Apakah Veda Hanya Sekedar Philosophy?

Theory tanpa praktek tidak bisa diangap suatu yang lengkap dan bahkan bisa dikatakan hal yang tidak berguna. Pernyataan ini bisa diterima di dalam segala hal. Secara umum, di masa sekarang ini, kebanyakan orang, khususnya para atheis, bependapat bahwa kitab suci yang dipakai sebagai dasar agama hanya sekedar teory yang dipakai untuk menakut nakuti umatnya supaya bisa dikontrol. Kadang kadang mereka berpendapat, apa gunanya hanya sekedar philosofy yang banyak sedangkan itu tidak berguna di dalam kehidupan kita sehari hari? Lebih baik kita lupakan semua kitab suci tersebut yang hanya sekedar filasafat dan kita tidak akan hidup dengan filasat tapi dengan pekerjaan keras kita. Teory yang sangat masuk akal dan karena teory seperti ini banyak terjadi perpindahan agama dan bahkan orang meningalkan agama sepenuhnya karena mereka tidak melihat manfaat atau mereka tidak menyadari manfaat dari kitab suci di dalam kehidupan sehari hari. Namun kalau kita gali sedikit lebih mendalam dan mengadakan diskusi dan research di dalam kitab suci khususnya kitab suci Veda, kita akan menemukan bahwa itu bukan hanya sekedar filsafat belaka tetapi juga mengandung banyak tuntunan tuntunan untuk hidup di dunia material ini.

Di dalam sastra Veda yang menyangkut suplemetnya seperti upanisad, purana, kavya, dharma sastra dll, kita mengenal ada dua jenis pengetahuan ( Vidya) yang kedua duanya sangat berhubungan erat dengan kelangsungan hidup kita di dunia ini maupun di dunia sana ( alam tuhan ). Kedua Vidya tersebut adalah Para Vidya dan yang kedua di sebut dengan apara Vidya. Para vidya adalah pengetahuan yang berhubungan dengan sang roh, tuhan dan hubungan sang roh ( semua makhluk hidup ) dengan tuhan. Ini secara umum diuraikan di dalam empat Veda dan upanisad serta beberapa bagian purana. Kemudian apara Vidya adalah pengetahun yang mengajarkan bagaimana kita hidup di dunia ini dan bagaimana kita hendaknya berhubungan dengan alam beserta isisnya. Para Vidya dan apara Vidya selalu berhubungan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

Para-Vidya tanpa apara Vidya merupakan suatu yang sangat sulit untuk dilaksanakan oleh makhluk hidup secara umum yang berada di dunia material ini sedangnkan apara Vidya tanpa para vidya adalah tidak berbeda dengan avidya (kebodohan ). Karena para Vidya adalah pengetahuan yang memberitahu kita tentang siapa diri kita, siapa tuhan dan apa hubungan kita dengan tuhan, maka kalau ini kita kesampingkan maka sama halnya kita tidak akan tahu siapa diri kita dan apa tujuan kita alias gila atau orang bodoh. Apa gunanya kekayaan material seperti berjuta juta uang dan segunung emas jika kita tidak tahu siapa diri kita dan kemana kita akan pergi? Jadi, hal yang yang paling dikemukakan adalah para Vidya , pengetahuanyang akan memberikan kita pengetahuan tentang diri kita terlebih dahulu. Karena kita merupakan ciptaan tuhan atau bagian percikan terkecil dari tuhan, maka kita harus berusaha untuk kembali kepada tuhan yaitu dengan mencapai moksa. Namun sebelum itu, untuk mencapai moksa (kembali ke alam tuhan), karena kita berada di dunia material ini, maka mau tidak mau kita harus berhubungan dengan alam material ini, paling tidak dengan badan kita ini. Dengan demikian, untuk memelihara kehidupan kita di dunia material ini, kita memerlukan suatu pengetahuan yang bisa memberikan kita tuntunan untuk menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, Tuhan yang maha kuasa, yang mengetahui segala sesuatu dan sudah pasti mengerti keperluan para makhluk hidup di dunia material ini, beliau sudah sangat berkarunia memeberikan kita bagian dari sastra veda yang berisi tuntunan hidup di dunia ini.

Prose untuk menerima vidya

Di dalam tradisi Veda, masyarakat di bagi menjadi empat bagian yaitu brahmana ksatria , vaisya dan sudra. Pembagian ini merupakan pembagian yang diciptakan oleh tuhan sendiri dan secara natural akan selalu ada di dalam masyarakat. Namun harus dimengerti bahwa pembagian ini mestinya tidak dilihat dari kelahiran namun dari kemampuan seseorang. Srimad Bhagavada Gita menyampaikan

cätur-varnyam mayä srstam

guna-karma-vibhägasah

“ berdasarkan tiga sifat alam material ( satva rajas dan tamas ) dan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka ( oleh masing masing masyarakat ) empat divisi di dalam masyarakat diciptakan oleh Aku sendiri.

Disini kata guna dan karma berperan sangat penting. Sri Krsna Bersabda’ berdasarkan guna ( sifat ) dan karma ( pekerjaan ) bukan berdasarkan janma ( kelahiran ). Jadi ini pertama tama seseorang harus mengerti hal ini sebelum seseorang menginjak untuk belajar sastra lebih lanjut.

Bagaimana kita bisa mengenali kempat kelompok tersebut? Di jaman tradisi Veda, orang dikenali berdasarkan beberapa hal:

1) Dari sifat dan watak orang tuanya atau dari keluarga secara umum

2) Dari hari kelahiranya berdasarkan ilmu perbintangan di dalam jyoti sastra.

3) Berdasarkan sifat yang dikembangkan yang dilihat oleh pendidik

Dari ketiga cara ini, proses ketiga memegang peranan yang paling penting.

Biasanya di dalam tradisi veda, seseorang akan mulai belajar dari umur lima tahun. Mereka akan dikirim ke sekolah yang disebut dengan Gurukula ( pesraman ). Di sini seorang guru akan menilai anak didik nya berdasarkan 3 hal di atas dan memberikan pengajaran yang sesuai kepada mereka. ini merupakan suatu keharusan bagi seorang murid untuk tingal bersama guru di pesraman ( gurukula ) dan menerima pengetahuan dari guru mereka. selain itu, dengan tingal di dalam sekolah selama masa belajar, banyak keuntungan yang akan didapatkan oleh siswa.

1. siswa akan punya waktu lebih banyak untuk belajar dan tidak membuang waktu berjam jam untuk datang dan pergi ke sekolah.

2. siswa akan mendapat kesempatan untuk belajar dari seorang guru dengan lebih dekat dan bisa meluangkan waktu lebih banyak berama guru.

3. di jaman Veda, tidak ada istila membayar iuran sekolah namun diperlukan rasa pelayanan kepada seorang guru degan demikian ada hubungan cinta kasih antara guru dan murid.

4. guru bisa mengawasi tingkah laku dari murid secara langsung.

5. dengan tingal di persaraman atau di sekolah seperti itu, siswa tidak akan terlalu tergangu oleh hal hal yang lain yang merugikan proses belajar mereka seperti pergaulan yang tidak diinginkan di masyarakat umum.

6. dengan tingal di dalam sekolah selama masa belajar, siswa akan mendapat semangat belajar ketika melihat teman temannya yang sedang belajar. Dan banyak keuntungan lain lagi yang kita bisa dapatkan dari system tersebut.

Setelah beberapa bulan bergaul dengan siswa siwa yang mereka ajar, seorang guru akan dengan mudah mengenali siapa yang berwatak ksatria, siapa yang berwatak brahmana dan lain lain. Untuk mereka yang berwatak brahmana, yang mempunyai kualifikasi dan mempunyai kecerdasan untuk mempelajari sastra veda yag lebih mendalam, maka seorang guru akan memberikan mereka didikan lebih mendalam lagi. Kemudian ketika mereka mapan, nantinya mereka akan melayani masyarakat dengan bertindak sebagai penasehat di dalam masyarakat dengan mengunakan kebijaksanan dan pengetahuan yang mereka pelajari dari sastra Veda. Bagi mereka yang berwatak Ksatria, mereka hanya akan belajar tentang ilmu administrasi seperti niti sastra, dharma sastra, dhanurveda/ilmu militer dll. Biasanya ksatria tidak akan belajar lama seprti brahmana karena materi pelajaran mereka jauh lebih mudah dan lebih sedikit. Untuk mereka yang berwatak vaisya, mereka aka belajar sedikit kurang dari kstaria, misalnya arta sastra, perekonomian dll. Untuk kalangan sudra, biasanya orang yang secara alami tidak mempunyai kualifikasi untuk belajar pengetahuan seperti yang dipelajari oleh ketiga kelompok di atas, mereka hanya akan belajar pekerjaan fisik. Dengan demikian ini akan menguntungkan mereka dan yang lain juga.

Dengan tidak mengijinkan mereka untuk melanjutkan pelajaran di gurukula, itu tidak akan menghabiskan waktu mereka sehinga bisa belajar ketrampilan yang praktis dari orang tua atau saudara terdekat mereka. Tugas dari sudra di dalam varnasram dharma adalah untuk membantu masing masing dari ketiga varna yang lainnya. Ini tidak berarti bahwa sudra tidak berperan penting di dalam masyarakat. Mereka adalah bagian dari badan di masyarakat dan berperan sepenting ketiga kelompok lainnya. Meskipun ada otak yang mengontrol ( brahmana ), ada lengan yang mengorganize dan melindungi ( ksatria 0 dan ada badanyang menyediakan keperluan pekerjaan ( vaisya ) tetapi kalau tidak ada pekerja yang akan melakukan pekerjaan ( sudra ) maka pekerjaan di dalam masyarakat tidak akan pernah kelar aatu jika itu kelar, maka tidak akan berlangsung dengan baik. Seperti halnya kaki, badan, lengan dan kepala mempunyai peranan yang sama sama penting di dalam badan, saperti itu pula peranan keempat kelompok di dalam masyarakat.

Namun sayangnya di jaman sekarang ini pengelompokan seperti itu menjadi suatu kasta yang sama sekali tidak berdasarkan ajaran Veda yang kemudian di kritik oleh berbagai golongan masyarakat di seluruh dunia. Namun itu tidak berarti kita harus meningalkan system tersebut. Kalau kita megikuti system ini yang sebenarnya, maka sangat di pastikan keberadaan masyarakat akan sangat tentram. Contohnya seperti kerajaan di jaman pemerintahan maharaja Yudhistira dan Sri Ramacandra. Mereka semua menerima dan memakai system Varnasrama dharma tetapi sesuai dengan system yang sejati bukan system kasta seperti sekarang ini. Saat itu, bisa dikatakan seluruh penduduk di bawah mereka berada di dalam keadaan tentram dan sejahtra.

Pertanyaan akan muncul, kenapa kita tidak berikan kesempatan kepada semua orang untuk belajar hal yang sama, mislanya kenapa sudra tidak diijinkan untuk belajar? Tradisi gurukula akan memberikan kesempatan kepada setiap orang, tetapi kalau mereka sudah tidak akan mampu meskipun sudah berusaha, apa gunanya untuk melanjutkan belajar bertahun tahun dan akhirnya kembali seperti semula? Tradisi veda tidak mengenal sertifikat yang tidak berguna. Sebuah kertas yang menyatakan seorang berqualifikasi meskipun mereka sama sekali tidak tahu tentang apa yang seharusnya mereka ketahui. Contoh yang sangat nyata kita lihat di dalam pendidikan sekarang secara umum. Kita paksa setiap orang untuk belajar pelajaran yang sama di sekolah selama bertahun tahun dan bahkan 12 tahun atau mungkin lebih dan pada akhirnya setengah dan bahkan lebih dari setengah dari pengetahun yang mereka pelajari tidak pernah dipakai di dalam kehidupan mereka. Sastra veda merupakan sastra yaang berusaha untuk membuat hidup kita prakctis, karena itu terdapat pengelompokan ini di dalam tradisi Veda sehinga setiap orang mengambil pekerjaan sesuai dengan abilitas mereka. dengan demikian, setiap orang akan menikmati pekerjaan mereka. jadi, gurukula atau proses belajar di dalam pesraman adalah salah satu poroses untuk mengenali abilitas seseorang dan memberikan training sesuai dengan abilitas mereka bukan berdasarkan kelahiran.

Kemudian pertanyaan akan muncul lagi, bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat traning di gurukula? Bagaimana seseorang bisa mengenali abilitas mereka? mengenali abilitas tidak merupakan hal yang begitu sulit karena itu berada di dalam masing masing diri seseorang. Tetapi kalau seseorang mengalami kesulitan, sastra juga memberikan jalan yaitu tetaplah berada di dalam posisi seperti sekarang, apakah pekerja di sawah, atau tukang ukir, atau kalau saat ini pekerja di Kantor dll, namun pada saat yang sama kita yang menyadari pentingnya traning sesuai dengan bakat, maka kita berikan kesempatan kepada generasi penerus kita untuk mengikuti system yang kita tidak dapatkan. Pada saat yang sama, sambil kita tetap berada di dalam posisi kita, kita hendaknya berusaha mengunakan hasil dari kegiatan kita di dalam kegiatan berdana punia atau persembahkan itu kepada tuhan di dalam berbagai bentuk. Seperti misalnya ke tempat tempat persembahyangan, di pesraman pesaraman di mana pendidikan di laksanakan dll. Dengan demikian seseorag akan terlindung dari reaksi karma di dunia mateial ini.

Seperti yang kita uraikan tadi, bahwa sastra veda merupakan suatu sastra yang selain mengajarkan kehidupan rohani tetapi juga meberikan tuntunan kepada kita untuk hidup di dunia material ini. Tetapi sekarang untuk mendapat hasil dari itu semua, ini tergantung kepada kita, apakah kita mengikuti atau tidak. Permasalahan yang sering muncul karena kita tidak mengikuti system tersebut sesuai dengan yang dianjurkan. Kalau seseorang mengidap penyakit dan ingin sembuh dari penyakit tersebut, maka dia mesti mengikuti dengan setrick semua larangan dan anjuran. Tanpa mengikuti semua itu, maka tidak akan ada istilah sembuh bagi si penderita. Sama halnya sastra Veda memberikan kita semuanya, tetapi ini tergantung kepada kita.

Misalnya, kita mempunyai masalah perekonomian di keluarga. Sastra menganjurkan bahwa keuangan hendaknya di atur sebagai berikut, 25 persen untuk keperluan kita dan keluarga sekarang, 25 persen di simpan untuk hal hal yang emergency di hari esok, dan 50 pesen untuk kepentingan punia atau yajna. Dengan demikian, seseorang dipastikan akan sejahtra. Pertayaan sekarang adalah, kenapa 50persen untuk Yajna, apakah ini tidak terlalu banyak? Sastra menjawab, dengan melakukan yajna dengan hasil kegiatan kita, maka itu aka membawakan kesejahtraan kita yang kedepan.

annäd bhavanti bhütäni

parjanyäd anna-sambhavah

yajnäd bhavati parjanyo

yajnah karma-samudbhavah

“ semua makhluk hidup yang yang membadan hidup dengan biji bijian yang dihasilkan dari hujan. Hujan dihasilkan dari melakukan yajna dan yajna dilahirkan dari tugas kewajiban yang ditetapkan.”

Dengan kata lain, yajna sama saja dengan menabung pada alam untuk kehidupan kita dan masyarakat secara umum di masa kedepan. Ketika para deva yang mengontrol alam puas dengan yajna, maka mereka tidak akan membiarkan seseorang kelaparan atau mengalami permasalah ekonomi. Di jaman sekarang ini seluruh dunia mengalami permasalahn ekonomi karena mereka melupakan kurban suci.

Kemudian berhubungan dengan keturunan atau proses mendapatkan anak. Di dalam kitab veda yang membicarakan proses samskara ( upacara ), diuraikan bahwa pernikahan sebenarnya bukan untk kenikmatan indria. Pernikahan bukan hanya untuk menikmati bersama lawan jenis di dalam hubungan kelamin tetapi untuk mendapatkan anak yang suputra. Kata putra berarti “ pum-nama narakam trayate” dia yang membebaskan orang tua dari neraka. Dengan demikian, hanya anak yang suputra yang bisa memberikan kebebasan pada leluhur dari Neraka. Anak yang asu putra ( atau di dalam veda disebutkan “ mutra “ air kencing,) mereka tidak akan bisa membebaskan leluhur dari kehidupan neraka tapi malahan sebaliknya, mereka hanya akan menjerumuskan diri mereka ke neraka. Putra dan Mutra berasal dari sumber yang sama, kalau putra tidak menjadi su-putra maka mreka tidak berbeda dengan Mutra. Jadi ada uraian waktu dimana seseorang mestinya berhubungan kelamin antara suami istri. Tidak di setiap waktu dan dimana mana semau mereka seperti binatang di jalanan. Manusia mempunyai kecerdasan lebih dari binatang karena itu mereka mestinya mengikuti aturan sastra. Misalnya kalau ingin mendapap putra yang baik, hendaknya purnama dan tilem, empat hari sebelum purnama tilem, sandi kala, pagi hari ,siang hari hendaknya dihindari untuk hubungan kelamin. Selain itu, ketika sang istri datang bulan, ketika mengandung, selama enam bulan setelah melahirkan atau di hari hari suci seperti sivaratri dan lain lain juga hendaknya dihindari kalau seseorang ingin mendapatkan anak yang suputra. Jika sseorang ingin mendapatkan keturunan laki laki atau perempuan, prosedur juga diuraikan di dalam samskara sastra.

Sebelum membuahi kandungan, pasangan suami istri mesti mengikuti upacara garbhadana samskara sesuai uraian samskara. Di beberapa tempat di daerah India selatan, masih ada beberapa golongan brahmana yang melakukan yajna unutk mendapatkan putra yang merupakan anugrah sri Visnu dengan melakukan satu bulan yajna dan vrata. Banyak dari mereka yang berhasil dan mendapatkan putra yang memiliki lambang cakra atau gada dan padma secara alami pada bagian tubuh anak mereka. ini merupakan bukti dari kekuatan samskara yajna. kemudian samskara sastra juga menguraikan proses yajna dan beberapa vrata untuk mulai memperkenalkan kesadaran ketuhan kepada anak anak. Bukan hanya kepada bayi tetapi bahkan kepada anak yang masih ada di dalam kandungan sekalipun. Prahlada maharaj, penyembah agung Sri Narasimha mendapat ajaran ketuhanan sejak berada di dalam kandungan. Srima Bhagavatam menguraikan

kaumära äcaret präjïo

dharmän bhägavatän iha

durlabhaà mänuñaà janma

tad apy adhruvam arthadam

“Orang yang cukup cerdas, hendaknya mengunakan bentuk badan manusya sejak awal dari kehidupannya, dengan kata lain sejak masa kanak kanak, untuk mempraktiskan proses pengabdian suci kepada tuhan dan meningalkan kegiatan lain yang material. Hidup manusya sangat jarang sekali dicapai. Meskipun badan ini bersifat sementara seperti badan badan di dalam makhluk lain, namun ini sangat berguna karena di dalam badan manusya seseorang mampu melakuakn pengabdian kepada tuhan. Meskipun hanya sedikit keinginan yang tulus untuk melakukan pengabdian suci, itu akan memberikan kesempurnaan kepada seseorang.”

Karena itu, ketika seorang ibu mengandung, sastra menganjurkan supaya mereka mendengarkan ajaran ajaran yang suci sehinga kesadaran anak nanti juga akan di sucikan sehinga akan mudah untuk mencerna filasafat ketuhanan dan keberadaanNya. Sangat dianjurkan supaya seorang ibu yag mengandung untuk menghindari mendengar hal hal buruk seperti saat ini menonton film film yang kriminal dan seram seram yang berhubungan dengan kejahatan karena itu akan mempengaruhi kesadaran si bayi.

Setelah anak lahir, ada upacara yang disebut dengan nama karana, yaitu upacara pemberian nama kepada si bayi. Berdasarkan samskara sastra, pemberian nama kepada bayi sangat penting karena nama berpengaruh besar pada orang bersangkutan dan disekitarnya. Misalnya karena nama sesoarng bisa berbudi luhur atau sebaliknya. Karena itu nama hendaknya diberikan berdasarkan pengaruh naksatra ( bintang yang mempengaruhi). Ada dua puluh delapan naksatra. Nama depan anak tersebut hendaknya diberikan sesuai dengan kecocokan hurup yang dianjurkan di dalam setiap naksatra. Misalnya naksatra Asvini, silable yang mendukung adalah, cu-ce co-la, maka nama anak hendakya berawal dengan salah satu dari kata tersebut. Jika pemberian nama diberikan berdasarkan naksatra tersebut, maka paling tidak akan mengurangi pengaruh buruk dari dari beberapa planet yang tidak mujur yang mempengaruhi kelahiran si anak. Sudah tentu, ini tidak akan terjamin seratus persen akan terbebas dari hal buruk tetapi paling tidak beberapa persen.

Oh, ini sangat sulit untuk kita lakukan. Seseorang mungkin akan berargument seperti itu. Ok, kalau sulit dan tidak bisa melakukan, maka jangan salahkan sastra Veda tidak memberikan kita tuntunan yang bisa dipraktekan. Untuk mencapai sesuatu yang mulia perlu usaha yang keras. Prinsip dasar ekonomi yaitu mendapatkan barang berkualitas bagus dan berharga dengan usaha seminimum dan harga semurah mungkin sama sekali tidak berlaku paling tidak di dalam kehidupan rohani. Pernyataa barang berqulitas denga harga murah ini baru kita bisa bilang hanya teory tetapi di dalam prakrek merupakan hal yang mustahil.

Kemudian memilih tempat tingal, Veda memberikan kita sastra berupa Vastu sastra yang memberikan kita tuntunan dimana kita harus membangun bangunan tertentu. Misalnya dapur harus terletak di bagian tengara pekarangan, kolam, sumur dan tempat suci di bagian timur laut, tempat mandi atau toilet di bagian barat daya dan tempat tingal di bagian barat dan lain lain. Di dalam ruangan, hendaknya jangan meneruh benda berat seperti almari, meja dan lain lain di bagian timur laut dan barat daya karena itu bisa menyababkan sakit kepala yang berlanjutan atau bisa stress. Di tengah tengah pekarangan hendaknya kebun atau paling tidak kosong. Dan masih banyak lagi mengenai pembangunan yang diuraikan di dalam vastu sastra.

Pengobataan, didalam sastra Veda kita punya Ayur Veda dan yoga asana untuk menjaga kesehatan. Para kaviraj ( ahli ayur Veda ) mampu mengenali penyakit hanya dengan mendeteksi gerakan pembuluh di tangan tanpa melakukan extra sinar laser untuk mendeteksi. Penyebab dari penyakit adalah ketidak seimbangan antara tiga unsur utama di dalam badan ( vata, kapha pita ). Dengan mendeteksi ketidak semibangan dari ketiga unsur ini dan menetrealkannya maka tanpa operasi seseorang bisa disembuhkan dari berbagai penyakit. Hanya perlu bahan bahan obat yang alami untu menetralisir ketidak seimbangan 3 unsur tersebut atau dengan gerakan gerakan asana tertentu dan beberpa larangan khususnya makanan yang mesti diikuti.

Mengenai Pernikahan yang cocok, kita punya jyoti sastra yang akan meberikan study banding apakah lelaki ini sesuai dengan wanita yang akan dikawini atau tidak. Paling tidak tidak akan ada perceraain. Itu yang paling penting di dalam tradisi Veda. Karena itu, karena secara umum di dalam tradisi veda menikah berdasarkan kesesuaain pengaruh kelahiran, maka kita tidak pernah mendengar adanya perceraain di dalam kisa kisah di dalam purana maupun di dalam itihasa. Bahkan sampai sekarang, di India, khususnya di daerah pedalaman yang masih kuat mengikuti tradisi Veda, tidak ada istilah perceraain diantara suami dan istri. Ini karena mereka menikah dengan orang yang sejalan berdasarkan hari lahir mereka yang berdasarkan pengecekan para ahly jyoti sastra.

Untuk ketrampilan, veda juga menyajikan kita Silva sastra di mana seseorang bisa mengenali bahan bahan yang cocok untuk patung dll. Khususnya untuk bahan arca ( pratima ) yang akan di puja di dalam pura atau kuil, para ahli silva sastra mengetahui batu yang mana yang bisa dipakai dan yang mana hendaknya tidak dipakai. Ilmu pertanian semuanya tercantum di dalam Kresisastra ( ilmu pertanian ). Kapan dan jenis tanaman apa yang cocok di tanam sesuai dengan jenis tanah.

Semua apara Vidya yang kita bicarakan hanya sekedar kata pengantar yang sangat sederhana tentang keluasan dan keluesan Veda. Ada 64 jenis apara vidya dimana setiap vidya membicarakan berbagai hal berhubungan dengan kehidupan seseorag yang seseuai dengan posisi seseorang di dalam masyarakat. Kami di dalam Varnasrama research team ( VRT ) yang saat ini base di India selataan baru memulai research di dalam berbagai hal di berbagai tempat di India dan di Indonesia dan beberapa tempat di Kamboja sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu dan sampai saat ini masih aktiv. Dan kita berharap akan ada bermunculan orang orang atau kelompok untuk bekerjasama di dalam hal ini. Untuk ini, paling tidak doa dan restu serta dukungan saudara saudara kita dari umat pengikut veda yang bisa menyemangatkan kegiatan ini.

Setelah berbicara berbagai penetahuan apara vidya, kita hendaknya Tidak terlalalu masuk kedalam apara vidya dan melupakan para Vidya. Tujuan utama para Vidya adalah Moksa atau pembebasan dari kesengsaraan di dunia material ini dan menccapi alam tuhan yang oenuh dengan pengetahuan, kekal dan penuh kebahagian. Tujuan hidup beragama ( dharma ) adalah moksa bukan uttuk tingal di dunia ini karena dunia ini sendiri tidak kekal adanya. Sastra Veda menguraikan di dalam setiap jaman memiliki proses tersendiri untuk mencapai kesempurnaan hidup, Moksa. Di jaman kali yuga ini, proses mengucapkan nama nama suci tuhan sangat di anjurkan.

Om äsya jänanto näma cid vivaktana mahas te visno su-matim bhajämahe ta

“ kalian semua hendaknya mengerti bahwa nama suci Visnu adalah bersifat rohani karena itu engkau hendaknya mengucapkan nama suci tersebut bersama sama. Oh Visnu! Kami memuja doa ini kepada annda yang agung. ( Rg Veda, _01.156.03.2{26})

Di dalam kali santrana upanisad juga diurakan,

iti sodasakam nämnäm

kali-kalmasa-näsanam

nätah parataropäyah

sarva-vedesu drsyate

“ setelah menelusuri di berbagai bagian di dalam kitab suci Veda, seseorang tidak akan menemukan kegiatan yang lebih mulia yang mampu menghancurkan pengaruh buruk jaman kali selain dari pengucapan nama suci.

Dan yang paling jelas adalah pernyataan di dalam bhagavata purana sebagai berikut:

kaler dosa-nidhe räjann

asti hy eko mahän gunah

kirtanäd eva krsnasya

mukta-sangah param vrajet

Jaman kali adalah lautan dosa tetapi ada satu sifat baik hanya dengan mengucapkan nama suci Sri Krsna ( Sri Visnu ), seseorang akan mencapai moksa ( mukta-sangah param vrajet). Ada berbagai prose untuk mencapai pembebasan tetapi di jaman kali yuga ini, sat satunya jalan yang dianjurkan oleh saastra adalah pengucapan nama suci Sri Visnu. ( Srimad Bhgavata Purana 12.3.51 )

Jadi berdasarkan beberapa uraian di atas, kita tidak perlu meragukan lagi bahwa veda merupakan ilmu yang membumi yang memberi tuntunan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan dan benar beanar mengahrapkan kesejahtraan makhluk khususnya umat manusya, baik di bumi ini maupun di dunia sana. Veda tidak hanya memberikan filasat untuk diperdebatkan tetapi memberikan teori untuk dipraktekkan. Setelah mendapatkan teory dari Veda, sekarang tersrah kepada kita. Apakah kita bisa dan mau melakukan atau tidak. Ketika seseoang terkena tengorokan kering, dokter menganjurkan jangan makan makanan yang di goreng dan harus minum air banyak. Tetapi kalau kita tidak bisa menghindari gorengan dan tidak suka minum air banyak banyak, jangan salahkan dokter dan bilang diketer ii tidak tahu apa apa makanya saya tidak pernah sembuh. Kalau karena kita tidak mampu melakukan anjuran veda, maka jengan salahkan veda dan menklaim Veda yang tidak lengkap.

Om Tat Sat

Om Namo Bhagavate Väsudeväya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s