Bukti Ilmiah Peradaban Veda

(Brahmastra-senjata nuklir peradaban Veda)

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel dalam suatu web bernama erabaru.or.id mengenai peradaban India yang musnah, terutama mengenai perang nuklir yang terjadi saat perang Mahabharata. Hal ini mengingatkan saya dengan Sloka-sloka yang ada dalam Srimad Bhagavatam dan penjelasan Srila Prabupada mengenai persenjataan mutakhir yang digunakan saat perang pada masa peradaban Veda. Hal ini membuktikan bahwa peradaban Veda yang dipaparkan dalam Srimad bhagavatam benar-benar pernah terjadi, dan peradaban tersebut jauh lebih mutakhir dari pada yang pernah diketahui oleh para ilmuwan modern.alamat web tersebut bukan alamat web tentang India ataupun tentang Hindu, melainkan suatu web untuk pengetahuan umum. Berikut ini adalah artikel yang telah saya baca dari web tersebut

Peradaban India Kuno yang Musnah

(Erabaru.or.id) – Mahabharata, adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta, yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan takhta kerajaan. Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun. Fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang begitu besar. Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir!

Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal, roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, kekuatannya sangat dahsyat. Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup, wuuus…. wuuus…., disertai dengan debu pasir, burung-burung bercicit panik… seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke-3 kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Spekulasi perang Mahabharata sebagai perang nuklir diperkuat dengan adanya penemuan arkeologis. Para arkeolog menemukan banyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Sebagai perbandingan, reaktor nuklir pada 2 miliar tahun silam pernah dimanfaatkan di Oklo, Afrika Selatan. Manusia dapat memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, sekaligus memanfaatkan topografi alam menimbun limbah nuklir, peradaban materiil taraf tinggi ini jelas dikembangkan melalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu tahun, mewakili perdamaian dan kemakmuran 500 ribu tahun. Kalau tidak, penggunaan senjata nuklir yang saling menyerang seperti wiracarita yang dilukiskan dalam peradaban India kuno, mungkin jika tidak hancur dalam 50 tahun, akan mengalami penghancuran dengan sendirinya!

Teknologi reaktor nuklir pada manusia modern baru beberapa dasawarsa saja ditemukan, hanya demi masalah limbah nuklir saja telah berdebat tiada henti, apalagi memperdebatkan yang lainnya, kita benar-benar harus merasa malu dengan manusia zaman prasejarah untuk hal seperti ini.

(Sumber: Dajiyuan)

Penjelasan Berdasarkan Srimad Bhagavatam

Srimad Bhagavatam atau lebih dikenal dengan Bhagavata Puranan merupakan salah satu dari Puranan yang utama dan Purana yang tertinggi karena menyangkut tentang kegiatan suci Tuhan yang Maha Esa, Sri Krishna yang di kompilasi secara langsung oleh kepribadian Agung yaitu Srila Vyasa Deva (Bhgavan Byasa).

Berikut ini merupakan pemaparan dari Sloka-sloka Srimad Bhagavatam serta beberapa penjelasan dari Prabhupada mengenai senjata Mutakhir tersebut.

Srimad Bhagavatam 1.7.19

Yadasaranam atmanam aiksata sranata-vajinam

Astram Brahma-siro mene atma-tranam dvijatamah

“Pada waktu Putra Brahmana itu (Asvatthama,putra kesayangan Guru Drona) melihat bahwa kuda-kudanya sudah lelah, dia menganggap tidak ada pilihan lain untuk perlindungan selain dia menggunakan senjatanya yang paling ampuh, yaitu Brahmastra (senjata nuklir pada masa itu)”

Disini dijelaskan bahwa senjata nuklir tersebut bernama Brahmastra, bukan Gandewa atau Gandhiva seperti yang di jelaskan dalam web tersebut. Gandiva merupakan busur Arjuna yang terkenal. Ini dijelaskan dalam Bhagavad Gita 1.29 “seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandiva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar”.

Menurut penjelasan Prabhupada, senjata nuklir tersebut yang bernama Brahmastra, hanya digunakan dalam menghadapi persoalan yang paling hebat atau mendesak saja atau untuk pertahanan diri (self defence). Disini dijelaskan dalam keadaan bagaimana senjata nuklir tersebut digunakan.

Srimad Bhagavatam 1.7.20

Athopasprsya salilam sandhadhe tat samahitah

Ajanann api samharam prana-krcchra upasthite

“Oleh karena nyawa Asvatthama terancam, dia menyentuh air dalam kesucian dan memusatkan pikiran dalam membacakan mantra-mantra untuk melemparkan senjata nuklir, walaupun dia tidak mengetahui cara menarik kembali senjata-senjata seperti itu”.

Meurut penjelasan Srila Prabhupada, sloka ini menjelaskan metode dalam pengaktifan senjata nuklir tersebut (brahmastra) melalui mantra-mantra. Jadi disni dijelaskan proses pembuatan senjata nuklir tersebut melalui mantra-mantra khusus tidak dengan proses kimia, fisika dan teknologi yang kita ketahui sekarang.

Srimad Bhagavatam 1.7.21

Tatah praduskrtam tejah pracandam sarvato disam

Pranapadam abhipreksya visnum jisnur uvaca ha

“kemudian cahaya yang menyilaukan terpancar ke segala penjuru. Cahaya itu begitu ganas sampai arjuna berpikir nyawanya sendiri terancam, dank arena itu dia mulai berbicara kepada Sri Krsihna”.

Srimad Bhagavtam 1.7.26

Kim idam svit kuto veti deva-deva na vedemy aham

Sarvato mukham ayati tejah parama-darunam

“O Dewa segala dewa (Sri Krishna), bagaimana sampai cahaya yang berbahaya ini menyebar ke mana-mana?cahaya ini dating darimana?saya tidak mengerti.”

Disini dijlasakan bahwa bagaimana efek Brahmastra tersebut sama seperti efek yang disebabkan senjata nuklir atau senjata bom atom pada masa modern. Menurut berbagai sumber yang pernah saya baca mengenai kesaksian korban Hirosima, megatakan bahwa cahaya bom yang dijatuhkan tentara Amerika tersebut seperti matahari yang jatuh kedunia. Adapula yang mengatakan cahaya bom atom Hirosima seperti seribu cahaya matahari dan sangat menyilaukan.

Srimad Bhagavatam 1.7.27

Sri-bhagavan uvaca

Vetthedam drona-putrasya brahmam astram pradarsitam

Naivasau veda samharam prana-badha upasthite

Kerpibadian Tuhan Yang Maha Esa (Sri Krishna) bersabda: “ketahuliah dariKu bahwa ini perbuatan putra Drona. Dia sudah melemparkan mantra-mantra tenaga nuklir (Brahmastra), dan dia tidak mengetahui cara menarik kembali cahayanya yang menyilaukan. Dia berbuat demikian karena dalam keadaan tidak berdaya, karena rasa takut maut akan tiba dalam waktu dekat.”

Meurut penjelasan Prabhupada, Brahmastra mirip dengan senjata nuklir modern yang diatur oleh tenaga atom. Tenaga atom bekerja sepenuhnya pada prinsip pembakaran yang sempurna, demikian pula prinsip kerja Brahmastra. Brahmastra menciptakan suhu panas yang tidak bisa ditahan yang mirip dengan radiasi tenaga atom. Akan tetapi, perbedaan antara Brahmastra dan senjata nuklir modern adalah bahwa bom atom adalah senjata nuklir kasar, sedangkan Brahmastra adalah senjata jenis halus yang dihasilkan dari membacakan mantra-mantra. Prabhupada melanjutkan kembali penjelasan beliau, Ilmu Brahmastra memang ilmu yang lain, dan pada zaman purbakala, ilmu itu dikembangkan di tanah Bharatavarsa. Ilmu membacakan mantra-mantra yang bersifat halus juga bersifat material, tetapi belum dikuasai oleh para ilmuwan modern. Orang yang mempelajari atau membacakan mantra untuk mengelurkan Brahmastra juga mengetahui cara menariknya kembali. Tetapi disini Asvatthama tidak mengetahui cara menarik kembali senjata tersebut.

Srimad Bhagavatam 1.7.28

Na hy asyanyatamam kincid astram pratyavakarsanam

Jahy astra-teja unnaddham astra-jno hy astra-tejasa

“O Arjuna, hanya Brahmastra lain yang mampu menangkis senjata ini. Oleh karena engkau ahli dalam ilmu militer, taklukkan cahaya senjata ini dengan kekuatan senjatamu sendiri.”

Prabhupada menjelaskan, tidak ada senjata penangkis yang mampu menetralisir efek dari bom atom. Tetapi senjata Brahmastra dapat ditangkis melalui ilmu yang halus pula, dan para ahli militer pada masa itu mampu mengaksi Brahmastra. Putra Drona tidak menguasai ilmu menangkis senjata, dank arena itu, Arjuna diminta menangkisnya melalui kekuatan senjatanya sendiri.

Dalam sloka ini dan penjelasan prabhupada, diketahui bahwa pada masa zaman Mahabharata, terdapat ilmu pula ilmu militer atau ilmu politik. Yang sangat menguasai ilmu militer dalam sloka ini disebutkan adalah Arjuna “astra-jnah”, ahli dalam ilmu militer’.

Srimad Bhagavatam 1.7.30

Samhatyanyonyam ubhayos tejasi sara-samvrte

Avrtya rodasi kham ca vavrdhate rka-vahnivat

“ketika sinar kedua Brahmastra itu bergabung, lingkaran api yang besar, seperti bola matahari, menutupi seluruh antariksa dan seluruh langit penuh planet-planet.”

Srimad Bhagavatam 1.7.31

Drstvastra-tejas tu tayos tril lokan pradahan mahat

Dahyamanah prajah sarvah samvartakam amamsata

“seluruh penduduk ketiga dunia terbakar oleh panas gabungan senjata-senjata itu. Semua insane diingatkan tentang api samvartaka yang terjadi pada waktu peleburan alam semesta”

Disni dijelaskan tentang kekuatan dari Brahmastra yang begitu dhasyat shingga mengeluarkan panas yang begitu luar biasa. Menurut penjelasan Prabhupada< panas yang disebabkan oleh cahaya ledakan Brahmastra menyerupai api yang keluar dari bola matahari pada saat peleburan jagat. Radiasi tenaga atom kecil sekali di bandingkan dengan panas yang dihasilkan oleh Brahmastra. Ledakan Brahmastra dikatakan seperti suhu panas yang terjadi pada waktu alam semsta dileburkan. Oleh karena itu dijelaskan dalam artikel pada web tersebut terdapat bukti-bukti bahwa adanya radiasi bom nuklir yang terjadi pada zaman Mahabharata, 5.000 tahun yang lalu.

This entry was posted in Sains and tagged .

One comment on “Bukti Ilmiah Peradaban Veda

  1. […] :Bukti Ilmiah Peradaban Veda Advertisement LD_AddCustomAttr("AdOpt", "1"); LD_AddCustomAttr("Origin", "other"); […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s