Perjanjian Baru-nya Kesusastraan Veda

Srimad-Bhagavatam (Bhagavata Purana)

“Bila kita mempersamakan dengan konteks Kekristenan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Srimad-Bhagavatam benar-benar adalah Perjanjian Baru-nya kesusastraan Veda. Semua yang telah dikemukakan sebelum Srimad-Bhagavatam, yang menekankan empat tujuan kehidupan, yakni keagamaan (dharma), pengembangan ekonomi (artha), kepuasan indria-indria (kama) dan pembebasan dari belenggu kehidupan material (moksa) disingkirkan oleh pesan cinta suci sejati kepada Tuhan yang dikemukakan di dalam Srimad-Bhagavatam. Cinta kasih Tuhan (prema dharma) memenuhi segala aturan dan ajaran kitab-kitab Veda.”

Bhagavad-gita, yang dikenal luas di seluruh dunia sebagai mutiara pengetahuan spiritual dan hakikat epos Mahabharata, dengan tujuhratus sloka sabda Sri Krishna, dan diakui sebagai buku filsafat yang tiada bandingannya di dunia ini dan dipelajari oleh tokoh-tokoh besar dunia seperti Einstein, Thoreau, Kant, Gandhi, sampai Bung Karno, mengungkap sifat kesadaran, sang diri (roh/ jiwa), alam semesta, dan Yang Mahakuasa, dengan cara yang gamblang dan sangat mendalam.

Falsafah Bhagavad-gita melampaui segala doktrin keagamaan yang kadangkala tidak mampu memuaskan hasrat keingintahuan mendalam tentang makna sejati kehidupan sehingga Bhagavad-gita diterima oleh semua kalangan dari segala latar belakang agama dan keyakinan.

Bhagavad-gita
dimulai dengan falsafah dasar yang membedakan roh dengan badan dan berakhir dengan anjuran agar kita berserah-diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan meninggalkan segala jenis dharma, sarva dharman parityaja (Bg. 18.66). Sri Krishna menjamin bahwa dengan hanya berserah-diri kepada Tuhan Yang Maha Esa maka seseorang akan dibebaskan dari segala reaksi dosa. Mengapa Sri Krishna menganjurkan agar kita meninggalkan segala jenis dharma? Karena sebelumnya telah dijelaskan bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu, aham sarvasya prabhavo (Bg. 10.8), dan penguasa segala sesuatu, sarvaloka mahesvaram (Bg. 5.27), sehingga dengan berserah-diri sepenuhnya kepada Tuhan maka segala yang lain seperti dewa-dewa, leluhur dan makhluk hidup lainnya juga akan terpuaskan.

Srimad-Bhagavatam
dimulai persis dari titik terakhir kesimpulan Bhagavad-gita tersebut, yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Pada awal Srimad-Bhagavatam disebutkan bahwa kitab suci ini menolak sepenuhnya segala jenis dharma yang bermotivasi duniawi (kaitava dharma) yang tidak mengarah kepada cinta kasih rohani kepada Tuhan (prema dharma). Srimad-Bhagavatam mengemukakan prinsip tertinggi agama atau dharma yang kekal, yang mampu meredakan tiga jenis penderitaan yang dialami semua makhluk hidup di dunia material ini dan memberkati karunia tertinggi berupa kesejahteraan dan kemakmuran sempurna.

Bila kita mempersamakan dengan konteks kekristenan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Srimad-Bhagavatam benar-benar adalah Perjanjian Baru-nya kesusastraan Veda. Semua yang telah dikemukakan sebelum Srimad-Bhagavatam, yang menekankan empat tujuan kehidupan, yakni keagamaan (dharma), pengembangan ekonomi (artha), kepuasan indria-indria (kama) dan pembebasan dari belenggu kehidupan material (moksa) disingkirkan oleh pesan cinta suci sejati kepada Tuhan yang dikemukakan di dalam Srimad-Bhagavatam. Cinta kasih Tuhan (prema dharma) memenuhi segala aturan dan ajaran kitab-kitab Veda.

Srimad-Bhagavatam
atau Bhagavata Purana itu sendiri merupakan bagian dari 6 Maha-Purana (delapanbelas Purana besar) yang tergolong dalam sifat kebaikan (sattvam). Dan sebenarnya Srimad-Bhagavatam bersifat visudha sattvam, atau sifat kebaikan yang murni, melampaui sifat kebaikan material, sebab Srimad-Bhagavatam sepenuhnya hanya menguraikan tentang kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa beserta para penyembah murni-Nya tanpa dicemari oleh hal-hal material sedikit pun. Sri Caitanya Mahaprabhu, ,menyebut Srimad-Bhagavatam sebagai amala purana, atau Purana yang tiada bernoda.

Srimad-Bhagavatam
disusun oleh Srila Vyasadeva setelah pengetahuan spiritualnya mencapai puncak kematangan. Beliau menyusun karya ini atas perintah Sri Naradaji, guru spiritualnya. Vyasadeva telah menyusun seluruh kesusastraan Veda, yang mencakup empat bagian kitab Veda, Vedanta-sutra (Brahma-sutra), Purana-Purana, Mahabharata, dan lainnya. Akan tetapi, beliau masih belum merasa puas. Ketidakpuasan Vyasadeva ini teramati oleh guru spiritualnya, Narada Muni. Oleh karena itu, Narada menyarankan agar Vyasadeva menuliskan kegiatan-kegiatan rohani Tuhan Yang Maha Esa, sehingga lahirlah Srimad-Bhagavatam.

Jadi, Srimad-Bhagavatam adalah studi pasca sarjana bagi para siswa sains spiritual yang serius ingin mengerti makna sejati kehidupan.

Dari keseluruhan duabelas skanda Srimad-Bhagavatam, kini telah tersedia dalam Bahasa Indonesia Skanda Satu (3 Jilid), Skanda Dua (2 Jilid), dan Skanda Tiga Jilid 1 terbitan The Bhaktivedanta Book Trust hasil karya terjemahan Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Acarya-Pendiri Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional (ISKCON).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s