Empat Sampradaya Utama Vaishnava

Akar dari kebudayaan Vaisnava telah tertanam selama beberapa millennium di India. Empat Veda, yaitu Rig, Sama,Yajur dan Atharva veda, epos-Purana yang menguraikan hukum-hukum Veda, dan epos Mahabharata yang menguraikan secara panjang lebar cerita mengenai Krishna dan para Pandava, dimana di dalamnya memuat ajaran Bhagavad-gita,semuanya membentuk suatu dasar bagi kebudayaan Vaisnava.

Vaisnavaisme adalah salah satu kebudayaan yang terkemuka dalam Hinduisme, dan yang membedakannya dari sampradaya lain adalah pemujaannya kepada Sri Vishnu (atau avatara-Nya) sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa kebudayaan Vaishnava berfokus pada bentuk Sri Vishnu yang Maha Megah, sementara cabang Vaishnava lainnya menerima bentuk yang Maha Menarik dari Krishna sebagai objek pemujaan mereka. Vaisnava juga dikenal sebagai suatu kebudayaan di India yang dikenal sebagai kebudayaan Bhakti.

Dalam Vaishnavaisme terdapat empat sampradaya utama, atau garis perguruan yang turun melalui acarya-acarya, pembimbing spiritual terkemuka. Keempat sampradaya ini juga merupakan sekolah pengajaran terkemuka dalam kebudayaan Veda. Keempat sampradaya itu adalah:

  1. Sri Sampradaya, tokoh terpentingnya adalah Ramanujacharya (yang hidup di-abad ke-12, lahir di tahun 1016), mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai visista advaita, atau kesatuan dengan keaneka ragaman antara Tuhan dan tenaga-tenaga-Nya. Sampradaya ini berasal dari Devi Sri atau Devi Laksmi.
  2. Brahma sampradaya, tokoh terpentingnya adalah Madhvacharya(yang hidup di-abad ke-13, lahir di tahun 1238), mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai visista dvaita, atau dualitas dalam keaneka-ragaman. Sampradaya ini berasal dari Deva Brahma.
  3. Rudra Sampradaya, tokoh terpentingnya adalah Vishnu Swami, yang mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai suddha dvaita, atau dualitas rohani yang murni; Vallabha Acharya juga merupakan cabang dari sampradaya ini. Sampradaya ini berasal dari Rudra atau Deva Siva.
  4. Hamsa, Catursana, Kumara atau Sanat sampradaya, tokoh terpentingnya adalah Nimbarka yang mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai dvaita advaita atau pada saat yang bersamaan sama dan berbeda. Sampradaya ini berasal dari putra-putra Deva Brahma, para catur kumara, dimana salah satunya adalah Sanat Kumara.

Ramanuja
Tokoh terpenting dari Sri sampradaya, terlahir pada tahun 1016 (beberapa orang mengatakan 1055) mengajarkan ajaran yang dikenal sebagai visista-advaita, “kesatuan dalam keaneka-ragaman antara Tuhan dan tenaga-tenaga-Nya”

Sri Sampradaya bisa dikatakan sebagai sekolah yang paling terkenal di India selatan dan memiliki berbagai cabang, semuanya dikenali dengan tilaka yang khusus(tanda khusus di dahi dengan mempergunakan tanah yang suci dan warna yang alami ).

Ramanuja sangat dipengaruhi oleh puisi-puisi bhakti dari orang-orang suci India Selatan yang dikenal dengan sebutan Alvar, dan menetap sebagai seorang pujari atau pendeta di kuil Ranganatha atau SriRanggam (di dekat Tirucchirapalli).

Filosofinya menyatakan bahwa jiva (roh individu) dan jagat(alam semesta material) bergantung pada Isvara (sa-guna Brahman yang Utama, atau Bhagavan), yang merupakan satu-satunya kenyataan. Berdasarkan filosofi ini, roh individu bisa jadi roh yang baddha (terikat) atau mukta(terbebaskan). Jagat, dunia materia, adalah nyata dan abadi, namun mengalami siklus penciptaan dan peleburan, yang menjadi letak kesementaraannya. Analogi kamar bisa dipakai disini: kamar(alam semesta) tetap ada walaupun isinya mungkin berganti-ganti.

Sistem filosofi ini berbasiskan pada pramana (“epistomologi atau bukti”), yang diuraikan sebagai pratyaksa (mengalami langsung), anumana (pengambilan kesimpulan), and sabda (bukti dari shastra, guru dan sadhu). Pengetahuan yang abadi dan alami (jnana svarupa) dari roh badha(roh yang terikat) ditutupi oleh kebodohan, sedangkan roh yang terbebaskan (mukta) berdiam di Vaikuntha. Perbedaan antara kedua jenis roh tersebut adalah penyerahan dirinya (prapatti) dalam bhakti (cinta kasih dan pengabdian) kepada Tuhan.

Tuhan bermanifestasi dalam lima bentuk sebagai Para (bentuk spiritual), Vyuha (menifestasi rohani yang merupakan asal mula Keberadaan), Vibhava(avatara-avatara), Arca(Bentuk sebagai Arca) dan Antaryami (bersemayam didalam hati setiap mahkluk dan disetiap atom).

Ramanuja menulis Vedartha sangraha (Ulasan Veda-Veda), Sri bhasya (ulasan Vedanta), Bhagavad gita bhasya, Vedanta sara (kesimpulan Vedanta), Vedanta dipa (menguraikan pembahasan Vedanta), Saranagati gadhya (doa-doa penyerahan diri kepada Narayana), Sri Ranga gadhya (doa-doa pujian kepada kota suci Sri Ranga), Sri Vaikuntha gadhya(doa-doa yang mengagungkan Vaikuntha, dunia rohani), Nitya grantha (tata cara pemujaan sehari-hari dan upacara-upacara, termasuk upacara kelahiran dan kematian).

Naskah pendahuluan untuk filosofi Ramanuja ditulis oleh Srinivasa dasa (Yatindra mata dipika) dan Bucchi Venkatacharya (Vedanta Karivadi).

Beliau mendirikan tujuh puluh empat pusat Sri Vaishnava dan meng-inisiasi tujuh ratus sannyasi, dua belas ribu brahmacari, dan beribu-ribu orang yang berumah tangga, termasuk raja-raja dan para tuan tanah.

Ramanuja dikatakan mengunjungi Puri saat pemerintahan Choda Ganga Deva. Tradisi mengatakan beliau berusaha untuk meyakinkan pendeta di Kuil Jaggannatha untuk menghentikan tata cara puja trantrik yang mereka lakukan.

Tetapi, ketika beliau tertidur di malam hari beliau dipindahkan ke tepian sungai Bhargavi oleh Garuda(kendaraan Sri Vishnu). Beliau juga gagal memperkenalkan sistem pemujaannya di Trivandrum (kuil Ananta Padmanabha), namun beliau berhasil di Tirupati menggantikan naskah yang dikenal dengan Vaikhanas agama dengan Pancaratra agama. Di Puri beliau mendirikan Emar Math.

Madhva
Tokoh terpenting dari Brahma sampradaya, terlahir di tahun 1238(beberapa mengatakan 1199), mengajarkan filosofi yang disebut Dvaita atau Visistha Dvaita (“dualitas dalam keaneka ragaman”, atau “keragaman perbedaan”). Pusat dari sekolah Madhva berada di Udupi, tempat kelahiran Madhva.

Berdasarkan pada filosofinya, terdapat perbedaan yang mendasar antara Isvara(Tuhan), Jiva(roh individu), dan jagat(alam semesta). Isvara selalu bebas/mandiri (sva-tantra) sementara jiva(roh), prakriti (tenaga material), kala(waktu), karma(hasil perbuatan), dll adalah realitas yang tidak bebas/bergantung (para-tantra). Terdapat lima kategori perbedaan (pancha-bheda) yaitu antara Isvara dan jiva, Isvara dan jada(prakriti), jiva dan jiva, jiva dan jada, jada dan jada(atau antara satu objek dengan objek lainnya).

Kelima perbedaan ini abadi, walaupun jagat terkadang terwujud(vyakta) dan terkadang tidak terwujud(avyakta). Jiva juga secara abadi terbagi menjadi tiga kelompok yaitu sattvik(yang bisa mencapi mukti atau pembebasan), rajasik(tetap berada dalam samsara atau siklus kelahiran dan kematian, tetapi memiliki kemungkinan untuk maju) dan tamasik(tanpa harapan, berakhir di neraka atau kegelapan).

Sudut pandang lainnya terhadap perbedaan yang beraneka ragam yang diuraikan oleh Madhva adalah sajatiya, vijatiya dan svagata: perbedaan antara kategori objek, perbedaan antara objek dalam kategori yang sama, dan perbedaan antara bagian-bagian dalam satu objek yang spesifik.

Koleksi 37 buku karya Madhva (disebut sarva-mula) dibagi menjadi empat kelompok:
1. prasthana traya, Termasuk didalamnya dua ulasan Bhagavan-gita, sepuluh ulasan Upanishad, empat ulasan Vedanta sutra, dan satu ulasan Rig Vea.
2. dasa prakarana, sepuluh karya singkat yang menjelaskan ajaran Madhva; yang paling penting adalah Vishnu tattva vinirnaya,rincian karakteristik atman(roh individual) dan menegaskan Ke-Maha Kuasaan Sri Vishnu.
3. smriti prasthana, ulasan mengenai Bhagavata Purana dan Mahabharata.
4. puisi dan essay mengenai upacara dan sanyyasa.

Nimbarka
Tokoh terpenting dari Kumara atau Catursana sampradaya (pengetahuan ini diberikan kepada empat kumara oleh Hamsa avatara), hidup di abad ke-13 dan mengajarkan ajaran yang disebut sebagai dvaita advaita, “sama dan berbeda disaat yang bersamaan.”

Nimbarka menghadirkan dirinya sebagai murid Narada Muni dan mengatakan selama beberapa waktu beliau tinggal di Naimisharanya.

Sekolah filsafat ini berpusat di daereh Mathura-Vrndavana (Nimbarka dilahirkan di dekat Govardhana dari keluarga Brahmana Telugu), Rajasthan dan Bengal, dan menyatakan Brahman yang utama adalah pasangan rohani Radha dan Krishna.

Bhagavan(Tuhan) memiliki dua aspek yaitu aspek savisesha(dengan wujud) dan nirvisesha (tanpa wujud) filsafat ketuhanan ini disebut svabhavika-bheda-abheda, “perbedaan dan persamaan yang natural,” dan tidak melihat pertentangan dalam persamaan dan perbedaan itu.

Berdasarkan ajarannya Terdapat dua kelompok jiva yaitu badha(terikat keduniawian) dan mukta(terbebaskan). Badha jiva(jiva yang terikat) dapat menjadi mukta jiva (jiva yang terbebaskan) melalui jalan keinsafan diri atau sadhana, yaitu bhakti(jalan pengabdian suci) yang didalamnya juga termasuk ajaran karma (pengetahuan akan perbuatan dan akibatnya dan menjadi terbebaskan dari karma) dan jnana (pencarian pengetahuan). Tahap pertama adalah karma(proses pelaksanaan upacara), tahap kedua adalah jnana(pencarian pengetahuan), yang ketiga adalah dhyana (meditasi), yang keempat adalah prapatti (penyerahan diri), dan yang kelima adalah guru prapatti (dedikasi sepenuhnya terhadap perintah-perintah guru).

Karyanya yang terkenal adalah Vedanta Parijata Saurabha (ulasan Veda dan Sadachar prakash (Upanisad), ), Sadachar prakash (Risalat mengenai Karma kanda), Gita bhasya (Ulasan Bhagavad-gita), Rahasya sodasi (penjelasan terhadap Sri Gopala Mantra), Krishna stava raja (Penjelasan terhadap kedudukan Sri Krishna sebagai Personalitas Tertinggi), Prapanna kalpa valli (penjelasan terhadap Mukunda mantra), Prata smarana stotram (puisi-puisi spiritual), Kamadhenu Dasa sloki (“sepuluh sloka penuh nektar” tentang meditasi kepada Radha Krishna).

Vishnuswami
Acharya Vaishnava keempat, Vishnuswami, perwakilan dari Rudra sampradaya (yang memuja avatara Narasimhadeva) kurang diketahui seperti tiga yang lainnya.

Sebenarnya terjadi kebingungan mengenai jati dirinya, seperti tampaknya terdapat tiga Vishnuswami: Adi Vishnuswami (sekitar abad ke-3 S.M) adalah Vishnuswami yang memperkenalkan 108 kategori sannyasa di masa lalu, Raja Gopala Vishnuswami (abad ke-8 atau abad ke-9), dan Andhra Vishnu Svami (abad ke-14).

Ajaran yang ditekankan oleh sekolah ini disebut sebagai suddha-advaita(“monism yang murni”), yaitu konsep lila atau kegiatan rohani Tuhan bersifat rohani dan abadi berdasarkan kehendak-Nya. Karena itu segala sesuatu bersifat suci; termasuk juga alam semesta material, yang diciptakan oleh Tuhan dan dekat terhubung dengan Tuhan. Dalam cara pemujaannya, Vishnuswami lebih cenderung kepada Rama, avatara sebelum Krishna.

Vishnuswami mengunjungi Puri dan mendirikan Jagannatha Vallabha Matha di areal taman kuil itu, disana juga Ramananda Raya mendirikan sekolah spiritualnya.

Diantara pengikuti sampradaya ini yang terkenal kita bisa menyebutkan salah satunya adalah Sridhara Swami(yang menjadi terkenal karena ulasannya terhadap Bhagavata purana).

Sri Chaitanya Mahaprabhu
Sri Caitanya Mahaprabhu (1486-1534) juga secara tegas menentang ajaran Filsafat Dwaita Mayavada yang dicetuskan oleh Shankara dan memperkenalkan ajaran yang membawa ajaran-ajaran para acarya yang sebelumnya menuju ke tahapan berikutnya, ajaran yang disebut acintya-bhedabheda-tattva. Ajaran ini menyatakan bahwa Tuhan dan roh yang individu (jiva/atman) secara tidak terpikirkan dan bersamaan sama dan berbeda. Ini berarti Tuhan dan jiva sama dalam kualitas, yaitu spiritual secara abadi, tetapi selalu terpisah secara individual. Jiva itu kecil dan bisa dipengaruhi oleh tenaga material, sementara Tuhan adalah tidak terbatas dan senantiasa berada diatas semua perwujudan material. Secara singkat bisa dikatan jiva dan Tuhan sama dari segi sifat/kualitas, namun berbeda dari segi kuantitas/ukuran. Analogi yang sering dipakai adalah air laut, jika Tuhan adalah samudra maka jiva hanyalah tetesan dari air laut itu. Samudra dan setetes air laut memiliki kualitas/sifat yang sama yaitu asin, tetapi dari segi kuantitas samudra tidak terbatas sedangkan air laut sangatlah terbatas.

Sri Caitanya mengajarkan bahwa makna langsung dari sastra Veda adalah para mahkluk hidup harus ikut serta dalam pelayanan bhakti yang penuh cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna. Bhakti akan mengembangkan suatu tahapan hubungan antara Tuhan dan roh individual dimana Tuhan dengan cinta kasih akan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada orang yang sudah menjadi berkualifikasi. Dalam pemahaman ini, Filsafat Vaishnava mengenai ketuhanan dalam Veda mencapai puncaknya. Karena itu, Sri Caitanya dikatakan memulai sesuatu yang bisa disebut sebagai filosofi baru yang menyempurnakan ajaran-ajaran dari sampradaya-sampradaya Vaishnava yang sebelumnya, dan menyatukan prinsip-prinsip dasar dari masing-masing sampradaya Vaishnava.

Sri Caitanya Mahaprabu, yang diuraikan dalam sastra Veda sebagai Avatara Tuhan, tidak banyak terlibat dalam kegiatan menulis. Bahkan, beliau hanya menulis delapan sloka yang disebut sebagai Shikshastaka, tetapi para pengikutnya menulis banyak sekali sastra sansekerta yang mengisahkan tentang kisah hidup-Nya dan secara menyeluruh menguraikan tentang ajaran-ajaran-Nya. Dan salah satu dari pengikut-Nya, Baladeva Vidyabushana menulis sebuah ulasan terhadap Vedanta-sutra yang disebut Govinda-bhasya, yang berarti ulasan ini dianggap sebagai ulasan yang diberikan oleh arca Govinda.

One comment on “Empat Sampradaya Utama Vaishnava

  1. aca says:

    buikkkk … klo sang pengikut memulyakan gurunya..isi pujian adalah sebuah ODE.. bukan weda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s