Pengantar Perpaduan Sains dan Veda

Sejak Newton berusaha untuk menjelaskan sistem orbit planet-planet berdasarkan hukum gerak dan gravitasi, muncul kepercayaan sains yang menyatakan bahwa keseluruhan kehidupan dan keadaan alam semesta dapat dijelaskan dengan sains. Sebaliknya tangan Tuhan pada pengaturan alam semesta menjadi semakin suram. Sebelum masa Newton, Tuhan dimengerti sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Fisika Newton menurunkan peran Tuhan hanya sebagai Pencipta saja, hanya seperti pembuat jam yang tidak memiliki kekuasaan apapun di alam semesta, yang semuanya diatur oleh hukum-hukum semesta.

Asal mula kehidupan di alam yang diajukan oleh Darwin pada tahun 1859 membuat kalangan terpelajar untuk mulai mengeluarkan Tuhan bahkan dari peran sebagai Pencipta. Keadaan kalangan terpelajar saat itu untuk menerima Evolusi Darwin bukanlah karena dasar ilmiahnya, tetapi karena akibat ideologis yang ditimbulkan oleh teori itu. Rencana tersembunyi untuk mengasingkan Tuhan dari dunia akademis dibuat menjadi sesuatu yang nyata oleh Frederic Nietzsche dengan kata khiasannya yang menyatakan “Tuhan sudah mati”.

Sekarang ini sebagian besar buku pelajaran, jurnal akademis, novel sains-fiksi yang komersial dan juga film-film menunjukkan evolusi sebagai fakta yang nyata, sebagai kenyataan ilmiah yang tidak terbantahkan.

Semakin sering kita mendengar mengenai versi daur-ulang dari dongeng tua yang sama tentang asal mula manusia dan alam semesta: Asal mula alam semesta adalah ledakan besar (Big Bang), kehidupan molekuler berevolusi secara kebetulan di bumi di dalam sebuah sup primordial, kemudian bentuk kehidupan berevolusi ketingkat yang semakin kompleks dan rumit, dan secara perlahan semua flora dan fauna di planet kita – termasuk kita manusia – muncul dan berkembang. Dan pada saat yang bersamaan pandangan dunia religius tentang peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta hampir dianggap sepenuhnya sebagai tahayul masa pra-sains.

Pandangan materialistic ini telah mendapatkan pengakuan yang luas bukan karena keabsahan ilmiahnya melainkan karena propagandanya yang besar-besaran. Ditambah lagi dengan pencapaian teknologi sains – yang memuaskan permintaan massal akan kesenangan instan—telah menciptakan suatu kepercayaan buta dan naïf dikalangan orang-orang yang menyatakan bahwa apapun yang dikatakan sains adalah suatu kebenaran.

Tetapi seiring dengan efek negatif teknologi yang semakin dirasakan, kesalahan dari pandangan sains yang mendasari teknologi itupun semakin terkuak.

Semakin banyak orang – termasuk para ilmuwan yang diakui – semakin menyadari bahwa teori yang reduktional (teori yang meniadakan bukti yang tidak mendukung) mengingkari prinsip utama dari sains: teori-teori haruslah berdasarkan bukti yang objektif, tidak peduli bagaimanapun tidak diharapkannya bukti itu, dan tanpa keyakinan yang subjektif, dan tidak peduli seberapa populernya teori tersebut. Bukti yang tidak diungkapkan oleh sains – baik yang makrokospik dan mikrokospik – memberikan gambaran alam semesta yang sangat berbeda dari apa yang pernah diajarkan kepada kita sebagai keyakinan yang disebut sains.

Penelitian akan harmoni yang indah dari hukum-hukum alam semesta, kompleksitas yang mengagumkan dan penuh dengan makna, pengaturan yang ajaib dari kehidupan yang bergerak dan tidak bergerak, telah memulai suatu pergerakan yang kuat untuk melakukan re-spiritualisasi terhadap sains.

Kita tidaklah anti-sains, tetapi kita pro-kemanusiaan. Umat manusia berhak untuk mengetahui kebenaran tentang asal-mulanya dan tujuannya hidup di dunia ini. dan untuk itu perlu dilakukan perpaduan antara penelitian sains modern dan ajaran Veda yang abadi. Makna dan keagungan dari ajaran Veda itu sendiri telah diakui oleh banyak pemikir terkemuka. Kami akan memberikan beberapa kutipan.

“Kita berhutang banyak kepada India, yang mengajarkan kita bagaimana cara menghitung, tanpanya tidak akan ada penemuan sains yang bermanfaat” ~ Albert Einstein

“Setelah perbincangan tentang Filosofi India, beberapa ide mengenai Fisika Quantum yang tampaknya gila tiba-tiba menjadi lebih masuk akal.” ~W. Heisenberg (Ahli fisika Jerman, 1901-1976)

“Vedanta dan Sankhya memegang kunci proses hukum-hukum pikiran yang berhubungan dengan Bidang Quantum. Seperti operasi dan distribusi partikel-partikel pada level atom dan molekul.” ~Prof. Brian David Josephson (1940 – ) Ahli Fisika Wales, penerima Nobel termuda

“Kapanpun saya membaca salah satu bagian dari Veda, saya merasa cahaya yang non-material dan tidak dikenal menerangi saya. Dalam ajaran agung Veda, tidak terdapat sifat sektetarianisme. Veda untuk semua umur, tingkatan, dan bangsa dan merupakan jalan raya bagi semua pencapaian pengetahuan yang agung ” ~ Thoreau (Cendikiawan Amerika)

“Mukjizat Bhagavad-gita benar-benar merupakan pengungkapan yang agung dari kebijaksanaan hidup yang membuat filosofi mekar menjadi agama.” ~ Herman Hesse (1877-1962), Penyair dan Novelis Jerman, Penerima Nobel Sastra tahun 1946

“Dalam naskah agung India, Bhagavad-gita, sebuah kekaisaran berbicara kepada kita, tidak ada yang kecil atau tidak berarti, tetapi besar, tenang, konsisten, suara dari sebuah kecerdasan antik, yang telah direnungkan di jaman dan iklim yang berbeda dan menjawab semua pertanyaan yang menyita perhatian kita.” ~ Ralph Waldo Emerson Eminent American Thinker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s