Kehidupan: Partikel Spiritual atau Spiriton

Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” Berdasarkan Vedanta, ilmu pengetahuan spiritual kuno dari India, seluruh makhluk hidup digerakkan dengan hadirnya partikel non-kimia atau non-molekuler yang merupakan partikel spiritual dasar yang disebut—”spiriton” (disebut atman dalam istilah Vedanta; istilah ‘spiriton’ dipilih oleh penulis). Vedanta menyebutkan bahwa ‘spiriton’ atau partikel spiritual mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a). Dia adalah energi spiritual yang berbeda dengan energi material Tuhan. b). Dia adalah partikel transendental dan berbeda dari materi secara ontologikal. c). Hanya melalui interaksi antara spiriton dan elemen material maka badan material terlihat aktif dan hidup. d). Sifat dasarnya adalah: (i) Kesadaran (ii) Kehendak bebas (iii) Niat (iv) Tujuan. e). Dia berada di luar persepsi indria-indria biasa tapi dapat dibuktikan. Kesadaran adalah gejala kehidupan yang paling bisa dilihat, sebagai bukti adanya spiriton. Sedangkan, materi bagaimanapun kompleksnya tidak akan mempunyai kesadaran. f). Keberadaannya kekal dan tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. g). Dia memiliki keinginan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. h). Dia memiliki keinginan untuk bahagia. i). Dia memiliki daya tarik bukan hanya terhadap makhluk individu tapi juga kepada materi. Kekuatan atau daya tarik antara ibu dan bayinya disebabkan oleh interaksi antar spiriton. Namun, bila bayinya meninggal, kekuatan daya tariknya akan hilang karena spiriton tidak lagi berada dalam tubuh anak itu. Lebih jauh, ketika seseorang meninggal, dia dapat mengalami gejala lepasnya “spiriton” melalui mata, mulut, dubur, atau melalui lubang kulit kepala, bersamaan dengan udara kehidupan. Continue reading

AKU ADALAH WAKTU: PENGHANCUR DUNIA

Tidak ada hal yang paling kita kenal selain waktu, akan tetapi tidak ada hal lain yang lebih tidak diketahui selain waktu. Kita semua mengetahui tentang adanya sang waktu, dan ia menyelimuti kita, dan ia berlalu senantiasa, namun tepatnya berapa waktu yang masih tersisa tetap sebagai rahasia yang tidak diketahui oleh kebanyakan umat manusia.

Tidak ada hal lain yang mengadili kegiatan kita sehari-hari setegas sang waktu, namun sangat mengherankan, kita sedikit sekali berpikir tentang dia. Namun demikian, kehidupan kita tergantung sepenuhnya kepada sang waktu. Waktu sedang menggerakkan kita, membentuk kita, mencuri dari kita, dan pada akhirnya akan menghancurkan kita. Waktu tak henti-hentinya mendorong kita ke depan dan memaksa kita untuk patuh, tidak memberikan kita kesempatan untuk berhenti, berubah, atau bahkan mempengaruhi sumbernya.

Kita telah belajar untuk menghitung dan mengukur waktu, membagi dan menyimpan atau menghabiskannya. Namun, kita tetap begitu dipermainkan olehnya sehingga kita tidak mempunyai waktu untuk berpikir tentang definisi atau tujuan dari waktu yang maha-perkasa, yang berada di mana-mana. Kita tidak mengetahui jam berapa dan untuk apa kita berada di sini. Biasanya kita melihatnya hadir begitu saja tanpa bertanya mengapa kita diikat olehnya, apa yang seharusnya dipelajari darinya, atau bagaimana caranya kita melepaskan diri dari cengkeramannya. Bahkan kita dengan bangga mengklaimnya sebagai “waktu kita,” seakan waktu adalah ciptaan atau milik kita, tidak menyadari bahwa kita adalah budaknya. Continue reading

Kita ini Bukan Badan

dehi nityam avadhyo ‘yam dehe sarvasya bharata

tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi

“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk makhluk apapun”. (Bg.2.30).

Langkah pertama dalam keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan. Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,” tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badan jasmani. Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang dasar sebagai kesadaran yang suci.

Kalau kita masih mempunyai pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh itu. Continue reading