MAKANAN YANG MURNI

Oleh : Ravi Gupta

Seorang tamu dari India di pusat perkumpulan Hare Krishna kami, yang terletak di Boise, berkata pada kami, “Ayah saya sangat ketat menjalankan praktek spiritual dan kebiasaan sehari-harinya. Dia hanya memakan masakan buatan tangannya sendiri.” Ayah saya, Anantarupa Dasa, memiliki kenangan yang sama terhadap neneknya. Dia hanya akan makan makanan yang telah disiapkan dirumah. Banyak orang India dapat menceritakan pengalaman yang sama seperti itu tentang orang tua, kakek-nenek, ataupun teman mereka.

Apakah yang menjadi alasan suatu kebiasan sangat sulit untuk dijaga? Mengapa generasi sebelumnya sangat ketat terhadap apa yang mereka makan?

Bhagavad-gita (3.13) memberikan sebuah isyarat: “Penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa, karena mereka telah makan makanan yang telah dipersembahkan sebagai korban suci. Sedangkan mereka yang mempersiapkan makanan untuk kepuasan pribadi, hanyalah memakan dosa.” Di rumah, “mempersembahkan makanan untuk korban suci” biasanya berarti mempersembahkan makanan kepada arca apapun yang mereka puja di rumah. tetapi “persembahan makanan untuk korban suci” secara khusus berarti mempersembahkan makanan kepada Tuhan Sri Krishna, Karena Dia disebut Yajna (korban suci). Dan Tuhan Sri Krishna mengatakan kepada kita kapankah Dia akan menerima persembahan kita: “Jika seseorang mempersembahkan kepada-Ku dengan bhakti dan cinta, selembar daun, sekuntum bunga, buah, atau air, Aku akan menerimanya.” (Bg.9.26).

Krishna Prasadam

Krishna Prasadam

Jadi apa yang menjamin bahwa makanan yang dimakan seseorang di rumah kenalannya atau di restoran dimasak dengan cinta-bhakti kepada Krishna? Pada kenyataannya, dalam banyak kasus kita tidak dapat mengetahuinya, dan kita sangat sering “hanya makan dosa.”

Makanan yang kita makan sangat menentukan siapakah kita; ini mempengaruhi kesadaran kita. Sebagai contoh, jika kita makan roti yang dibuat di restoran atau pabrik, kesadaran orang yang membuat roti itu masuk kedalam roti tersebut dan mempengaruhi kita. Perlahan, dengan terus-menerus memakan roti tersebut, mentalitas dan keinginan kita akan sama dengan orang yang menyajikannya. Esoteric

Prinsip ini tidak serumit tampaknya. Ketika seorang seniman membuat sebuah lukisan, dia mengekspresikan pemikiran, keinginan, dan emosinya melalui sarana seni tersebut, dan orang yang melihat lukisan itu menerima mentalitas si pelukis. Sama halnya, ketika sebuah komputer menerima informasi dari sumber diluar, mungkin saja komputer itu menerima virus, yang—tak terlihat dan tak terdengar—secara perlahan merusak software (perangkat lunak) dari computer itu.

Srila Prabhupada menginstruksikan murid-muridnya untuk mengikuti tradisi Veda, tidak makan makanan yang dimasak diluar rumah atau kuil. Beliau menulis, “Tentu saja, seorang penyembah hendaknya sangat taat untuk tidak menerima makanan dari seorang yang bukan penyembah, khususnya makanan yang disajikan di restoran atau hotel, atau pada saat di dalam pesawat terbang. Seorang avaisnava (bukan penyembah) mungkin seorang yang vegetarian dan memasak dengan bersih, tetapi karena dia tidak mempersembahkannya kepada Sri Visnu, itu tidak bisa diterima sebagai maha-prasada. Dan lebih baik seorang Vaisnava membuang makanan seperti itu.”

Tapi bagaimana kita bisa menjaga prinsip Veda ini sekarang? Dunia modern saat ini adalah salah satu perjalanan global, sebuah hidup yang jauh dari ketenangan, dan memiliki jaringan kerja yang besar bersama teman dan kenalan. Makan diluar—di restoran, hotel, dan dalam pesawat—adalah sebuah fenomena sosial yang tersebar luas, jika bukan merupakan suatu kewajiban dan kebutuhan. Bagaimana bisa kita memelihara prinsip kesadaran Krishna dalam keadaan seperti ini?

Tentu saja, ini akan sangat sulit dilakukan di lingkungan sekitar yang biasa-biasa saja. Tapi atas kemurahan Srila Prabhupada, ini semua menjadi mungkin. Biarkan saya memberi anda sebuah contoh.

Ayah saya sering kali pergi mengelilingi dunia dalam perjalanan bisnisnya. Perusahaannya menyediakannya tiket pesawat, ruangan hotel, dan uang untuk makan. Tetapi ketika rekan kerjanya mengajak makan ke restoran terdekat, ayah harus membuat persiapan pribadi. Kadang-kadang menemukan makanan yang tepat sangatlah sulit, khususnya untuk prasadam, jadi dia hanya makan makanan mentah—buah, salada, dan kacang-kacangan. Tapi ketika kebutuhan kita sangat besar, Krishna selalu menolong, dan entah bagaimana dia akan menemukan kuil ISKCON, sebuah restoran Govinda, atau menemukan rumah seorang penyembah. Sehingga dia bisa mendapatkan prasadam hampir kemana pun dia pergi, dan dia bisa yakin sepenuhnya bahwa makanan tersebut dimasak dengan bhakti dan dipersembahkan kepada Krishna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s