menjauhkan diri dari pemakaian daging.” Pada bagian yang lain, Manu-samshita memperingatkan, “Setelah dengan baik mempertimbangkan sumber daging yang memuakkan dan kekejaman dalam membelenggu dan membantai mahluk hidup, biarkan seseorang berpantang menyantap daging secara total”. Sri Khrisna juga memerintahkan kita untuk menerapkan prinsip vegetarian, Beliau bersabda “Persembahkanlah Aku buah, bunga, daun, air, dengan cinta bakti maka saya akan menerimanya.” (Bg 9.26). berikutnya “PenyembahKu dibebaskan dari semua dosa karena mereka memakan makanan yang terlebih dahulu dipersembahkan untuk yadnya. Yang lainnya, yang menyiapkan makanan untuk kesenangan pribadi, hanya memakan dosa.” Makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan lebih dahulu disebut prasadam, mengkonsumsi prasadam berarti memberi makanan rohani kepada tubuh kita. Dengan menyantap prasadam kita akan memperoleh kemajuan rohani dan dapat mengahpuskan karma-karma tertentu pada kehidupan masa lalu. Ahimsa Paramo Dharmah dapat diartikan sebagai kewajiban suci yang tertinggi, agama atau pelaksanaan agama yang paling tinggi. Hal ini ditegaskan berkali-kali di berbagai kitab suci Veda dengan istilah yang sama atau juga dengan istilah yang berbeda, seperti Ahimsayah pari dharmah Ahimsa laksono dharmah-dharmah Ahimsa parama tapa, Ahimsa parama satya-satya, ini menunjukkan bahwa agama Veda menaruh perhatian yang sangat penting terhadap ajaran anti kekerasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Bali lontar Vrhaspati Tatva dikenal sebagai lontar ke-Saiva-an, ternyata, menurut lontar tersebut, para Saivaism pun perlu melaksanakan ajaran Ahimsa, tidak membunuh dan tentu pula tidak memakannya (ahimsa ngaranya tan pamati-mati). Dalam Manu Smrti menyebutkan bahwa “Mamsah” yang berarti daging pada hakekatnya dinyatakan oleh orang-orang bijaksana berarti “saya dia” yaitu dia yang dagingnya saya telan dalam hidup ini. Dia juga akan menelan saya di kemudian hari”. Hal yang sama juga diakui di dalam kitab Mahabrata “Sekarang dia menelan saya, nanti saya pun akan dimakannya,” &#8212;- mam sa bhaksayate yasmad bhasayaisye tamapyaham.</p>
<p style="text-align:justify;">Agama Hindu amat mementingkan pengembangan cinta kasih bukan hanya kepada sesama umat manusia tetapi kepada sesama makhluk hidup. Kesadaran utama bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar sangat membantu untuk mengembangkan cinta kasih universal. Itulah puncak cinta kasih di dunia ini, merupakan landasan penting untuk mengembangkan prema bhakti atau citna kasih rohani kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi tentang sapi, berdasarkan sastra bahwa sapi merupakan salah satu dari tuju ibu kita, mengapa? Sapi memberikan umat manusia susu yang melimpah melebihi dari kebutuhan untuk anaknya sendiri. Sapi jantan bekerja untuk mengolah tanah pertanian. Walapun diperlakukan dengan keras, dipukuli, dipecut namun sapi tidak pernah marah. Sapi juga memberikan umat manusia kebutuhan pokok yang disebut pancagawiya lima kebutuah yang diperlukan manusia; 1. susu. 2. yoghurt, 3. ghee atau minyak sapi dari susu, digunakan untuk upacara, 4. kencing, dapat dipakai obat, dan 5. kotorannya, digunakan untuk upacara dan juga untuk bahan obat. Bila sapi meninggal dengan alamiah maka ia akan mendapatkan badan dengan kwalitas brahmana kelak. Jadi bila membunuh sapi berarti telah menghambat kelahiran para brahmana. Demikianlah keagungan sapi dalam ajaran Veda.</p>
<p style="text-align:justify;">Rsi Bhisma memberi nasehat kepada Yudisthira, bahwa dengan cinta kasih kepada semua mahluk akan dibebaskan dari rasa takut dari kesulitan yang paling berat, pikiran yang tenang dan membunuh hewan akan menyebabkan umur lebih pendek.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Pandangan Agama Islam</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1995, sebuah Masyarakat Vegan/Vegetarian Muslim dibentuk di Inggris, yang mempromosikan vegetarisme sesuai dengan ajaran Alquran dan menunjukkan bagaimana kebaikan hati dan kewelasasihan kepada binatang adalah kebajikan yang diterangkan secara rinci oleh Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih jauh lagi, terdapat banyak ayat dalam Kitab Suci Alquran di mana Tuhan menekankan penggunaan buah-buahan dan sayur-sayuran untuk kelangsungan hidup, baik kepada manusia maupun kepada binatang (Surah 6:141, 6:151, 16:67, Surah 23:19) dan juga untuk mencapai kesehatan dan lingkungan hidup yang lebih baik bagi umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak ayat dalam Kitab Suci Alquran yang mengacu pada kesucian hidup binatang dan hak-hak binatang yang sederajat untuk hidup dalam damai, mencari Tuhan, dan berkembang menuju kesadaran Tuhan, serta serupa dengan manusia di planet ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tiada makhluk yang merayap di bumi, tiada burung yang terbang dengan sayap-sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat yang serupa dengan kamu. Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam Alquran, kemudian kepada Pemelihara mereka, mereka akan dikumpulkan.” (Surah 6:38).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam terjemahan Hadish oleh Dr. M. Hafiz Syed, pengikut Nabi Muhammad bertanya kepadanya, “Sesungguhnya, apakah ada imbalan untuk melakukan hal baik kepada hewan, dan memberikan mereka minum ?”. Nabi Muhammad menjawab, “Ada imbalan dalam menolong hewan.” Dalam Al Q&#8217;uran terdapat larangan memakan daging binatang yang mati ataupun darah binatang, demikian juga adanya larangan untuk memakan daging dari binatang yang disembelih secara tidak halal (tanpa bismallah). Murid paling terkemuka Nabi Muhammad, kemenakannya sendiri, menasihatkan kepada murid-muridnya, &#8220;Jangan jadikan perut kalian itu kuburan binatang.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tiadalah binatang-binatang yang ada dibumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Alkitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan (Quran 6.38).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu ketika Rasul Allah berkata kepada keponakan-Nya, ‘Ali, Oh Ali, kamu semestinya tidak memakan daging. Jika kamu memakan daging selama 40 hari, maka kualitas itu akan masuk ke dalam dirimu. Karena itu, kualitas kemanusiaanmu akan berubah, kualitas welas asihmu akan berubah, dan inti sari tubuhmu juga berubah.’</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Pandangan Agama Kristiani</span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak isi Injil yang mendukung vegetarianisme sebagai suatu paham, hidup tanpa kekerasan seperti ajaran Yesus. Yesus mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada semua makhluk, tidak hanya kepada manusia, dan ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa Jesus adalah vegetarian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari suatu terjemahan dari Injil yang asli, Kisah dari 12 Rasul, malaikat berkata kepada Maria, “Kamu tidak seharusnya memakan daging ataupun minuman keras, sejak dalam kandungan untuk anak yang akan dimuliakan di hadapan Tuhan, janganlah memakan daging atau meminum minuman keras.” Kisah keajaiban tentang roti dan ikan tidak ditemukan pada dokumen yang terdahulu, hanya menjelaskan adanya keajaiban tentang roti, buah, dan secerek air.</p>
<p style="text-align:justify;">Para vegetarian terdahulu seperti Nazarenes, Therapeuts, Ebionites, Gnostics, dan Essenes, juga Yohanes Pembaptis, semuanya mengikuti ajaran yang mengajarkan hidup tanpa daging. Kenyataannya dalam terjemahan kitab Injil terdahulu tidak ada contoh tentang anjuran atau izin makan daging. Dalam Ensiklopedia Judaica dikatakan bahwa nenek moyang Israel adalah vegetarian, dan kalimat dalam Injil adalah ‘gandum dan arak dan minyak’, tidak ada daging.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji: itulah akan menjadi makananmu.” (Kejadian 1:29)</p>
<p style="text-align:justify;">Kitab Suci Perjanjian Lama memberi perintah, “Jangan membunuh”. (Kitab Keluaran 20:13). Ini biasanya diinterpretasikan sebagai pembunuhan. Kamus lengkap setiap bahasa mengatakan bahwa kata ‘tidak membunuh’ mengacu kepada “segala bentuk pembunuhan”, dan tidak hanya pembunuhan terhadap manusia saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam buku-buku Kitab Suci selanjutnya, para nabi besar melarang penyantapan daging. Lukas (8:55) tertulis bahwa Yesus membangkitkan seorang wanita dari kematiannya dan “memerintah memberikannya makanan.” Kata berbahasa Yunani asli yang diartikan “daging” suatau pengertian yang tidak tepat. Kita dapat juga melihat contoh para Guru Agung terdahulu yang kebanyakan menjalani hidup vegetarian, bahkan dalam bukunya John Davidson, The Gospel of Jesus-In Search of His Original Teachings, diargumentasikan bahwa Nabi Yesus dan murid-murid utamaNya termasuk adikNya, James adalah vegetarian. Demikian juga disabdakan, &#8220;Anda tidak boleh memakan daging yang berdarah sebab kehidupan berada dalam darah.&#8221; (Kitab Kejadian 9:4). Yohanes yang juga dikenal vegetarian karena hanya memakan madu hutan dan locust (sejenis pepohonan berbiji), Dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma tersirat juga pesan vegetarian, &#8220;Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.&#8221; (Roma 14:20-21).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Pandangan Agama Budha</span></p>
<p style="text-align:justify;">Cinta dan welas asih adalah dasar kepercayaan agama Buddha yang paling penting, yang menjadi alasan mengapa banyak pemeluk agama Buddha yang bervegetaris.Sang Buddha sangat menentang makan daging, dikatakan sebagai dosa besar yang harus disingkirkan. Beliau memandang makan daging sebagai dukungan terhadap pembunuhan, yang bertentangan dengan prinsip tanpa kekerasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Agama Buddha percaya bahwa perselisihan antar manusia adalah akibat dari perlakuan manusia terhadap hewan. Jika kita tidak menghargai kehidupan hewan, kita akan kehilangan rasa hormat terhadap kehidupan manusia. Jika kita menjalankan kehidupan vegetaris yang tidak mengandung unsur pembunuhan, membuat kita lebih mudah untuk hidup damai, bahagia, dan mencintai orang lain. Pandangan agama Buddha terhadap hewan dijelaskan dengan sangat gamblang dalam kisah Jakata, yang merupakan reinkarnasi Sang Buddha dalam kehidupan sebelumnya. Kisah ini menunjukkan bahwa membunuh hewan sama dengan membunuh manusia, dengan memerikan contoh bahwa baik Sang Buddha maupun setiap orang, pernah lahir dalam bentuk hewan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya Weda, hukum karma dalam agama Buddha juga menyatakan bahwa mereka yang berbuat kejahatan dan mengakibatkan penderitaan bagi makhluk hidup akan mendapatkan balasan yang sama dalam kehidupannya kelak. Sang Buddha bersabda ; &#8220;Aku memiliki Cinta Kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki duapun Aku memiliki Cinta Kasih. Aku Memiliki Cinta Kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyakpun Aku memiliki Cinta Kasih.&#8221; (Anguttara Nikaya, II, 72). Ketika si nelayan menjawab bahwa namanya adalah Arya, Sang Buddha berkata bahwa para orang mulia (Arya) tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi karena si nelayan membunuh ikan-ikan maka dia tidak layak menyandang nama Arya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sang Buddha, bersabda dalam Dhammapada Atthakatha, 270; &#8220;Seseorang tidak dapat disebut Arya (orang mulia) apabila masih menyiksa makhluk hidup. Dia yang tidak lagi menyiksa makhluk-makhluk hiduplah yang dapat dikatakan mulia. Sang Budha terkenal dengan ajarannya menentang pembunuhan binatang. Dia menetapkan ahimsa (anti-kekerasan) dan vegetarianisme sebagai langkah awal menuju kesadaran diri dan menyatakan; “Janganlah menyembelih lembu yang membajak ladang kalian sendiri,” dan “Janganlah biarkan kerakusan yang melibatkan pembunuhan binatang”.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah banyak lagi kitab suci agama lain yang tidak merekomendasi untuk melakukan pembunuhan terhadap hewan, apalagi untuk kepentingan memuaskan indria.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.bvinstitute.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25&amp;Itemid=29">Sumber: Vegetarian dari Agama sampai Zat Gizi (Oleh: Dr. I Made Wardhana, Sp.KK)</a></p>
<br />Posted in Vegetarian Food Tagged: Agama, Vegetarian <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=317&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/vegetarian-dari-perspektif-agama-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab Weda, Itihasa, dan Purana Mengapa dianggap Mitologi?</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/kitab-weda-itihasa-dan-purana-mengapa-dianggap-mitologi/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/kitab-weda-itihasa-dan-purana-mengapa-dianggap-mitologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 09:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Itihasa]]></category>
		<category><![CDATA[Mitologi]]></category>
		<category><![CDATA[Penciptaan]]></category>
		<category><![CDATA[Purana]]></category>
		<category><![CDATA[Weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[(Diambil dari majalah Sanatana Dharma – Narayana Smrti Ashram Yogyakarta)

    Karena sulit diterima oleh akal sehat dan tidak didukung oleh temuan bukti-bukti yang ilmiah, apa yang dijelaskan dalam kitab-kitab Weda sering disebut sekedar mitologi dan dongeng belaka. Benarkah umat Hindu memuja Tuhan dan dewa yang hanya ada dalam m i t o l o g i ? B a g a i m a n a mengklarifikasi anggapan keliru seperti itu?


Setelah membaca artikel-artikel tentang berbagai ramalan dalam Weda dalam newsleter Sanatana Dharma ini, beberapa pembaca sempat menyampaikan pertanyaan kritis kepada tim redaksi. Pertanyaan itu menyangkut referensi atau buku acuan yang kami gunakan, yaitu kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa. Dalam hampir semua tulisan, kami mengutip ayat-ayat kitab Bhagavata Purana dan Bhagavad-gita guna mendukung dan memperkuat gagasan-gagasan yang kami munculkan. Pertanyaan mereka masalahnya, bukankah sebagai umat Hindu kita telah fasih dan tanpa beban menyebut semua kisah dalam kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa itu adalah semata-mata sebuah mitologi? Tidakkah itu berarti umat Hindu mendasarkan ajaran agamanya hanya pada mitos atau dongeng yang kebenarannya masih perlu diragukan??<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=314&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(Diambil dari majalah Sanatana Dharma – Narayana Smrti Ashram Yogyakarta)</p>
<blockquote><p>Karena sulit diterima oleh akal sehat dan tidak didukung oleh temuan bukti-bukti yang ilmiah, apa yang dijelaskan dalam kitab-kitab Weda sering disebut sekedar mitologi dan dongeng belaka. Benarkah umat Hindu memuja Tuhan dan dewa yang hanya ada dalam m i t o l o g i ? B a g a i m a n a mengklarifikasi anggapan keliru seperti itu?</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Setelah membaca artikel-artikel tentang berbagai ramalan dalam Weda dalam newsleter Sanatana Dharma ini, beberapa pembaca sempat menyampaikan pertanyaan kritis kepada tim redaksi. Pertanyaan itu menyangkut referensi atau buku acuan yang kami gunakan, yaitu kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa. Dalam hampir semua tulisan, kami mengutip ayat-ayat kitab Bhagavata Purana dan Bhagavad-gita guna mendukung dan memperkuat gagasan-gagasan yang kami munculkan. Pertanyaan mereka masalahnya, bukankah sebagai umat Hindu kita telah fasih dan tanpa beban menyebut semua kisah dalam kitab-kitab Purana, Upanisad, dan Itihasa itu adalah semata-mata sebuah mitologi? Tidakkah itu berarti umat Hindu mendasarkan ajaran agamanya hanya pada mitos atau dongeng yang kebenarannya masih perlu diragukan??</p>
<p style="text-align:justify;">Ambillah contoh kitab Bhagavadgita. Bhagavad-gita memuat wejangan rohani yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna menjelang berlangsungnya perang Bharata Yudha, yang konon terjadi sekitar lima ribu tahun yang lalu. Kita semua tahu bahwa Bhagavad-gita sebenarnya adalah bagian dari Bhisma Parwa, salah satu diantara 18 Parwa kitab Mahabharata. Sri Krishna, Arjuna, beserta para Pandawa adalah tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam anggapan sebagian besar masyarakat Hindu sekalipun, Mahabharata tidak lebih daripada sekedar sebuah epos, cerita kepahlawanan yang dikarang oleh Rsi Vyasa. Ketika kita jelaskan bahwa tempat-tempat yang disebutkan dalam kitab Mahabharata saat ini masih bisa kita telusuri lokasinya, orang masih akan menyangkal dan meragukan penjelasan itu. Menurut mereka, Rsi Vyasa terinspirasi oleh nama-nama tempat itu, lantas mengarang cerita fiksi, yang mengambil nama-nama seperti Hastinapura (sekarang New Delhi), Dwaraka, dan lainlain sebagai latar atau setting terjadinya kisah dalam Mahabharata.<span id="more-314"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi, dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, Krishna dan Arjuna dikenal sekedar sebagai tokoh-tokoh wayang. Bahkan, ada orang Jawa yang akan marah besar, kalau dikatakan bahwa Mahabharata berasal dari India. Mereka meyakini, bahwa kisah Mahabharata terjadi di Jawa, dibuktikan dengan adanya nama nama tempat dan gunung di Indonesia yang diberi nama Arjuna, Bima, dan lain-lain. Jadi, mana yang benar? Benarkah ajaran Hindu hanya berdasar pada mitos-mitos dan dongeng yang masih diperdebatkan asal usulnya?<br />
<span class="fullpost"><br />
<span style="font-weight:bold;">Pengertian Mitos dan Mitologi</span></span>
</p>
<p style="text-align:justify;">Apa sebenarnya arti kata mitos dan mitology? Kata mitologi, berasal dari bahasa Inggeris “myth”. Dalam kamus Webster NewWorld College Dictionary 3rd Edition, kata “myth” diartikan sebagai : “1) any fictitious story; or unscientific account, theory, belief, etc 2) any imaginary persons or thing spoken asthough existing.” Artinya : 1) sembarang kisah atau cerita fiksi (tidak nyata/hayalan/dongeng); atau kejadian, teori dan kepercayaan dan lain-lain yang tidak bersifat ilmiah. 2) sembarang orang atau sesuatu yang dianggap seolah-olah benar-benar ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, menurut definisi di atas, kalau orang menyebut Mahabharata, atau Ramayana sebagai mitologi atau mitos, itu berarti bahwa Mahabharata dan Ramayana hanyalah sebuah dongeng, sebuah cerita fiksi, yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi di alam nyata. Bukankah secara ilmiah, tidak ada bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran kisah-kisah Purana itu? Bukankah itu juga berarti uraian tentang dasa awatara (sepuluh awatara Wishnu) dalam Purana- Purana juga tidak lebih dari dongeng? Lantas, apakah dapat disimpulkan bahwa umat Hindu memuja Tuhan dan para dewa yang hanya ada dalam dongeng?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Dari Mana Asal Sebutan Mitologi itu?</span></p>
<p style="text-align:justify;">Melongok asal mula mengapa kitab-kitab Purana dijuluki mitologi, kita akan temukan beberapa alasan. Setidaknya, kami melihat ada 2 alasan. Pertama, kata “Purana” berarti sejarah. Dan memang, kitab-kitab Purana mengandung banyak sejarah tentang kegiatan atau lila Tuhan, para dewa, atau penyembah-penyembah mulia Tuhan. Matysa Purana, misalnya, berisi kisah tentang kemunculan Sri Wishnu yang menjelma sebagai seekor ikan raksasa yang menyelamatkan seorang raja saleh bernama Raja Stayavrata. Kisah ini sebenarnya sangat mirip dengan kisah Nabi Nuh dalam Islam yang juga diselamatkan dari Banjir Besar. Sayangnya, dalam Mastya Purana tersebut tidak disebutkan kapan persisnya peristiwa tersebut terjadi. Padahal, dalam dunia akademik dan ilmiah, adanya angka tahun ini merupakan syarat penting bagi kita untuk percaya bahwa sesuatu peristiwa benar benar terjadi. Tapi jangan merasa kecil hati, karena kalau kita tanyakan kepada umat Islam, kapan terjadinya Banjir Besar itupun, mereka juga akan kesulitan menyebutkan angka tahun yang pasti.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalaupun kemudian kita berikan penjelasan bahwa Matsya Awatara muncul pada jaman Staya Yuga, ratusan juta tahun yang lalu, orang masih akan mendebat dengan menyatakan bahwa menurut Teori Evolusi Darwin, adanya jenis kehidupan seperti kera (belum jadi manusia, lho) baru mulai sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Manusia jenis homo sapien, yang dikatakan sebagai cikal bakal manusia modern seperti kita baru ada sekitar 5 ribu tahun yang lalu. Jadi, bagaimana mungkin telah ada seorang Raja bernama Satyavrata jutaan tahun yang lalu?</p>
<p style="text-align:justify;">Begitupun dengan kisah Mahabharata. Menurut Professor K. Srinivasaraghavan, dalam perhitungan ilmu perbintangan Weda (Jyotishastra), perang di Kuruksetra tersebut terjadi pada tanggal 22 November 3067 Sebelum Masehi. Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan-keterangan waktu yang terdapat dalam ayat-ayat Mahabharata itu sendiri. Namun, angka tahun itu ditolak oleh sebagian kalangan sejarawan Barat, karena menurut Teori Invasi (Penyerangan) bangsa Arya ke Dravida ciptaan Max Muller, bangsa Arya diperkirakan datang ke India baru pada sekitar tahun 1500 SM. Menurut teori yang sudah terlanjur dianggap benar itu, Bangsa Arya lah yang merupakan pembawa Rg Weda ke India. Jadi, kalau teori ini benar, bahkan Weda dan peradaban Hindu tidak murni lahir dari India, melainkan berasal dari wilayah Indo- Jerman, tempat asal bangsa Arya.</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan kedua, julukan mitologi pada Weda tidak dapat kita lepaskan begitu saja dari konteks sejarah penjajahan India oleh Inggeris selama ratusan tahun. Kolonial Inggeris mulai resmi menjajah India sejak mereka memenangkan pertempuran yang dikenal sebagai Battle of Plassey tahun 1757 (Satsvarupa, 1977). Adalah sebuah fakta bahwa penjajahan Inggeris di India dimanfaatkan oleh para misionaris Kristen untuk mengalihkan agama penduduk India dari Hindu menjadi Kristen. Mereka mulai membuka sekolah dan perguruan tinggi Kristen dan menyebarkan propaganda yang menjelek-jelekkan Hindu. Alexander Duff (1806 – 1878) mendirikan Scots College di Calcutta, yang ia cita-citakan menjadi “headquarters for a great campaign against Hinduism” (pusat kampanye besar melawan Hindu). Para misionaris itu tidak segan segan menyebut kitab-kitab Weda sebagai “absurdities meant for the amusement of children” yang artinya “serangkaian takhayul yang dimaksudkan untuk hiburan anakanak”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tujuan besar seperti di atas, mulailah muncul kalangan intelektual Inggeris yang menggangap perlu untuk mendidik orang-orang India dengan ilmu pengetahuan Barat. Upaya itu dimulai dengan lahirnya beberapa orang Inggeris yang mempelajari budaya India dan menguasai bahasa Sanskerta. Terbentuklah sebuah organisasi yang bernama Royal Asiatic Society. Mereka-mereka ini selanjutnya dikenal sebagai “indologists”, yang kemudian menjadi para penterjemah kitab kitab Weda ke dalam bahasa Inggeris. Sir William Jones (1746 – 1794), Charles Wilkins (1749 – 1836), dan Thomas Colebrooke (1756 – 1837) dianggap sebagai para pelopor “indologist”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, mereka adalah orang orang Kristen yang sangat taat dan terpelajar, sehingga tujuan mereka menterjemahkan kitab-kitab Weda ke dalam bahasa Inggeris bukannya tanpa maksud tertentu. Mereka sadar bahwa tidaklah mudah untuk mengubah keyakinan orang India terhadap tradisi turun temurun mereka yang bersumber pada kitab-kitab Weda. Karena itulah, mereka berpendapat bahwa satu-satunya cara adalah menunjukkan kepada orang orang India bahwa kitab Weda yang mereka yakini tidak lebih dari sekedar takhayul, dongeng, dan mitologi yang tidak masuk akal.</p>
<p style="text-align:justify;">William Jones misalnya, menyebut Bhagavata Purana sebagai “kisah saduran” dan ia berspekulasi bahwa Bhagavata sebenarnya meniru Gospel Kristen yang dibawa ke India, dan bahwa Kesava (nama lain Krishna) sebenarnya adalah Apollo pahlawan Yunani. Teori ini telah terbukti salah, karena berbagai temuan arkeologi yang berhubungan dengan legenda Krishna menunjukkan bahwa Krishna telah ada jauh sebelum agama Kristen lahir (lihat newsleter Sanatana Dharma berjudul “Legenda Krishna, Menyadur Kisah HidupKristus?”).</p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh Indologist lain yang sangat besar pengaruhnya pada kesan masyarakat dunia terhadap Weda adalah Frederich Max Muller (1823 – 1900). Muller adalah ahli bahasa Sanskerta asal Jerman yang kemudian bekerja pada East India Company, dan dipercaya untuk menterjemahkan kitab Rg Veda ke dalam bahasa Inggeris. Muller inilah yang kemudian menciptakan teori “Legenda Arya” dan “Invasi bangsa Arya ke Dravida.” dengan mendasarkan argumentasinya pada ayat-ayat dalam kitab Rg Veda itu sendiri. Bahwa ada sebuah suku bangsa Arya yang telah memiliki peradaban yang tinggi, berasal dari kawasan Iran. Bangsa Arya ini hidup berpindah-pindah, berperang dan menaklukkan suku bangsa lainnya, termasuk suku bangsa Dravida berkulit hitam, yang merupakan suku asli India.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan, buku-buku tentang Hindu dan Weda yang bertebaran di perpustakaan dunia saat ini, yang berbahasa Inggeris, adalah hasil terjemahan dan tulisan para indologist tersebut dengan maksud menjelekjelekkan Hindu, dan mengharap orang beralih menjadi Kristen. Karena itulah, tidak mengherankan kalau orang-orang mengenal kitab Weda sebagai mitologi dan dongeng, karena mereka membaca buku-buku yang memang ditulis untuk misi-misi khusus pada masa itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Weda Bukan Mitologi!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas, jelas menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk paling tidak meyakinkan diri kita sendiri, sebelum meyakinkan orang lain, bahwa Weda khususnya Itihasa dan Purana, bukan sekedar mitologi. Bagaimana caranya?</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, berhubungan dengan bukti-bukti ilmiah yang sering dianggap tidak memadai untuk mendukung kebenaran sejarah Weda. Dalam Weda, disebutkan bahwa ada berbagai metode atau cara yang dapat kita tempuh untuk memperoleh pengetahuan. Salah satunya adalah pratyaksa, yang berarti persepsi langsung dengan mengandalkan indera kita sebagai alat utamanya. Metode kedua adalah anumana, yaitu pengambilan kesimpulan (inferensi). Metode yang lain disebut sabdha, atau mendengar dari sumber yang dibenarkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ketiga metode itu, ilmu pengetahuan modern lebih di dasarkan pada dua metode yang pertama, yaitu pratyaksa dan anumana. Sebaliknya, Weda lebih mendasarkan pada metode sabdha, mendengarkan dari penguasa atau sumber rohani. Yang dimaksud penguasa disini bukanlah sebuah rezim yang dictator atau pun seorang raja atau pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak. Ambillah contoh sebuah buku. Orang yang paling paham dengan maksud yang ada dalam buku itu, adalah sang penulis buku itu sendiri. Dalam hal ini, penulis itu disebut sebagai penguasa (authority) bagi buku itu</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan pengetahuan rohani atau spiritual, Weda menolak penggunaan metode pratyaksa dan anumana. Mengapa? Karena pratyaksa pramana mengandalkan pada kemampuan indera kita dalam menangkap atau memahami sesuatu. Sedangkan indera-indera kita jelas-jelas memiliki banyak kelemahan. Kita tidak bisa melihat benda yang terlalu dekat, atau benda yang terlalu jauh. Dalam ilmu fisika, banyak sekali dipelajari tentang kelemahan mata, telinga, dan kulit kita. Meskipun kemudian kita menciptakan alat-alat untuk membantu penglihatan dan pendengaran kita, akan tetapi jangan lupa bahwa alat-alat itupun kita buat dengan menggunakan indera yang tidak sempurna. Alat-alat itu digunakan oleh manusia yang inderanya tidak sempurna, dan dianalisa oleh orang yang inderanya tidak sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menyadari bahwa pratyaksa memiliki banyak kelemahan, para ilmuwan sekarang mengandalkan metode anumana , yang kadang mengarah pada spekulasi, interpolasi,interpretasi untuk mengambil kesimpulan mengenai hal-hal yang tidak dapat diamati secara langsung oleh panca indera manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh nyata spekulasi itu adalah teori tentang penciptaan alam semesta. Manusia adalah makhluk yang serba terbatas, dan hidup hanya di satu planet bumi ini. Ada jutaan planet di alam semesta ini, dan mungkin jutaan galaxy, yang kita tidak pernah mengetahuinya. Umur manusia pendek, hanya ratusan tahun, dan ilmu pengetahuan modern juga baru berkembang beberapa ratus tahun terakhir ini. Namun demikian, para ilmuwan itu telah berani dengan lantang menyatakan kepada kita, apa yang telah terjadi jutaan tahun yang lalu. Mereka menyimpulkan bahwa alam semesta tercipta karena adanya sebuah ledakan besar yang disebut dengan Big Bang Theory. Bukankah tidak seorang ilmuwanpun yang hadir dan menyaksikan pada saat alam semesta tercipta? Kalau ada pihak pihak yang meragukan atau mempertanyakan kebenaran teori itu, maka akan dilabeli dengan sebutan dogmatis, tidak scientific, penganut agama yang fanatik, sentimentalis, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-weight:bold;">Big Bang Theory = Uraian Weda</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang marilah kita coba bandingkan, apa yang diuraikan dalam Weda yang sering dianggap sebagai takhayul atau mitologi, dengan hasil temuan terakhir para ilmuwan mengenai terciptanya alam semesta. Anehnya, apa yang akhir-akhir ini ditemukan oleh para ilmuwan itu, semuanya telah dijelaskan dalam Weda beribu-ribu tahun sebelum para ilmuwan menyadarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun-tahun terakhir ini, ilmuwan fisika dan astronomi mengusulkan teori terbaru terciptanya alam semesta. Mereka menyebut teori itu Big Bang Theory. Teori ini muncul bermula dari pengamatan ahli astronomi Edwin Hubble pada tahun 1920-an (Cremo, 2003) yang menemukan fakta bahwa alam semesta ini seolah mengembang. Ada penjelasan teknis yang cukup rumit mengenai hal ini, yang menyangkut panjang gelombang dan spectrum cahaya. Secara sederhana, terbukti bahwa cahaya yang terpancar dari berbagai galaxy yang ditangkap oleh bumi kita ini makin lama makin besar panjang gelombangnya. Ini menunjukkan bahwa jarak antara bumi dan galaxy – galaxy itu semakin jauh, artinya alam semesta ini mengembang! Galaxy-galaxy itu dapat diibaratkan sebagai bintik-bintik warna yang terdapat pada kulit balon mainan anak-anak yang terus menerus ditiup. Bila balon ditiup, lama-kelamaan, bintikbintik warna pada kulit balon itu akan memiliki jarak yang makin besar satu sama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan temuan ini, para ahli astronomi dan ahli fisika mengemukakan sebuah teori, bahwa alam semesta ini mulai muncul sebagai sebuah fluktuasi quantum mechanical vacuum, atau mekanika kuantum kosong, yang secara mudah digambarkan sebagai lautan energi yang tak terdefinisikan. Menurut teori itu, pada tahap awal alam semesta ini dalam bentuk benih alam semesta (seedlike universes) yang sangat-sangat kecil, padat, dan sangat panas. Lalu dalam waktu singkat ia menggelembung dengan pesat, kemudian seiring dengan proses mengembang itu, benih alam semesta tersebut dipenuhi dengan plasma yang super panas ( superhot plasma).</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mengembang dalam kurun waktu lama, dan juga mengalami pendinginan, plasma-plasma bersuhu tinggi tersebut memadat menjadi sub partikel unsure-unsur hydrogen, helium, dan deuterium. Proses-proses selanjutnya, yang memakan waktu jutaan tahun, membuat bahan-bahan itu menjadi planet, bintang, dan galaxy, lalu terbentuklah alam semesta yang kita huni saat ini. Soal kapan persisnya hal itu terjadi, para ahli itu tak mampu menjelaskannya. Dalam teori itu, para ilmuwan juga mengusulkan bahwa alam semesta memancar dan mengembang dari sebuah lubang putih (white hole), kemudian akan mengalami penyusutan dan masuk ke dalam lubang hitam (black hole). Jadi, white hole memunculkan alam semesta, lalu black hole menelan alam semesta itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan uraian asal usul alam semesta menurut Weda? Dalam Bhagavata Purana dan Brahma Samhita dijelaskan sebagai berikut: Diluar konsep ruang dan waktu seperti yang kita pahami saat ini, Maha-Vishnu berbaring di lautan Karana (Lautan Penyebab). Dari pori-pori Maha-Vishnu ini bermunculanlah “benih-benih alam semesta” yang jumlahnya tak terhingga. Ketika Maha-Vishnu memandang benih benih itu, memberikan energi kepada elemen tersebut dengan energi Beliau, maka mereka mulai mengembang dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dalam masing-masing alam semesta, perlahan lahan terbentuklah unsur-unsur alam, mulai dari yang paling ringan hingga yang lebih berat. Dan alam semesta terus menerus mengembang. Alam semesta-alam semesta tersebut eksis dalam kurun waktu satu kali nafas Maha-Vishnu. Saat Maha- Vishnu mengeluarkan nafas alam semesta diciptakan, dan pada saat Beliau menarik nafas, alam semesta dileburkan (Cremo, 2004 : 465).</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan bahwa baik Big Bang Theory maupun uraian Weda mengenai asal usul alam semesta memiliki banyak persamaan. Big Bang Theory juga mengusulkan adanya lautan energi yang tidak dapat dipahami sebagai sumber munculnya alam semesta. Kitab Weda juga menyatakan hal yang sama. Beberapa ahli kosmalogi mengusulkan bahwa ada white hole yang “memuntahkan” alam semesta, dan ada black hole yang menelan alam semesta pada suatu masa. Weda juga menyebutkan bahwa alam semesta muncul dan terserap ke dalam lubang, dalam hal ini adalah pori-pori kulit Maha-Wishnu. Keduanya juga menyebutkan bahwa pada tahap awal terjadi proses mengembang yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Big Bang Theory dan uraian Weda sama-sama menyatakan bahwa pada saat terjadinya proses mengembang, alam semesta memancarkan cahaya radiasi, keduanya menyatakan bahwa alam semesta terus menerus mengembang, dan sama-sama menyebutkan bahwa proses itu melibatkan alam semesta yang jumlahnya tidak terhingga.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, perbedaannya keduanya juga tampak jelas. Uraian Weda menyatakan bahwa penciptaan alam semesta itu terjadi melalui campur tangan Tuhan dalam wujudnya sebagai Maha- Vishnu, sedangkan teori Big Bang menyatakan alam semesta “dimuntahkan” dari lautan energi, yang kalau ditanya lebih jauh, apa dan bagaimana asal mula energi itu juga akan bungkam. Mereka akan menjawab bahwa energi itu ada begitu saja….tanpa ada kecerdasan ilahi (divine intelligent) yang mengatur dibalik semua proses tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Disinilah letak tidak adilnya para ilmuwan modern yang mengkritik Weda. Ketika kita jelaskan bahwa alam semesta ada karena diciptakan oleh Tuhan, maka mereka akan bertanya : “Lalu, siapa yang menciptakan Tuhan?” Kalau kita jawab “Tuhan itu ada begitu saja tanpa ada yang menciptakan, dan takterdefinisikan, sebab dari segala sebab, sumber segala sesuatu”, para ilmuwan itu akan menyebut kita dogmatis, fanatik, dan tidak scientific. Tapi lihatlah, bukankah mereka juga berbuat dogmatis ketika mereka mengusulkan Big Bang Theory, dan teori-teori lainnya? Ambillah contoh, ketika kita tanyakan darimana asalnya “lautan energi” yang mereka sebut sebagai sumber pelontar “benih benih” alam semesta itu? Dari mana asalnya white hole dan black hole…yang menjadi “pelontar” dan “penelan” alam semesta itu? Mereka juga akan menjawab “lautan energi itu ada begitu saja, terjadi secara kebetulan, tanpa ada yang menyebabkan….” Nah, bukankah itu tidak menyelesaikan masalah??? Bukankah mereka mulai dari tengah tengah, bukan dari asal usul alam semesta itu sendiri? Bukankah seharusnya, kalau mereka menyebut “asal-usul” alam semesta, mereka harus bisa menjelaskan asal-usul lautan energi yang menjadi sumber munculnya alam semesta itu? Ilmuwan itu juga menyebut bahwa “benih” alam semesta yang belum mengembang itu bersifat “immeasurably small, dense, and hot” yang artinya baik ukuran, sifat padat, maupun panasnya tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan secara matematis. Dan karena mereka scientist, kita dipaksa percaya begitu saja dengan penjelasan mereka, yang sebenarnya juga sama dengan jawaban kita saat mereka bertanya siapa yang mengadakan Tuhan…Bukankah itu juga dogmatis? Bukankah itu juga mitologi??</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika Mr. Carl Sagan, seorang ahli kosmologi melakukan show di sebuah TV di Amerika. Dengan bantuan animasi dan simulasi komputer, Mr. Sagan mempresentasikan semua teori yang dikemukakan oleh para ahli fisika astronomi saat ini. Dijelaskannya tentang panjang gelombang cahaya galaxy yang terus bertambah, alam semesta mengembang, teori Big Bang, efek Dopler, dan sebagainya. Para pemirsa terkejut, ketika menjelang akhir acaranya Mr. Sagan terlihat berada di India, berdiri di depan sebuah temple Krishna yang telah berusia ribuan tahun. Mr. Sagan berkata “Para ilmuwan menemukan semua teori yang telah saya paparkan tadi tahun-tahun akhir ini saja, sedangkan di sini, di India, orang sudah mengetahui informasi itu sejak ribuan tahun yang lalu, dari kitab-kitab Weda…” (Danavir Gosvami, 2002). Uraian di atas hanya salah satu bukti dan sanggahan bahwa Weda bukan mitologi. Masih banyak bukti lain, yang akan kami bahas pada edisi-edisi mendatang. Banggalah menjadi Hindu!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-style:italic;">Referensi :<br />
1. Michael Cremo. 2003. Human Devolution, A Vedic Alternatif to Darwin’s Theory<br />
Los Angeles, Torch Light Publishing, Bhaktivedanta Book Trust<br />
2. Professor K. Srinivasaraghavan, 2003. Searching for Historical Krishna. Artikel<br />
dalam http://harekrishna.cz.<br />
3. Danavir Gosvami (2002). Jurnal Vaishnava Society, Vol 5. Rupanuga Vedic College,<br />
Kansas City</span></p>
<br />Posted in Artikel, Filsafat Tagged: Agama, Itihasa, Mitologi, Penciptaan, Purana, Weda <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=314&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/09/kitab-weda-itihasa-dan-purana-mengapa-dianggap-mitologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita ini Bukan Badan</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/kita-ini-bukan-badan/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/kita-ini-bukan-badan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 13:53:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Sain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[dehi nityam avadhyo 'yam dehe sarvasya bharata

tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi

“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk makhluk apapun”. (Bg.2.30).

Langkah pertama dalam keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan. Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,” tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badan jasmani. Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang dasar sebagai kesadaran yang suci.

Kalau kita masih mempunyai pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh itu.
<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=311&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><strong><span>dehi nityam avadhyo &#8216;yam dehe sarvasya bharata</span></strong></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span lang="SV">tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi</span></em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk makhluk apapun”. (Bg.2.30).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Langkah pertama dalam keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan. Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,” tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badan jasmani. Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang dasar sebagai kesadaran yang suci.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Kalau kita masih mempunyai pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh itu.<span id="more-311"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Adanya kesadaran tidak dapat ditolak. Sebuah tubuh tanpa kesadarannya adalah mayat. Selekas kesadaran itu diambil dari badan, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, dan kuping tidak bisa mendengarn. Anak-anak pun dapat mengerti hal itu. memang benar bahwa, adanya kesadaran merupakan syarat mutlak untuk menggerakkan badan. Apa artiny kesadaran itu ? Seperti halnya pemanas atau asap merupakan gejala-gejala dari api, begitu pula kesadaran merupakan gejala dari roh. Tenaga dari roh atman dihasilkan dalam bentuk kesadaran. Memang, adanya kesadaran membuktikan adanya roh. Filsafat ini tidak hanya disebut dalam Bhagavad-gita saja, tetapi juga merupakan kesimpulan dari semua Pustaka Suci Veda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Para penganut Sankaracarya yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, beserta pula para Vaisnava yang mengikuti garis perguruan rohani dari Sri Krsna, mengakui adanya roh sebagai kenyataan, tetapi ada suatu golongan ahli Filsafat yang tidak mengakui adanya roh. Penganut-penganut Filsafat tersebut menyatakan bahwa, pada suatu tingkatan kombinasi dari unsur-unsur alam menghasilkan kesadaran, tetapi pendapat itu terbukti salah oleh kenyataan bahwa, walaupun segala bahan-bahan alam tersedia, kita tidak dapat menghasilkan kesadaran dari unsur-unsur itu. semua unsur alam barang kali ada dalam sebuah mayat, tetapi kita tidak sanggup menghidupkan mayat itu sehingga menjadi sadara. Badan ini tidak seperti mesin. Apabila suatu bagian dari sebuah mesin menjadi rusak, maka bagian itu dapat titukar, dan mesin itu dapat bekerja lagi. Tetapi apabila badan menjadi rusak dan kesadaran keluar dari badan, maka tidak mungkin kita menukar bagian badan yang rusak dan menghidupkan kembali kesadarannya. Roh itu lain daripada tubuh, dan selama roh masih ada, badan bisa bergerak, tetapi tidak mungkin menggerakkan badan kalau tidak ada roh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh karena kita belum dapat melihat roh dengan memakai indria-indria kita yang kasar, kita tidak mengakui adanya roh. Banyak sekali hal-hal yang diluar kesadaran kita, namun hal-hal itu benar-benar ada, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita belum bisa melihat udara, siaran radio, suara, ataupun bakteri-bakteri yang sangat kecil dengan memakai indria-indria kita yang kasar. Tetapi ini tidak berarti hal-hal tersebut tidak ada. Dengan memakai mirkoskop dan alat-alat yang lain, banyak sekali benda-benda yang dapat dilihat, padahal adanya benda-benda itu dahulu kala tidak diakui oleh indria-indria yang kurang sempurna. Hendaknya kita jangan menarik kesimpulan bahwa tidak ada roh yang ukurannya sekecil atom hanya karena roh belum dapat dilihat oleh indria-indria ataupun dengan memakai alat-alat. Akan tetapi adanya roh itu dapat dimengerti dari gejala-gejala dan hasi-hasilnya.</span></span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam Bhagavad-gita Sri Krsna menunjukkan bahwa, segala kesengsaraan disebabkan karena kita mempersamakan diri dengan badan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">agamapayino &#8216;nityas tams titiksasva bharata</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikana halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg. 2.14).</span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Pada musim panas barangkali ktia bersenang hati kena air, tetapi pada musim dingin kita menghindari air yang sama, karena terlau dingin. Baik pada musim panas maupun pada musim din gin, airnya sama saja, tetapi kita merasakan bahwa air itu menyenangkan atau menyakitkan karena hubungannya dengan badan. Segala perasaan keduka-citaan dan kesenangan disebabkan oleh badan. Asal saja ada keadaan yang tertentu, badan dapat merasakan kesenangan dan keduka-citaan. Sebenarnya kita rindu akan kebahagiaan karena kedudukan roh yang dasar ialah kedudukan kebahagiaan. Roh-roh adalah bagian-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai isifat yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa bersifat sac-ideology-ananda-vigrahan. Yaitu, perwujudan dari pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Memang nama Krsna, yang tidak hanya dimiliki satu kelompok tertentu, berarti, kebahagiaan yang paling tinggi”. Krs adalah sarinya kebahagiaan, dan kita sebagai bagian-bagian dari Beliau yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau, kita pun rindu akan kebahagiaan. Satu tetes air laut mempunyai segala sifat dari lautan yang luas, demikian pula kita mempunyai sifat-sifat tenaga yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa, padahal kita hanya bagian-bagian yang kecil sekali dari Keseluruhan Yang Utama, Tuhan Yang Maha Esa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sungguhpun roh sangat kecil sekali seperti atom, namun roh lah yang menggerakkan badan sehingga badan itu banyak bertindak dengan cara yang ajaib. Alangkah banyaknya kota-kota, jalan raya, jembatan, gedung yang tinggi, tugu dan peradaban yang agung yang kita lihat di dunia, tetapi siapakah yang membuat segala-galanya itu ? Segala-galanya dibuato leh bunga api rohani yang sangat kecil, yang berada didalam badan. Kalau keajaiaban-keajabain seperti yang tersebut diatas dapat dilakukan oleh bunga api rohani yang sangat kecil, maka kita belum dapat membayangkan apa yang dapat dicapai oleh Keseluruhan Rohan Yang Paling Utama. Keinginan yang wajar bagi bunga api rohani yang kecil ialah keinginan untuk mendapatkan sifat-sifat dari keseluruhan, yaitu pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Tetapi keinginan-keinginan tersebut sekarang dialang-alangi karena badan jasmani. Keterangan tentang cara mencapai apa yang diinginkan oleh roh itu diberikan dalam Bhagavad-gita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sekarang ini kita berusaha untuk mencapai kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan dengan cara memakai alat yang kurang sempurna. Sesungguhnya kemajuan kita menuju pada tujuan-tujuan tersebut dialangi-alangi oleh badan jasmani, karena itu kita harus menginsafi kehidupan kita diluar badan tidaklah cukup. Kita harus selalu menjaga agar diri kita menyediri dari badan dan mengendalikan badan, janganlah kita menjadi hamba untuk badan. Kalau kita sudah tahu cara mengemudi mobil dengan baik, maka mobil itu akan melayani kita dengan baik, tetapi kalau kita belum tahu cara mengemudikan, maka kita berada dalam keadaan bahaya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Badan terdiri dari indria-indria, dan indria-indria selalu haus akan obyeknya. Mata melihat orang yang cantik atau tampan, kemudian memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada gadis yang cantik, disana ada lelaki yang tampan. Marilah kita kesana untuk melihat.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Telinga memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada musik yang bagus. Marilah kita pergi mendengar musik itu”. Lidah mengatakan “Disana ada restoran yang bagus yang menghidangkan makanan yang lezat. Marilah kita kesana”. Seperti itulah indria-indria menarik diri kita dari suatu tempat ketempat yang lain, dan karena itu kita menjadi bingung.</span></span></span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">indriyanam hi caratam yan mano’ nuvidhiyate</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">“Bagaikan kapal diatas air dibawah pergi oleh angin yang keras, begitu juga kecerdasan seseorang dapat dibawah pergi bahkan oleh satu saja diantara indria-indria yang menjadi pusat perhatian bagi Pikiran”. (Bg. 2.67).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kita harus belajar cara mengendalikan indria-indria. Gelar gosvami diberikan kepada orang yang sudah mengetahui cara menklukan indria-indria. Go berarti “indria-indria, dan svami berarti “pengendali, demikian orang yang dapat mengendalikan indria-indria disebut gosvami. Krsna menunjukkan bahwa, orang yang mempersembahkan dirinya dengan badan jasmani yang bersifat khalayan, dia tidak dapat menjadi mantap dalam identitasnya yang benar, yaitu, sebagai roh atau atman. Kebahagiaan jasmani berkelip-kelip dan memabukkan, dan kita tidak dapat menikmati kebahagiaan jasmani karena sifatnya sementara saja. Kebahagian yang sejati berasal dari roh atau atman, bukan dari badan. Kita harus membentuk kehidupan kita supaya kita tidak akan disesatkan oleh kebahagiaan jasmani. Bagaimanapun kalau kita disesatkan, maka tidak mungkin kesadaran kita dijadikan mantap dalam identitasnya yang sejati, yaitu lain daripada badan.</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">bhogaisvarya-prasaktanam ta yapahrta-cetasam</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">trai-gunya-visaya veda nistrai-gunyo bhavarjuna</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">nirdvandvo nitya-sattva-stho niryoga-ksema atmavan</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Orang-orang yang pikirannya terlau terikat dengan kepuasan indria-indria dan kekayaan duniawi sehingga pikirannya menjadi bingung karena hal-hal itu, mereka tidak dapat bertambah hati dengan mantap untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Veda pada umumnya menguraikan tentang tiga sifat alam (tri-guna), O Arjuna. Atasilah tiga sifat alam itu. atasilah semuanya. Lepaskanlah diri anda dari segala hal yang relatif dan kecemasan akan keuntungan dan keselamatan, dan menjadi mantap pada Paramatma (Roh Yang Utama)”. (Bg. 2.44-45).</span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kata Veda berarti “buku ilmu pengetahuan.” Ada banyak buku pengetahuan yang lain sesuai dengan negeri, penduduk, lingkungan, dan sebagainya. Di India, Kita-kitab Pengetahuan disebut Veda. Di negara-negara Barat, Kitab-Kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Quran. Apa maksud daripada semua Kitab-kitab tersebut ialah melatih kita agar kita dapat mengerti kedudukan kita sebagai roh-roh yang bersifat suci. Maksudnya ialah mengendalikan kegiatan jasmani dengan aturan-aturan yang tertentu disebut norma-norma moril. Misalnya dalam Kitab Injil ada sepuluh perintah yang dimaksudkan untuk mengatur kehidupan. Badan harus dikendalikan agar kita dapat mencapai kesempurnaan yang paling tinggi, dan tanpa prinsip-prinsip untuk mengatur, tidak mungkin ktia menyempurnakan kehidupan kita. Aturan-aturan mungkin berbebda diantara satu negeri dan negeri yang lain, atau diantara salah satu Kitab Suci dan Kitab Suci yang lain, tetapi itu tidak menjadi soal sebab peraturan-peraturna tersebut dibuat sesuai dengan zaman, keadaan dan mental rakyat (desa, kala, patra). Tetapi prinsipnya sama saja, yaitu, pengendalian secara tertatur. Begitu pula pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk dituruti oleh penduduk negara. Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan ataupun dalam peradaban tanpa ada peraturan-peraturan. Dalam sloka yang disebut diatas, Sri KRsna memberitahukan kepada Arjuna bahwa, aturan-aturan dalam Veda dimaksudkan untuk mengendalikan tiga sifat alam, yaitu sattva (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan) traigunya-visaya vedah). Akan tetapi, Krsna memberi nasehat kepada Arjuna agar Arjuna menjadi mantap dalam kedudukannya yang dasar sebagai roh diluar hal-hal yang relatif dari alam duniawi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebagaimana ditunjukkan tadi, hal-hal relatif tersebut, seperti misalnya, panas dan dingin, rasa senang dan rasa sakit, timbul karena hubungan indria-indria dengan obyek-obyeknya. Dengan kata lain, hal-hal tersebut muncul karena seseorang mempersamakan dirinya dengan badan. Krsna Menerangkan bahwa, orang yang gemar akan kenikmatan dan kewibawaan dipengaruhi oleh kata-kata dari Veda yang menjanjikan kebahagian dan kenikamtan di svarga dengan cara melakukan pengorbanan dan kegiatan yang teratur. Kenikmatan adalah hak asasi kita, sebab itu merupakan sifat dari roh, tetapi roh itu berusaha menikmati secara duniawi, dan inilah kesalahannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Semua orang mencari kenikmatan dalam hal-hal duniawi dan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang menjadi ahli ilmu kimia, ada yang menjadi ali ilmu fisika, ahli politik, ahli seni rupa, dan lain-lain. Seorang orang mengetahui banyak tentang sesuatu hal, dan juga mengetahui sekedar tentang segala hal, dan inilah yang biasanya disebut pengetahuan. Tetapi ketika kita meninggalkan badan, segala pengetahuan tersebut akan hilang. Dalam penjelmaan dahulu, mungkin seseorang pernah menjadi orang yang sangat berpenegetahuan, tetapi selama penjelmaan ini dia harus mulai lagi dengan masuk sekolah dan belajar cara membaca dan menulis dari dasar-dasarnya. Orang-orang sudah lupa akan segala pengetahuan yang didapatinya selama penjelamaannya yang dahulu. Sebenarnya kita mencari pengetahuan yang kekal, tetapi pengetahuan yang kekal itu tidak dapat diperoleh dengan badas jasmani ini. Kita semua mencari kebahagiaan melalui badan-badan ini, tetapi kenikmatan jasmani bukan kenikmatan yang sejati. Kenikmatan jasmani bersifat tiruan saja. Kita harus mengerti bahwa, kalau kita ingin melanjutkan kenikmatan tiruan tersebut, maka kita tidak akan dapat mencapai kedudukan kita yang kekal, yaitu, kedudukan dimana kita menikmati untuk selamanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Harus dianggap bahwa badan itu adalah seperti keadaan sakit. Orang yang sakit tidak dapat menikmati sesuatu secara layak. Misalnya, orang yang sakit kuning merasakan manisnya gula sebagai pahi, tetapi orang yang sehat dapat merasakan anisnya gula itu. baik bagi orang yang sakit, maupun bagi orang yang sehat, gula nya sama saja, tetapi sesuai dengan keadaan kita rasanya lain. Kalau pengertian kehidupan jasmani yang telah diumpamakan sebagai keadaan sakit belum disembuhkan, maka tidak mungkin kita merasakan manisnya kehidupan rohani. Kalau kita belum sembuh dari pengertian tersebut, maka kehidupan rohan rasanya pahit bagi kita. Pada waktu yang sama, dengan meningkatkan kenikmatan kita dari kehidupan duniawi, kita semakin memperparah keadaan sakit. Orang yang sakit tyupus tidak boleh makan makanan yang padatr. Kalau seseorang memberi makanan yang padat kepada si penderita agar dia menikmati, kemudian si penderita makan makanan itu, maka dia menyebabkan penyakit itu menjadi semakin parah dan membahayakan keselamtan si penderita. Kalau kita benar-benar ingin bebas dari penderitaan duniawi, maka kita harus mengurangi kebutuhan dan kenikmatan kita yang bersifat jasmnai. Sebenarnya kenikmatan duniawi itu sama sekai bukan kenikmatan. Kenikmatan yang sejati tidak ada habis-habisnya. Dalam Mahabharata ada sebuah sloka yang berbunyi : ramante yogino, nante, yang berarti bahwa, para yogi (yogino) yang berusia untuk naik tingkat sampai tingkatan rohani, sebenarnya mereka menikmati (ramante), tetapi kenikmatan itu bersifat anante, yaitu tidak ada habis-habisnya. Ini karena kenikmatan para yogi ada hubungannya dengan Yang Maha Menikmati (Rama), yaitu, Sri Krsna. Sebenarnya Bhagavan Sri Krsna yang menikmati, dan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita :</span></span></span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><strong><span lang="SV">bhoktaram yajna-tapasam sarva-loka-mahesvaram</span></strong></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><strong><span lang="SV">suhrdam sarva-bhutanam jnatva mam santim rcchati</span></strong></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">‘Para resi yang mengetahui bahwa akhirnya Aku yang menikmati hasil dari segala pertapaan dan pengorbanan (yajna), bahwa Aku Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua planet-planet dan dewa-dewa, dan bahwa Aku teman baik bagi setiap makhluk hidup, merekalah yang mencapai kedamaian bebas dari sedihnya kesengsaraan duniawi. (Bg. 5.29).</span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Bhoga berarti “kenikmatan”, dan kenikmatan kita berasal dari pengertian tentang kedudukan kita, yaitu, bahwa kita dinikmati. Sebenarnya yang menikmati ialaha Tuhan Yang Maha Esa, dan kita semua menikmati oleh Beliau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Sebuah contoh daripada hubungan tersebut dapat ditemui di dunia ini, yaitu, hubungan antara suami dan isteri, sang suami yang menikmati (purusa), dan sang isteri yang dinikmati (prakrti). Kata pri berarti “wanita”. Purusa, atau kerohanian, adalah subyek, dan prakrti, atau alam, adalah obyek. Akan tetapi suami-istri keduanya berpartisipasi dalam kenikmatan. Apabila kenikmatan benar-benar ada, maka tidak ada perbedaan, misalnya bahwa suami lebih menikmati atau istrinya kurang menikmati. Walaupun lelaki yang lebih berkuasa, tidak ada perbedaan dalam rangka menikmati. Dalam skala yang lebih luas, tidak ada makhluk hidup yang menikmati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tuhan Yang Maha Esa tenaga-Nya menjelma menjadi banyak, dan kita ini penjelmaan-penjelmaan itu. Tuhan adalah satu yang tiada duanya, tetapi Beliau ingin supaya tenaga-Nya menjadi banyak supaya Beliau dapat menikmati. Kita sudah mengalami bahwa, kalau kita duduk sendirian di kamar bercakap-cakap dengan diri sendiri, hampir tidak ada kenikmatan. Akan tetapi, kalau ada lima orang, maka kenikmatan kita ditingkatkan, dan apabila kita dapat bercakap-cakap tentang Krsna bersama banyak orang, maka kenikmatannya lebih tinggi lagi. Kenikmatan berarti keaneka-warnaan. Tenaga Tuhan menjadi banyak demi kenikmatan Beliau, demiian kedudukan kita ialah sebagai “yang dinikmati. Walaupun Krsna yang menikmati dan kita yang dinikmati, semua dapat berpartisipasi dalam kenikmatan secara merata. Kenikmatna kita dapat disempurnakan apabila kita berpartisipasi dalam kenikmatan Tuhan. Tidak mungkin menikmati sendiri pada bidang-bidang jasmani. Dalam banyak sloka dari Bhagavad-gita dinasihati supaya orang jangan menikmati secara dunaiwi pada tingkatan badan jasmani yang kasar.</span></span></span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">agamapayino &#8216;nityas   tams titiksasva bharata</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikan halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg.2.14).</span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Badan jasmani yang kasar adalah akibat dari hal saling mempengaruhi dari tiga sifat alam, dan sudah ditakdirkan bahwa badan itu akan dibinasakan.</span></span></span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">antavanta ime deha nityasyoktah saririnah</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">anasino prameyasya tasmad yudhyasva bharata</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Yang dapat dibinasakan hanyalah tubuh dari makhluk hidup, dan makhluk hidup itu sendiri bersifat kekal, tidak dapat termusnahkan ataupun diukur ukurannya. Demikian, bertempurlah anda O putra dari keluarga Bharata. (Bg.2.18).</span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demikian Sri Krsna memberi semangat kepada kita agar kita mengatasi pengertian kehidupan yang jasmani dan agar kita mencapai kehidupan rohani yang sejati.</span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><em><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">gunan etan atitya trin dehi deha-samudbhavan</span></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">janma-mrtyu jara-duhkhair  vimukto &#8216;mrtam asnute</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:3.75pt 0;" align="center"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Apabila makhluk yang berbadan dapat mengatasi tiga sifat tersebut, yaitu, kebaikan, nafsu dan kebodohan, maka ia dapat bebas dari kelahiran, kematian masa tua dan penderitaannya dan bahkan selama kehidupan ini pun ia dapat menikmati amrta. (Bg. 14.20).</span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Supaya kita dapat menjadi mantap pada tingkatan rohani yang disebut brahma-bhuta, diatas tiga sifat ala, kita harus memulai cara Kesadaran Krsna. Berkat dari Sri Caitanya Mahaprabhu, yaitu, cara mengucapkan nama-nama Krsna-Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare mempermudah cara tersebut. Cara ini disebut bhakti-roga atau mantra-yoga dan mantra itu dipergunakan oleh para rohaniawan yang paling agung. Bagaimana para rohaniawan insaf akan identitasnya diluar kehalhiran dan kematian, diluar badan jasmani, serta bagaimana mereka memindahkan dirinya keluar dari alam semesta sampai alam semesta rohani, itulah yang merupakan mata pembicaraan dalam bab-bab berikut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:3.75pt 0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">(dikutip Dari Buku ”Diluar Kelahiran &amp; Kematian” karangan Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada ; Acharya dan Pendiri dari International for Krishna Consciousness).**</span></span></p>
<br />Posted in Filsafat, Sains Tagged: Artikel, Vedanta dan Sain <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/311/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/311/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=311&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/kita-ini-bukan-badan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tri Guna &#8220;Tiga Sifat Alam Material&#8221;</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/tri-guna-tiga-sifat-alam-material/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/tri-guna-tiga-sifat-alam-material/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 13:51:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Vedanta dan Sain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ilmu Fisika modern—Fisika Klasik, Quantum Mekanistik, dan Holistik—salah satu istilah yang paling sering digunakan adalah “hukum alam”. Sejak jaman Einstein, para ilmuwan mencari suatu Grand Unified Theory yang akan memadatkan semua “hukum-hukum alam” menjadi sebuah formula yang universal yang menjelaskan baik materi maupun kesadaran. Cukup menarik, dalam bahasa Sansekerta kami menemukan kesulitan untuk mencari padanan kata bagi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=309&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam ilmu Fisika modern—Fisika Klasik, Quantum Mekanistik, dan Holistik—salah satu istilah yang paling sering digunakan adalah “hukum alam”. Sejak jaman Einstein, para ilmuwan mencari suatu Grand Unified Theory yang akan memadatkan semua “hukum-hukum alam” menjadi sebuah formula yang universal yang menjelaskan baik materi maupun kesadaran. Cukup menarik, dalam bahasa Sansekerta kami menemukan kesulitan untuk mencari padanan kata bagi</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">istilah “hukum alam”. Kata-kata bahasa Sanskerta seperti </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">hetu (dalam Bhagavad-gita</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">9.10), yang berarti suatu prinsip yang menyebabkan,” secara langsung menunjuk kepada hukum-hukum alam, namun kata ini sangat langka. Akan tetapi ada sebuah kata dalam teks-teks metafisik Sanskerta yang penggunaannya sama seringnya dengan istilah “hukum alam” di dalam ilmu fisika modern. Kata itu adalah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">guna, biasanya diterjemahkan menjadi <span> </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">“sifat alam material.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam ilmu Fisika modern—Fisika Klasik, Quantum Mekanistik, dan Holistik—salah satu istilah yang paling sering digunakan adalah “hukum alam”. Sejak jaman Einstein, para ilmuwan mencari suatu Grand Unified Theory yang akan memadatkan semua “hukum-hukum alam” menjadi sebuah formula yang universal yang menjelaskan baik materi maupun kesadaran. Cukup menarik, dalam bahasa Sansekerta kami menemukan kesulitan untuk mencari padanan kata bagi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">istilah “hukum alam”. Kata-kata bahasa Sanskerta seperti </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">hetu (dalam Bhagavad-gita</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">9.10), yang berarti suatu prinsip yang menyebabkan,” secara langsung menunjuk kepada hukum-hukum alam, namun kata ini sangat langka. Akan tetapi ada sebuah kata dalam teks-teks metafisik Sanskerta yang penggunaannya sama seringnya dengan istilah “hukum alam” di dalam ilmu fisika modern. Kata itu adalah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">guna, biasanya diterjemahkan menjadi <span> </span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">“sifat alam material.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Kata bahasa Inggris “mode” (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi sifat) berkonotasi paling tepat dengan kata bahasa Sanskerta </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">guna (sifat alam material). </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">&#8220;Mode&#8221; berasal dari bahasa Latin </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">modus, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">dan kata ini diterapkan secara khusus dalam filsafat Eropa. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Modus </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">berarti “ukuran”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kata ini digunakan untuk membedakan dua aspek:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Alam material</strong>: </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">yang tidak bisa diukur (yang disebut </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">natura naturans, alam yang kreatif/ the creative nature) dan yang bisa diukur </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(yang disebut </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">natura naturata, alam </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">yang diciptakan/ the created nature). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Alam kreatif</strong> adalah substansi rohani yang tunggal yang melalui sifat-sifat mewujudkan alam yang diciptakan, dunia material fisik dan mental. Karena tidak bisa diukur (tanpa sifat), energi kreatif tidak dipahami oleh manusia. <span id="more-309"></span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Alam yang diciptakan bias diukur karena memiliki sifat-sifat, dan kita benar-benar bisa memahaminya. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Modus juga berarti “cara bertindak.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Ketika alam kreatif bertindak, ia menerima sifat-sifat tindakan sehingga bisa diukur dan dengan demikian bisa dimengerti. Bab empat belas dari </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavad-gita </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(ayat 3-5) memberikan penjelasan rangkap dua yang serupa tentang alam material sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">mahat yoni, sumber sumber </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">kelahiran, dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">guna prakrti, yang bertindak melalui sifat-sifatnya. Alam </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">material sebagai sumber kelahiran juga diistilahkan dengan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">mahad brahman, </span></em></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Brahman yang besar atau tidak dapat diukur. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Mahad brahman </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">adalah alam sebagai substansi kreatif yang bersifat rohani, yang merupakan material cause (sebab material) dari segala sesuatu. &#8220;Material cause&#8221; adalah sebuah istilah yang umum baik dalam filsafat Eropa (sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">causa materialis) maupun </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">filsafat Vedanta (sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">upadana karana) yang berarti sumber </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">bahan-bahan yang membentuk ciptaan. Kita mendapatkan contoh tentang sebab material dari kata Sanskerta </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">yoni, yang </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">secara harfiah berarti rahim. Rahim ibu menyediakan bahan-bahan untuk pembentukan embrio. Demikin juga, alam kreatif yang tidak dapat diukur menyediakan bahan-bahan untuk pembentukan dunia material di mana kita tinggal, di alam yang diciptakan yang dapat diukur. Kejelasan dari contoh ini menimbulkan sebuah pertanyaan: bagaimana dengan sang ayah, yang pasti terlebih dahulu menyuntikkan benih ke dalam rahim sebelum rahim itu bisa bertindak sebagai sebab material? Pertanyaan ini dijawab oleh Krishna, yang menyabdakan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavadgita, bab 14 ayat</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">4: </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">aham bija pradah pita, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">&#8220;Aku adalah ayah pemberi benih.&#8221; Dalam filsafat Vedanta, faktor penyeba ini diistilahkan sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">nimitta-matram </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(the remote cause/penyebab jauh). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Penting untuk dicatat bahwa dengan menyatakan bahwa ciptaan sebagai hasil dari gabungan dua sebab (sebab material dan penyebab jauh), </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavad-gita </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">menolak filsafat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Deus sive natura, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">&#8220;the identity of God and nature/Tuhan dan alam adalah sama.&#8221; Singkatnya, walaupun alam material diterima sebagai sebab langsung dari ciptaan, namun ia bukanlah sebab ciptaan yang mandiri. Benih yang disuntikkan oleh Krishna ke dalam rahim dari alam yang kreatif adalah terdiri dari </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">sarva-bhutanam, semua makhluk hidup (Bhagavad-gita </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">14.3). </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hal ini mengungkapkan kehalusan yang luar biasa dari pengertian Veda mengenai alam material, sehingga jika dibandingkan maka konsep hukum-hukum alam akan menjadi terbatas dan relatif. Kitab-kitab Veda menginformasikan kepada kita bahwa alam semesta material adalah sebuah ciptaan multidemensi, dan setiap dimensi memiliki hukumnya masing-masing. Adalah sebuah spekulasi liar dari para ilmuwan duniawi jika menganggap bahwa hukum-hukum yang dilihat “di sini“ bisa diberlakukan di seluruh alam semesta— namun kebanyakan orang menerima kepercayaan ini sebagai sebuah prinsip yang aksiomatis. Hukum-hukum alam, seperti gravitasi, entrofi, dan elektromagnetisme, adalah terbatas sampai dimensi-dimensi tertentu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Kita harus siap untuk mengakui bahwa ada sesuatu atau makhluk hidup yang terbebas dari hukum-hukum ini. Namun tidak ada seorang dan sesuatupun di dalam dunia material ini yang terbebas dari </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">guna—sifat-sifat alam: </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">&#8220;Tidak ada makluk apapun, baik yang berada di sini maupun di antara dewa-dewa di susunan planet yang lebih tinggi, yang bebas dari sifat-sifat ini yang lahir dari alam material.” (</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavadgita</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">18.40) </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavad-gita</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">14.5 menjelaskan bahwa pada saat Krishna memasukkan para jiwa ke dalam rahim alam material, kesadaran mereka terkondisi oleh sifat-sifat alam, </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">tri-guna. </span></em></span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;" align="justify"><em></em><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Sifat-sifat ini terdiri dari tiga ukuran interaksi antara jiwa yang memiliki kesadaran dan materi yang tidak sadar. Sifat-sifat ini bisa diumpamakan seperti tiga warna utama, kuning, merah dan biru, sedangkan kesadaran bisa dibandingkan sinar yang terang. “Terkondisinya” (</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">nibhadnanti) kesadaran pada saat ia masuk ke </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">dalam rahim alam material bisa dibandingkan dengan tampilan cahaya dari sinar ketika ia menembus sebuah prisma. Warna kuning melambangkan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">sattva-guna, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">sifat kebaikan. Sifat ini adalah suci, bercahaya, dan tanpa dosa. Sifat kebaikan mengikat sang roh dengan indra kebahagiaan dan pengetahuan. Warna merah melambangkan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">rajo-guna, sifat nafsu, penuh dengan </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">hasrat dan keinginan. Akibat pengaruh nafsu para jiwa sibuk dalam pekerjaan untuk meraih prestasi material. Warna biru melambangkan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">tamo-guna, sifat kebodohan, yang mengikat sang roh </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">kepada kegilaan, kelambanan dan tidur. Seperti halnya tiga warna utama bergambung untuk membentuk banyak macam warna, begitu juga tiga sifat alam (</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">tri-guna) menghasilkan banyak macam </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">keadaan kesadaran yang terkondisi yang mencakup seluruh makhluk hidup di alam semesta material. </span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Istilah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">tri-loka </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">sering ditemukan dalam kitab-kitab Veda. </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Tri-loka </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">berarti “tiga dunia.” Alam semesta dibagi oleh tiga sifat menjadi tiga dunia, atau tingkat kesadaran: </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">bhur, bhuvah </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">svar </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(daerah kasar, daerah halus dan daerah surga). Di </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">svargaloka </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">atau planet-planet surga, tinggal mahluk-mahluk yang memiliki kehebatan melebihi manusia di bumi yang dikenal sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">devata, yang menikmati hidup hampir </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">tak terbayangkan oleh manusia di bumi. Di daerah halus terdapat hantu-hantu dan mahluk-mahluk halus. Dan di alam kasar atau bumi terdapat manusia dan mahluk-mahluk lain dengan badan-badan berurat dan berotot, termasuk binatang dan tumbuhtumbuhan. Terdapat daerah di bawah bumi di mana para asura yang kuat tinggal. Dan ada daerah yang dikenal sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">naraka, neraka. Sebagaimana </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">dijelaskan dalam </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavad-gita</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">3.27, para jiwa yang tinggal di daerah-daerah kesadaran material ini secara keliru menganggap dirinya sebagai pelaku dari kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik maupun mental yang sebenarnya dilakukan oleh tiga sifat alam material. Pernyamaan diri yang keliru ini disebut sebagai </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">ahankara, atau keakuan palsu. Keakuan palsu adalah akar </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">keterikatan kita di dunia material.</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Penjelasan yang mendetail dari tiga jenis keakuan palsu dijelaskan oleh Krishna kepada Uddhava. Ajaran ini dicatat dalam skanda sebelas </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Bhagavata Purana / Srimad-Bhagavatam. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Dengan keakuan asli dalam sifat kebaikan (yang secara teknis disebut </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">vaikaraka), </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">mahluk hidup mempersamakan dirinya dengan pikiran. Apakah pikiran itu. Pikiran adalah media bayangan halus yang diumpamakan seperti cermin dari sang jiwa. Dengan sifat kebaikannya yang alamiah, pikiran adalah media yang cocok untuk merefleksikan kebenaran mutlak yang kekal. Namun pikiran juga bisa merefleksikan objek indria-indria dan dengan demikian menjadi terpesona terhadap penampilan dunia material yang bersifat sementara. Oleh karena itu </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Amrtabindu Upanisad </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">menyatakan, “Bagi manusia, pikirannya adalah penyebab dari keterikatannya dan pikirannya juga adalah penyebab dari pembebasannya.” Dengan keakuan palsu dalam sifat nafsu (</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">aindriya </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">atau </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">taijasa), sang roh mempersamakan dirinya dengan indria-indria fisik </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">dan kecerdasan kreatif dengan mana indria-indria dipekerjakan secara ahli. Dengan keakuan palsu dalam sifat kebodohan (</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">tamasa), sang jiwa </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">mempersamakan dirinya dengan objek-objek yang dirasakan melalui indra-indra fisik, misalnya: apa yang didengar, apa yang dirasakan, apa yang dilihat, apa yang dikecap dan apa yang dicium. </span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Krishna</span><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;"> mengatakan bahwa keakuan palsu adalah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">cid-acin-mayah, yang meliputi baik sang roh maupun materi, karena ia </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">mengikat </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">cid </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(roh yang memiliki kesadaran) kepada </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">acid </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">(materi yang tidak memiliki kesadaran). Pengembangan kebaikan alamiah dari pikiran adalah intisari dari metode </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">yoga menurut Veda, yang disimpulkan oleh Krishna sebagai berikut: </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">“Pikiran bisa dikendalikan apabila ia dipusatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Setelah mencapai keadaan yang mantap, pikiran menjadi bebas dari keinginan-keinginan kotor untuk melakukan kegiatan-kegiatan material; demikianlah seiring sifat kebaikan menjadi semakin kuat, orang akan bisa sepenuhnya terbebas dari sifat nafsu dan kebodohan, dan secara berangsur-angsur bahkan melampaui sifat kebaikan yang bersifat material. Ketika pikiran telah bebas dari bahan bakar sifat-sifat alam, maka api kehidupan material akan bisa dipadamkan. Lalu sang jiwa akan mencapai tingkatan rohani hubungan langsung dengan objek meditasinya, Tuhan Yang Maha esa . &#8220;( </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">S r i ma d &#8211; Bhagavatam</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">11.9.12), Tingkat rohani hubungan langsung dari sang jiwa dengan Tuhan Yang Mahaesa adalah keadaan mutlak. bagaimana para </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">yogi merasakan hal ini dijelaskan d a l a m S r i m a d &#8211; Bhagavatam</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">11.14.45. “Ia melihat roh-roh individual menyatu dengan Roh Yang Utama, seperti halnya orang melihat sinar matahari menyatu sepenuhnya dengan bola matahari. &#8221; Matahari adalah </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">jyotisi, sumber cahaya.</span></em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">Demikian juga, Krishna, Roh Yang </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">Utama, adalah sumber dari cahaya kesadaran dari seluruh mahluk hidup. Sinar matahari terbentuk dari foton, yaitu bagian cahaya yang sangat kecil. Demikian juga, setiap roh individual (yang secara tehnik disebut </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">jiva-atma ) adalah unit kesadaran yang sangat kecil. Kata Sanskerta yoga berarti “hubungan” melalui bhakti-yoga </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">( </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Italic;">yoga </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:ChaparralPro-Regular;">pengabdian yang suci murni), kesadaran dari roh individual berhubungan dengan sumbernya, Krishna. Inilah yang dinamakan kesadaran Krishna. Dengan kesadaran Krishna, sang roh melepaskan dirinya dari pengaruh tiga sifat alam dan kembali kepada Tuhan. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:11pt;font-family:ChaparralPro-Light;">Bibliografi </span><span style="font-size:8pt;font-family:ChaparralPro-Light;">—Diterjemahkan dari http://www.iskcon.org</span></span></p>
<br />Posted in Sains Tagged: Artikel, Vedanta dan Sain <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=309&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/03/06/tri-guna-tiga-sifat-alam-material/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malamnya deva Siva</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/22/malamnya-deva-siva/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/22/malamnya-deva-siva/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 14:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Siva]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bentuk apapun bentuk Siva Lingam yang bisa ditemukan di bumi ini, pada hari keempatbelas di malam bulan mati pada bulan palguna ( January- Februari ), saat itu, deva Siva ( Hara), pemimimpin para deva, akan hadir ( masuk) di dalam lingam tersebut. Karena itu, hari siva ratri ini merupakan hari yang sangat dicintai oleh tuhan Sri Hari

( hari bhakti vilas, adhyaya 14 - sloka ke 200, kutipan dari skanda purana, bagian Nagara Khanda)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=297&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/01/sivamain.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-296" title="siva" src="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/01/sivamain.jpg?w=297&#038;h=387" alt="siva" width="297" height="387" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">yani kany atra lingani</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">sthavarani carani ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="PT-BR">tesu sankramate devas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="PT-BR">tasyam ratrau yato harah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">siva ratris tatah prokata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV">tena sa hari vallabhah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Dalam bentuk apapun bentuk Siva Lingam yang bisa ditemukan di bumi ini, pada hari keempatbelas di malam bulan mati pada bulan palguna ( January- Februari ), saat itu, deva Siva ( Hara), pemimimpin para deva, akan hadir ( masuk) di dalam lingam tersebut. Karena itu, hari siva ratri ini merupakan hari yang sangat dicintai oleh tuhan Sri Hari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">( hari bhakti vilas, adhyaya 14 &#8211; sloka ke 200, kutipan dari skanda purana, bagian Nagara Khanda)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span lang="SV"><span> </span>Kehidupan beragama adalah kehidupan yang dimaksudkan untuk mengatur tindakan, <span> </span>perkataan dan pemikiran ( kayika vacika manacika ca). di dalam kehidupan beragama khususnya bagi para pengikut Veda, pertapaan merupakan suatu yang sangat penting untuk melatih seseorang untuk mengendalikan ketiga hal tersebut diatas untuk membantu seseorang hidup disiplin sehinga mampu mengatur dirinya sendiri. </span>Tanpa seseorang menjalani kedisiplinan di dalam hidup, maka meskipun seseorang berada di dalam badan sebagai manusya, seseorang tidak akan mampu mengangkat karakternya kedalam katagori sebagai manusya. Dengan demikian, meskipun berbadan manusya, namun jika tidak memiliki karakter manusya, maka saastra menyebutkan orang seperti itu sebagai “dvi-pada-pasu” atau binatang berkaki dua. <span id="more-297"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span lang="SV">Mengembangkan karakter manusya bagi umat manusya merupakan hal yang sangat penting di dalam masyarakat. Dengan demikian, kesusatran veda sangat menekankan dan berkali kali mengingatkan umatnya untuk mengambil tindakan untuk mengembangkan karakter yang baik. Untuk mendidik umat secara umum dan pada saat yang sama umat akan menikmati activitas yang bertujuan untuk mengembangkan karakter yang baik di dalam diri mereka,<span> </span>kesusastraan veda menguraikan berbagai festival dan menganjurkan umat untuk mengikuti festival tersebut. Salah satu contoh dari festival tersebut adalah Siva ratri. Ada berbagai festival yang diuraikan di dalam kesusastran Veda yang di anjurkan untuk dirayakan seperti kemenangan dharma( dikenal Galungan di Bali atau dasara-vijaya dasami di India), nyepi, Janmastami, depavali dll. Semua festival ini dimaksudkan untuk membantu seseorang untuk mengembangkan kedisiplinan dan juga mengembangkan sikap kerja sama dengan sesama manusya di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>Kenapa dengan merayakan festival, seseorang akan bisa mengembangkan karakter seseorang? Untuk mengerti uraian ini, pertama tama seseorang harus mengerti makna dan tujuan dari festival. Seperti misalnya hari Siva Ratri. Ada berbagai versi di dalam purana tentang hari Siva Ratri yang pada dasarnya memberi hikmah yang sama. apakah sebenarnya hari sivaratri tersebut? Di dalam satu versi, seperti yang di jelaskan seperti di dalam sloka pertama di atas bahwa deva Siva, pada hari keempat belas<span> </span>tepatnya di malam bulan mati, beliau memasuki setiap bentuk Linga yang ada di alam semesta ( khususnya di bumi) karena tepat di hari ini, beliau di kutuk oleh seorang resi supaya alat kelamin beliau jatuh ke bumi. Linga sebenarnya melambangkan alat kelamin dewa siva yang jatuh ke bumi untuk memberikan kesempatan kepada para pemujanya untuk berhubungan lebih dekat dengan beliau. Di dalam uraian lain juga di uraikan bahwa hari siva ratri ini adalah hari munculnya deva Siva dari amarah deva Brahma. Ketika beliau muncul dari amarah deva Brahma,<span> </span>tangisan beliau menggentarkan seluruh alam semesta karena itu beliau juga di kenal dengan nama Rudra (orang yang menangis). Yang tidak kalah penting, yang di kenal oleh banyak masyarakat Hindhu, hari ini merupakan hari dimana<span> </span>deva Siva melakukan meditasi untuk kesejahtraan alam semesta. Karena hari Siva ratri merupakan hari yang sangat special bagi deva Siva, siapapun yang melakukan tapa vrata di hari ini akan di anugrahi berkat sesuai dengan keinginan mereka oleh deva Siva. Pada saat yang sama, sambil mengadakan tapa vrata, hendaknya festival juga di laksanakan dengan meriah, seperti permainan drama yang berhubungan dengan kegiatan kegiatan tuhan yang diuraikan di dalam purana dan kesusastraan lainnya, mendengarkan wejangan wejangan suci dari kitab suci atau porang suci, tarian tarian dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span lang="SV">Di hari Siva ratri ini, seseorang juga dianjurkan untuk mengikuti vrata berpuasa sepenuh hari, tidak tidur semalaman dan tdak berbicara hal hal yang diluar percakapan rohani ( atau istliahnya hindari ngerumpi). Dengan berpuasa sehari dan tidak tidur di malam hari ini, maka secara otomatis seseorang akan mendapatkan banyak waktu luang untuk melakukan kegiatan kegiatan spiritual dibandingkan dengan hari hari biasa. Hal yang sangt penting yang perlu digaris bawahi disini adalah monovrata. Monovrata hendaknya dimengerti bahwa seseorang mestinya tidak berbicara hal hal yang duniawi paling tidak pada hari ini, bukan tidak berbicara sama sekali. Sudah tentu, akan lebih baik untuk tidak berbicara sama sekali dari pada membicarakan hal hal yang non-sense di hari suci. Namun hal yang lebih mulia lagi adalah hindari pembicaraan duniawi dan mengacu pada pembicaraan rohani seperti mendiskusikan kitab suci dan kegiatan rohani tuhan yang maha esa sesuai dengan yang diuraikan di dalam sastra. Sudah tentunya tidak setiap orang diharapkan untuk mengikuti pertapaan yang sama, namun seseuai dengan keadaan fisik seseorang. Kalau berpuasa akan menyebabkan seseorang jatuh sakit dan lemah sehinga akhirnya tidak mampu melakukan kegiatan spiritual seperti bersembahyang dan ikut di dalam mendengarkan wacana suci, untuk orang seperti itu dianjurkan untuk tidak melakukan puasa karena kegiatan sembahyang dan mengikuti upacara lebih penting dari berpuasa. Di sini letak keluesan sastra terhadap umat pengikut sastra Veda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dengan mengikuti festival festival seperti ini, secara otomatis, kegiatan sseorang akan diatur oleh pihak yang lebih tingi khusunya oleh ketentuan sastra. Dengan demikian sseorang bisa melatih kedisiplinan di dalam dirinya masih masing. Selain itu, festival festival seperti ini juga dimaksudkan untuk seseorang mengenang kesalahan yang mereka telah lakukan dan akan berusaha untuk menghindari kesalahan atau kegiatan berdosa di masa yang akan datang. Festival juga dimaksudkan untuk seseorang belajar untuk bekerja sama dengan masyarakat secara umum untuk menjaga keserasian di dalam masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span lang="SV">Perayaan suatu festival tidak dimaksudkan untuk memuaskan indria indria individu tapi untuk memuaskan kepribadian tuhan yang maha esa. Sangat disayangkan sekali, banyak orang menyalahgunakan dan mengatas namakan hari suci untuk menikmati kepuasan indria yang tidak dianjurkan di dalam sastra. Karena seseorang mesti bergadang semalam suntuk, seseorang mengunakan kesempatan ini untuk berjudi, mabuk-mabukan, bermain keluar malam malam dengan pasangan dll. Hari suci dimaksudkan untuk menjalankan dharma bukan untuk menghancurkan pilar dharma. Di dalam kitab veda diuraikan bahwa ada empat pilar utama Dharma dan empat pilar utama Adharma. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><strong><span lang="SV">tapah saucam daya satyam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><strong><span lang="SV">iti pada krte krtah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><strong><span lang="SV">dyutam panah striya sunah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center"><strong><span lang="SV">yatra adharma catur vidhah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span> </span>”Pertapaan, kebersihan( kesucian), cinta kasih, dan kejujuran merupakan sifat umum di jaman satya yuga ( dimana dharma masih berdiri kokoh). Berjudi, mabuk mabukan, berjinah dan pembunuhan ( termasuk pembunuhan binatang yang tidak diperlukan yang meskipun dengan atas nama yajna) merupakan empat pilar adharma. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span lang="SV"><span> </span>Berdasarkan ajaran ini, karena perayaan suci merupakan perayaan yang menyimbulkan kejayaan Dharma, kalau seseorang melaksanakan kegiatan adharma, maka itu sama dengan menghina dan mencemari hari tersebut.<span> </span>Dengan demikian, seseorang mesti mengerti dan berusaha untuk menghindari perjudian, perjinahan (hubungan kelamin di luar nikah atau hubungan sex di dalam berbagai bentuk di luar nikah merupakan suatu perjinahan), mabuk mabukan dan pembunuhan ( termasuk pembunuhan terhadap binatang yang tidak diperlukan). Dengan menghindari keempat kegiatan berdosa tersebut, maka seseorang akan mampu membawa diri seseorang ke dalam kedudukan kebaikan sehinga seseorang akan lebih mudah untuk mengontrol diri. Tanpa seseorang mampu mengontrol diri,merupakan hal yang mustahil untuk menjadi orang yang disiplin. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Namas tu rudräya parvaté-pataye</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">” sembah sujud Lord Rudra, suami dari ibu parvaté”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Om tat sat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Däsa Bhagiratha</span></p>
<br />Posted in Artikel Tagged: Siva <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=297&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/22/malamnya-deva-siva/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/01/sivamain.jpg?w=230" medium="image">
			<media:title type="html">siva</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Flood In Sri sri Gouracandra ashram Gora bumi-Lombok</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/14/flood-in-sri-sri-gouracandra-ashram-gora-bumi-lombok/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/14/flood-in-sri-sri-gouracandra-ashram-gora-bumi-lombok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 08:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Flood]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Our  temple Gouracandra ashram in Gora bumi-Lombok, Indonesia was flooded Saturday 10 january 2009. With water 2 meter in high.  Fortunately our Deities and devotees in ashram save. Brahmacarini ashram is torn by the flood. The kitchen also mess, arati paraphernalia n deities cloth lost,etc. So we need your help to make the service run like before. Thank you very much for your attention. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=288&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Hare Krishna</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Dear Prabhus/Matajis,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Our<span> </span>temple Gouracandra ashram in Gora bumi-Lombok, Indonesia was flooded Saturday 10 january 2009. With water 2 meter in high.<span> </span>Fortunately our Deities and devotees in ashram save. Brahmacarini ashram is torn by the flood. The kitchen also mess, arati paraphernalia n deities cloth lost,etc. So we need your help to make the service run like before. Thank you very much for your attention. <a href="http://www.flickr.com/photos/34402829@N08/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-293" title="disini-air-tingginya-sampai-2-mter" src="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/01/disini-air-tingginya-sampai-2-mter.jpg?w=552&#038;h=412" alt="disini-air-tingginya-sampai-2-mter" width="552" height="412" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Money can transfer into my bank account BRI Rek. No 0570-01-010561-53-1 unit Cakranegara Mataram. I Wayan Artana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Your servant </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;">Ayodya Pati das</span></p>
<br />Posted in Artikel Tagged: Flood <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=288&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2009/01/14/flood-in-sri-sri-gouracandra-ashram-gora-bumi-lombok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gaurangga.files.wordpress.com/2009/01/disini-air-tingginya-sampai-2-mter.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">disini-air-tingginya-sampai-2-mter</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KALISANTARANA UPANISAD</title>
		<link>http://gaurangga.wordpress.com/2008/12/10/kalisantarana-upanisad/</link>
		<comments>http://gaurangga.wordpress.com/2008/12/10/kalisantarana-upanisad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 10:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gaurangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gaurangga.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Harih Om. Tersebutlah pada akhir zaman dvapara, maha Resi Narada datang menghadap dewa Brahma dan bertanya, “Wahai Bhagavan, Guruku yang mulia, dengan berkeliling-keliling di dunia ini, bagaimanakah caranya agar hamba mampu melepaskan  diri dari pengaruh zaman kali?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=281&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Harih Om. Tersebutlah pada akhir zaman dvapara, maha Resi Narada datang menghadap dewa Brahma dan bertanya, “Wahai Bhagavan, Guruku yang mulia, dengan berkeliling-keliling di dunia ini, bagaimanakah caranya agar hamba mampu melepaskan  diri dari pengaruh zaman kali?</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span id="more-281"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Dewa Brahma selanjutnya menjawab. “Pertanyaanmu adalah pertanyaan yang sangat baik, apa-apa yang seluruhnya Sruti Sastra ( Rg Veda, yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda, dan lain-lain ) tersimpan secara rahasia dan rohani, dengarlah hal itu dengan baik, dengan nama engkau akan mampu menyeberangi kesengsaraan pada zaman Kali berupa kelahiran dan kematian berulang kali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Hanya dengan mengucapkan Nama-nama suci Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Narayana, akan mampu menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali”. Maha Resi Narada kembali bertanya sebagai berikut, “Nama suci manakah yang anda maksudkan itu?”. Selanjutnya dewa Brahma menjawab : (1) hare, (2). Rama, (3). Hare, (4). Rama, (5). Rama, (6). Rama, (7). Hare, (8). Hare, (9). Hare, (10). Krsna, (11). Hare, (12). Krsna, (13). Krsna, (14). Krsna, (15). Hare, (16). Hare. Keenam belas Nama-nama Suci tuhan Yang Maha Esa ini menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk dalam zaman Kali. Sama sekali tidak ada cara lain yang lebih ampuh daripada ini yang dapat ditemukan di dalam seluruh literatur Veda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Ini (keenem belas Nama-nama Suci Tuhan Yang Maha Esa) menghancurkan penutup dari sang atma (roh) berupa enam belas Kala. Kemudian barulah sang atma dapat menunjukkan sinar aslinya : Barulah Parambrahma bagaikan sang surya bersinar terang benderang dengan hilangnya sang awan. Kembali Maharesi Narada bertanya, “Guruku yang mulia, apakah aturan peraturan untuk mengucapkan Nama-nama Suci Tuhan Yang Maha Esa ini?” dewa Brahma menjawab. “Sama sekali tidak ada aturan peraturan (yang khusus) mengucapkan ke enam belas Nama-nama Suci Tuhan Yang Maha Esa ini. Setiap saat, apakah seseorang dalam keadaan suci atau tidak suci, dia dapat mengucapkannya. Dengan mengucapkan Nama-nama Suci Tuhan Yang Maha Esa ini, orang akan mampu mencapai Moksa atau pembebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut :</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Salokya </strong> : Dapat Tinggal dialam rohani yang sama dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Samipya</strong> : bisa tinggal di dekat Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Sarupya</strong> : bisa mendapat bentuk yang sama dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong>Sayujna</strong> : dapat bersatu dengan Brahma jyoti atau sinar dari Kepribadian Tuhan Yang <strong>Maha Esa</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Jika seseorang ber JAPA atau mengucapkan Nama-nama Suci tuhan Yang Maha Esa ini sebanyak tiga setengah koti (35.000.000), maka dia akan dibebaskan dari dosa-dosa akibat membunuh brahmana, dosa akibat membunuh perwira, dosa akibat mencuri emas. Dia juga akan dibebaskan dari dosa-dosa akibat dari kesalahan/penghinaan terhadap leluhur, para dewa, Tuhan dan kesalahan terhadap manusia atau orang lain. Dia akan di bebaskan dengan segera dari dosa-dosa akibat meninggalkan segala dhrma atau kewajiban-kewajiban suci yang telah di tetapkan. Dia akan mendapatkan kesucian segera di bebaskan, segera dibebaskan.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Demikianlah upanisad ini. Harih Om tat sat.Om sa ha navavatviti santih.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Demikian berakhirlah upanisad mulia penghancur-penghancur pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Penjelasan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Nama upanisad ini adalah Kalisantarana Upanisad, artinya adalah ajaran-ajaran “rahasia” yang dimaksudkan khusus untuk melindungi  orang-orang dari pengaruh buruk zaman Kali. Ini termasuk dari bagian-bagian Upanisad-upanisad kelompok Krsna Yajur Veda atau yajur Veda Hitam</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Kali, artinya pertengkaran, kekalutan, kesemrawutan. ‘Santarana”, artinya menyeberangkan. Kata Upanisad berasal dari kata Upa+ni+sad (duduk), berarti duduk berkeliling di dekat guru untuk mendengarkan ajaran-ajaran tentang keinsyafan diri. Upanisad juga mengandung pengertian Pengetahuan Rahasia. Rahasia dalam arti tidak sembarang orang yang mampu menerimanya dan tidak sembarang orang mempu melaksanakannya. Kali Santarana Upanisad berarti ajaran-ajaran rahasia yang khusus dimaksudkan untuk membantu membebaskan orang dari pertengkaran , kekalutan, kegelapan, kebodohan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Ajaran-ajaran rahasia seperti itu berjumlah 108 buah, yang sudah kita terima secara turun temurun sejak zaman dahulu kala. Salah satu ajaran rahasia tersebut adalah Kali Santarana Upanisad, yang khusus di maksudkan untuk menunjukan jalan pembebasan pada seluruh mahluk pada zaman Kali.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Mantram atau doa-doa yang diajarkan di dalam kali santaranan upanisad adalah Maha Mantra : “hare rama hare rama rama rama hare hare hare krsna hare krsna krsna krsna krsna hare hare. Hare Krsna hare rama, pengucapan Maha Mantra ini akan mampu membangkitkan 9 jenis bhakti (Nava Bhakti), yang mudah-mudahan dalam kesempatan lain Tuhan akan mengijinkan saya untuk membahasnya.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Maksud khusus dari Upanisad ini adalah melindungi orang dari pengaruh buruk zaman Kali. Maka Rsi Narada bertanya kepada Dewa Brahma tentang bagaimana caranya membebaskan  diri dari cengkraman zaman Kali. Di sini beliau menggunakan istilah “mengembara di alam ini”. Rsi Narada adlah seorang Rsi yang telah mencapai kesempurnaan rohani dan mampu berkeliling seluruh alam semesta termasuk alam semesta rohani. Tetapi, “mengembara dalam alam” yang beliau maksudkan adalah penderitaan roh yang sebenarnya di dalam kelahiran dan kematian berulang kali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Dewa Brahma menjawab bahwa pertanyaan seperti pertanyaan Rsi Narada itu adalah sangat baik. Kita dapat mengerti pernyataan dari kepribadian agung seperti Dewa Brahma bahwa pernyataan yang baik adalah pernyataan yang dimaksudkan untuk mencari jalan keluar dari penderitaan umat manusia yang sebenarnya yaitu kelahiran dan kematian berulang kali. Pertanyaan-pertanyaan selain ini kurang lebih tidak sebaik pertanyaan yang tidak berguna. Orang-orang suci sama sekali tidak tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Dewa Brahma juga mengatakan : &#8220;<em>Sarva Sruti rahasyam gopyam tacchrnu yena kali samsaram tarisyasi</em>”, bahwa ajaran-ajaran yang hendak Beliau sampaikan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Rsi Narada adalah ajaran-ajaran yang akan mampu menyeberangkan orang dari kesengsaraan zaman Kali, dan ajaran itu adalah ajaran yang sangat rahasia dan merupakan sari-sari dari ajaran Veda (s<em>arva sruti rahasyam gopyam</em>). Dewa Brahma juga mengatakan “tacchrnu”, ajaran seperti itulah yang hendaknya kita engarkan. Ajaran-ajaran yang ada di luar garis Veda, bagi orang-orang yang mencari kerohanian dengan tulus, tidak akan membantu dia dalam usaha mencapai tujuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> Selanjutnya juga disebutkan bahwa hanya dengan mengucapkan nama-nama suci (<em>namoccarana matrena</em>) dari Narayana, Kepribadian agung yang paling utama, maka orang akan segera dibebaskan dari pengaruh buruk zaman Kali. Nama-nama itu adalah <em>hare rama hare rama rama rama hare hare hare krsna hare krsna krsna krsna hare hare.</em> Keenam belas nama-nam suci ini jika di ucapkan dengan keyakinan di bawah bimbingan seorang guru kerohanian, akan segera menyelamatkan orang dari pengeruh-pengaruh buruk zaman Kali. Dalam parampara atau garis perguruan Gaudiya Vaisnava, pengucapan mantra ini adalah <em>hare krsna hare krsna krsna krsna hare hare hare rama hare rama rama rama hare hare, </em>dan inilah yang lebih memasyarakat. (<em>hare krsna hare krsna krsna krsna hare hare hare rama hare rama rama rama hare hare).</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Sri Caitanya Mahaprabhu menyebutkan nam nam akari bahuda nija sarva saktih, bahwa nama-nama suci Tuhan telah berisi kekuatan penuh dari Tuhan sendiri. Tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan nama Beliau (abhinatvam nama naminoh), dan juga Dewa Brahma mengatakan bahwa tidak ada aturan khusus untuk mengucapkannnya ( na asya vidhir iti). Jadi soal pengucapan tidak begitu berarti, apakah hare krsna yang diucapkan duluan atau hare rama. Dan setiap orang dapat mengucapkan Maha Mantra tersebut baik dalam keadaan suci atau tidak suci, orang berdosa atau tidak berdosa, jika ingin menyelamatkan diri dari pengaruh buruk zaman Kali, hendaknya selalu mengucapkan nama-nama suci Tuhan ini sarvada patam. Ini akan mengantarkan orang kepada pembebasan (salokya, samipya, dan lain-lainnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Jika orang ingin membebaskan diri dari dosa-dosa khusus yang amat berat seperti membunuh Brahmana, membunuh orang suci, membunuh pahlawan agung, mencuri emas, kesalahan terhadap leluhur, para dewa atau Tuhan, mereka hendaknya mengucapkan mantram ini sebanyak tiga puluh lima juta.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Terhadap jumlah ini ada yang mengatakan bahwa ia harus di ucapkan setiap hari selama hidup, sebagai bekal menuju pembebasan.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Mengucapkan maha mantra hare krsna ini, seperti disebutkan dewa brahma “<em>Sadyah mucyate, sadyah mucyate</em>, dia akan segera di bebaskan, dia akan segera di bebaskan”</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dia akan segera dibebaskan,, dia akan mendapat kesucian. Dalam zaman sekarang orang tidak begitu mengerti dengan kewajiban suci yang mesti dilakukan. Vaisya melakukan kewajiban Brahmana, Brahmana melakukan kewajiban Sudra, anak tidak berbhakti pada orang tua, orang tua tidak memberi pelajaran rohani pada anak, dan lain-lainnya. Terhadap kealpaan seperti ini, dengan mengucapkan maha mantra hhare krsna, orang akan segera di bebaskan.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Maha Mantra ini terdapat di dalam kitab Upanisad. Yaitu Kali Santarana Upanisad. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki keyakinan teguh pada ajaran-ajaran Upanisad, Veda, serta menginginkan kedamaian bathin dan keinsyafan diri, tanpa ragu-ragu bahwa maha mantra hare krsna adalah jalan yang sangat mudah dan ampuh. Ajaran-ajaran Veda dan Upanisad bukanlah ajaran yang ditulis oleh orang yang iseng saja, namun merupakan ajaran suci, wahyu Tuhan, dan diabbadikan oleh para orang-orang suci yang sama sekali bebas dari tipu menipu, yang hidupnya hanya dipersembahkan untuk menyampaikan kebenaran sejati.</span><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> Semoga ajaran Upanisad tetap jaya, dan semoga orang-orang saleh beramai-ramai meminum amerta darinya.</span></p>
<br />Posted in Filsafat Tagged: Artikel <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gaurangga.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gaurangga.wordpress.com/281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gaurangga.wordpress.com&amp;blog=4488964&amp;post=281&amp;subd=gaurangga&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gaurangga.wordpress.com/2008/12/10/kalisantarana-upanisad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gaurangga</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
