OVERSLEEPING: The Sadhana Killer

By Kaunteya

Apa Itu Tidur ?

Tidur merupakan sebuah bagian yang besar dalam hidup kita. Prahlada Maharaja berkata pada teman sekolahnya: “Setiap manusia memiliki masa hidup maksimum seratus tahun , tapi bagi seseorang yang tidak dapat mengendalikan hasratnya, setengah dari usia tersebut hilang, karena di malam harinya dia tidur dua belas jam, dan ditutupi oleh sifat kebodohan. Oleh karenanya orang seperti itu hanya berusia lima puluh tahun”. Columbia Electronic Encyclopedia mendefinisikan tidur sebagai: “Keadaan istirahat dimana suatu individu dalam keadaan tidak bergerak dan tidak sadar terhadap lingkungannya”. Dr.William Dement, dari Stanford University Center of Excellence menyatakan bahwa : “Kita seharusnya secara pasti mendefinisikan kondisi biologis dasar yang telah kita diskusikan ini. Sebagian besar ciri-ciri yang disebutkan orang untuk mendefinisikan tidur ialah — imobiliti (tidak bergerak), mata tertutup, mendengkur — dapat diperlihatkan dalam keadaan sadar (bangun). Kita seharusnya bertanya,  apakah perbedaan yang mendasar  antara manusia dalam keadaan sadar dan yang   tidur ?. Jawaban: peristiwa penting yang terjadi ketika kita tidur ialah berhentinya proses saraf yang menyebabkan kita merasa berada di dunia . Pada saat kita masih sadar kita dapat melihat serta mendengar. Beberapa detik kemudian saar kita tertidur, kita tidak akan dapat melihat maupun mendengar. Dengan kata lain tidur ialah perilaku dimana kita tidak berhubungan dengan lingkungan”.

Dengan berbagai cara kami mendefinisikan tidur, kami telah berpengalaman dalam hal ini dan bagaimana tidur memakan waktu kami. “Kita seharusnya selalu menghemat waktu kita untuk menyibukkan diri dalam pelayanan pada Sri Krishna”. Srila Prabhupada berkata, “ Waktu saat kita tidur, adalah pemborosan. Itu adalah pemborosan ! . Jadi kita seharusnya berusaha menghemat waktu”. Hal ini sangatlah penting dalam bhakti-yoga untuk menghindari tidur yang berlebih.

Seberapa Banyak Tidur yang Berlebih Itu ?

Dalam Bhagawad-gita Srila Prabhupada menggolongkan : “Seseorang hendaknya jangan tidur lebih dari enam jam sehari. Seorang yang tidur lebih dari enam tentunya dipengaruhi oleh sifat kebodohan”. Dalam Skanda ke empat Srimad-Bhagavatam, Srila Prabhupada memberikan keringanan : “Kehidupan yang sederhana dan pemikiran yang tinggi dianjurkan untuk setiap penyembah. Dia seharusnya hanya menerima sebanyak yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh material ini untuk melaksanaan pelayanan bhakti. Dia seharusnya tidak makan atau tidur lebih dari yang dibutuhkan. Secara sederhana, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan, dan tidur hanya enam sampai tujuh jam sehari adalah prinsip yang hendaknya diikuti oleh para penyembah”.

Srila Prabhupada pernah menulis hal yang sama dalam sebuah surat: “Mengenai tidur, seharusnya tidak ada kebingungan mengenai hal ini. Jika kita tidak beristirahat yang cukup, kita akan jatuh sakit. Tidak perlu kekuatan untuk masalah ini. Jadi orang hendaknya tidur cukup untuk menjaga kesehatannya. Tidur dua jam sehari pada akhirnya akan berangsur-angsur berkembang secara alami. Untuk saat ini tidur enam jam di malam hari, itu sudah cukup; dan jika diperlukan, bisa mengambil beberapa jam untuk tidur di siang hari”.

Pada bulan Februari 1971 Srila Prabhupada sedang berkeliling India dengan sekelompok murid-murid beliau dari barat. Di pagi hari di Gorakhpur, ketika pelajaran Srimad-Bhagavatam, ada seorang penyembah yang tertidur. Srila Prabhupada langsung tertuju pada penyembah tersebut dan memulai pembicaraan soal tidur:

Srila Prabhupada: Kamu boleh pergi dan berbaringlah. Kenapa kamu masih duduk disini ?, Ini tidak baik. Tidak cukupkah kamu tidur selama empat sampai sepuluh jam sehari ?, Apakah tidak cukup ?. Kenapa kamu berbuat seperti ini ?, Sepanjang hari dan malam, kapanpun kamu bisa duduk. Apa ini ? . Apakah penyebabnya ?…

Gurudasa: Tidak cukup tidur.

Srila Prabhupada: Itu cukup. Berarti kamu memerlukan waktu dua puluh empat jam untuk tidur . Diluar itu jika kamu tidur selama sepuluh jam, itu tidak cukup. Kesibukanmu hanyalah tidur. Jadi tidur delapan atau sepuluh jam tidak cukup. Kumbhakarna. Kumbhakarna. Sama seperti dia yang tidur selama enam bulan.

Tamala Krishna: Tidur musim dingin.

Srila Prabhupada: ( Tertawa ) enam bulan. Kita semua juga tidur selama enam bulan dalam satu tahun, karena secara umum kita tidur sepuluh sampai dua belas jam sehari. Jadi jika kamu tidur setengah hari berarti setengah tahun. Kita semua juga adalah Kumbhakarna. Seseorang yang tidurnya lebih dari enam sampai tujuh jam, dia adalah Kumbhakarna. Kumbhakarna adalah kakak dari Ravana. Dia enam bulan tidur, dan enam bulan terjaga. Itu berarti orang yang tidur setengah dari waktunya, diluar dari dua puluh empat jam, orang yang tidur dua belas jam adalah Kumbhakarna. Akhirnya saya berpikir, hendaknya seseorang jangan tidur lebih dari tujuh jam penuh. Itu cukup, cukup, tujuh jam. Kamu bisa tidur enam jam pada malam hari dan satu jam pada siang hari. Itu cukup. Tapi jika kamu tidur lebih dari itu, kamu adalah Kumbhakarna.

Pada kesempatan yang lain Srila Prabhupada berbicara mengenai tidur delapan jam, salah satunya ketika jalan-jalan pagi di San Francisco, tahun 1968:

Srila Prabhupada: Apakah semuanya berjapa enam belas putaran ?  Tidak ? ( Tertawa )

Saradiya: Pada awalnya saya melakukan itu tapi kemudian mundur lagi.

Srila Prabhupada: Apakah ini begitu sulit ?

Malati: Bukan, kami belum mengetahui bagaimana cara untuk mengatur waktu dengan baik. Beberapa hari kami dapat berjapa enam belas putaran, dan entah bagaimana hari berikutnya, saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya rasa kami tidur terlalu banyak, maksud saya, saya tidur terlalu banyak.

Srila Prabhupada: Berapa jam kamu tidur ?

Malati: Kira-kira enam sampai delapan.

Srila Prabhupada: Itu tidak banyak. Enam belas…., hanya menghabiskan waktu dua jam, enam belas putaran. Huh..? Dua jam atau mungkin lebih dari itu ?

Malati: Dua jam sudah cukup menyelesaikan semua putaran japa.

Srila Prabhupada: Jadi kamu harus menghabiskan dua jam untuk Krishna diluar dari dua puluh empat jam. ( Berjalan sebentar dan berjapa ) ya ?

Penyembah: Apakah ada kesalahan jika tidur delapan jam ?

Srila Prabhupada: Tidur dan makan adalah penyakit material. Tidur, makan, berketurunan…Jadi hendaknya hal itu harus dikurangi sebanyak mungkin.

Penyembah: Bagaimana Jika anda masih merasa lelah….

Srila Prabhupada: Tidak, kamu dapat tidur sampai kamu merasa segar. Beberapa orang dapat merasa segar hanya dengan tidur empat jam. Beberapa orang disegarkan dengan tidur sepuluh jam.

Tentu saja Srila Prabhupada juga menekankan bahwa tidur delapan jam hendaknya jangan dijadikan standar. Ada beberapa kutipan dari pelajaran beliau:

“Kamu ingin tidur; baiklah, tidur, sepuluh jam tidur. Itu tidak dianjurkan. Jangan tidur lebih dari enam jam. Tapi mereka ingin tidur. Mereka ingin tidur dua puluh empat jam…Saat sungguh-sungguh maju dalam kesadaran Krishna, kita akan mengetahui kewajiban kita. Tidur jangan lebih dari enam jam. Delapan jam penuh. Mereka yang tidak dapat mengendalikannya.”.

“Tidur, kamu membutuhkan istirahat, tapi jangan tidur dua puluh enam jam. Bukan seperti itu. Enam sampai delapan jam penuh, cukup untuk beberapa orang yang sehat. Dokter mengatakan, jika seseorang tidur lebih dari delapan jam, akan menyebabkan sakit. Dia  akan menjadi lemah. Orang yang sehat tidur  hanya selema enam jam. Itu sudah cukup. Itu saja”.

Kwantitas Tidak menjadi Masalah

Srila Prabhupada mengatakan: “Kita tidak mengatakan ‘ jangan tidur ‘.  Bukan demikian . Kamu boleh tidur, tapi harus bangun  awal di pagi hari untuk mangala-arati”. Apakah kita tidur lima, enam, tujuh atau delapan jam hanya merupakan salah satu segi dari pokok persoalan. Kita juga perlu mempertimbangkan kapan kita tidur. Jam berapa tidur kita dapat lebih mempengaruhi kehidupan spiritual, daripada lamanya tidur kita. Tidur enam jam dapat memberikan pengaruh yang lebih negatif terhadap sadhana kita dibandingkan tidur delapan jam, jika enam jam tersebut mengambil alih waktu terbaik kita untuk berjapa yakni saat brahma-muhurta yang suci .

“Waktu awal di pagi hari, satu setengah jam sebelum matahari terbit, disebut brahma-muhurta”. Srila Prabhupada menulis dalam Skanda ke tiga dari Srimad-Bhagavatam, “Selama brahma-muhurta ini, dianjurkan untuk melaksanakan kegiatan spiritual. Kegiatan spiritual yang dilaksanakan di pagi hari memberi  pengaruh lebih besar dibandingkan waktu yang lainnya”.

Di dalam Krishna Book Srila Prabhupada mengatakan: “Brahma-muhurta berlangsung kira-kira satu setengah jam sebelum matahari terbit. Disarankan agar orang hendaknya bangun pada waktu itu, dan setelah melakukan pembersihan badan, kemudian melaksanakan kegiatan spiritual dengan mangala-arati dan mengucapkan maha mantra Hare Krishna. Waktu ini sangat baik untuk melakukan kegiatan spiritual”.

Personalitas tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sendiri memberi contoh sempurna bagi para grihastha untuk mengatur waktu di pagi hari. “Kesimpulannya ialah Untuk menciptakan rumah tangga yang ideal hendaknya mengikuti langkah-langkah Tuhan Sri Krishna ketika beliau menampilkan kegiatan sehari-hari-Nya, tapi kita tidak dapat meniru-Nya dalam setiap tahapan dari hidup kita.

Tuhan Sri Krishna biasanya berbaring bersama enam belas istri-Nya, tapi beliau selalu bangun lebih awal di pagi hari, tiga jam sebelum matahari terbit…. Tuhan Sri Krishna akan segera bangun dari tidur-Nya pada saat brahma-murhuta. Sebuah rumah tangga yang ideal seharusnya belajar dari kebiasaan Tuhan Sri Krishna yang selalu bangun lebih awal di pagi hari”.

Dari instruksi Srila Prabhupada mengenai masalah ini, sudah jelas, bahwa bangun lebih awal bukan hanya perintah bagi mereka yang tinggal di temple, tapi juga untuk semua penyembah yang berumah tangga: “Orang yang berumah tangga harus bangun lebih awal pada pagi hari, dan setelah mandi mereka akan melakukan pelayanan kepada Arca di rumah”.

Dan apa yang menjadi alternatif ? “Orang yang tidak siap mempraktekkan perintah yang tertulis dalam sastra-sastra tidak dapat menjadi orang yang baik hanya dengan pengetahuan dari buku. Rumah tangga yang moderen mempraktekkan cara hidup yang berbeda, yaitu bangun telat dan minum teh di tempat tidur, tanpa ada rupa kebersihan dan tanpa ada praktek kebersihan seperti yang dinyatakan di atas. Anak-anak dalam rumah tangga akan melakukan  apa yang dilakukan oleh orang tuanya, dan maka dari itu generasi yang sangan besar akan meluncur ke neraka”.

Kata-kata Srila Prabhupada meninggalkan ketidak ragu-raguan: “Orang yang tidak bisa bangun awal di pagi hari, dia tidaklah sungguh-sungguh dalam spiritual. Ini adalah ujian”.

“Berjapa hendaknya dilakukan di pagi hari dengan penuh konsentrasi”, Srila Prabhupada menulis, “Lebih baik ketika waktu brahma-muhurta”. Sekali hilang, brahma-muhurta tidak akan datang lagi sampai hari berikutnya ( dan jika kita tidur lagi terus selama itu, itu tidak akan membuat kita menjadi lebih baik ). Kita tidak dapat membuat suasana yang menyenangkan seperti itu di lain waktu pada hari yang sama; setiap waktu mempunyai karakteristiknya masing-masing: “Seperti awal pagi hari, merupakan waktu untuk mengolahan spiritual, kemudian menjelang malam, adalah waktu untuk nafsu”. Tentu saja, lebih baik berjapa di malam hari—atau pada siang hari atau kapanpun—dari pada tidak berjapa, tapi bagaimana perjuangan menghabiskan putaran japa sepanjang hari.

Bagaimana Menaklukkan Tidur yang Berlebihan ?

Srila Prabhupada menekankan perlunya sebuah tanggung jawab, menentukan sikap menuju pada misi sebuah kehidupan: “Di jalan ini, kita mengemban tugas yang sangat serius. Dalam hidup ini kita ingin menyelesaikan kehidupan material ini untuk selama-lamanya. Maka perlu ada tanggung jawab, bahwa ‘kita akan pergi untuk menuntaskan kehidupan material ini untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi’. Tyaktva deham punar janma naiti. Jika kamu mengambil tanggung jawab pada jalan itu, kemudian semuanya akan diperbaiki. Sungguh-sungguh… jadi kita akan memperbaiki segala sesuatu, bukan begitu ‘baiklah, ini semua akan terjadi. Itu saja… Segala sesuatunya akan diperbaiki dan memelihara kita agar selalu hidup sebagai tanggung jawab diri kita”.

Srila Prabhupada menjelaskan bahwa orang material berhasil mengurangi tidurnya ketika mereka dimotivasi dengan kuat: “Orang karmi, seperti Subash Bose, Gandhi, mereka juga tidak tidur. Saya mendengar bahwa Napoleon Bonaparte, dia sendiri tidak tidur. Dia tidur… ketika dia telah menyelesaikan dari sebuah pertempuran dengan yang lainnya, diatas kudanya ia tertidur. Itu saja. Dia tidak pernah pergi ke kamar untuk tidur. Gandhi biasa melakukan hal seperti itu. Dia akan tidur ketika ia telah lewat dari satu pos, satu… Jadi begitu banyak contoh, biarpun orang karmi. Itu berarti ketika orang berada dalam kesibukan yang serius, dia akan sedikit tidur… Jadi orang hendaknya berada dalam kesibukan yang serius; maka tidur akan menjadi sedikit”.

Menghindari makan berlebihan dapat membantu: “Makan hendaknya dapat dikurangi. Terlalu banyak makan membawa kita untuk tidur lebih banyak, dan kemudian menimbulkan hasrat sex”.

“Kita hendaknya sangat, sangat hati-hati, jangan membuang-buang waktu walau hanya satu detik. Jika kita makan sedikit, tidur kitapun juga sedikit. Nidrahara-viharakadi: maka prilaku sex kitapun juga akan berkurang”.

“Jika kamu makan secara berlebihan, maka kamu akan tidur juga berlebih. Jika kamu makan secara sederhana, sebanyak yang dibutuhkan, maka kamu akan bisa menaklukkan tidur yang berlebihan”.

Kenyataan yang lain tapi cara yang bagus ialah tidur lebih awal; orang yang bukan penyembah mengatakan: “Lebih awal tidur, lebih awal bangun, membuat orang menjadi sehat, kaya dan bijaksana”. Srila Bhaktivinoda Thakura memberikan contoh yang sangat bagus pengaturan dan keproduktifan dalam pelayanan bhakti: “Bhaktivinoda Thakura adalah grihastha, petugas hakim yang sangat bertanggung jawab. Dan beliau begitu mulia ketika beliau datang dari kantornya pada jam lima sore, kemudian makan malam dan segera pergi untuk beristirahat. Jam tujuh malam beliau tidur dan bangun pada jam dua belas malam. Andaikan beliau tidur pada jam tujuh dan bangun jam dua belas malam, itu sudah cukup, lima jam. Orang hendaknya jangan tidur lebih dari lima atau enam jam. Kurangi sebisa mungkin. Para Gosvami biasanya tidur tidak lebih dari satu setengah atau dua jam. Tidur bukanlah sesuatu yang begitu penting… Jadi, disini Bhaktivinoda Thakura sangat teratur, beliau datang dari kantor, dan setelah makan malam, beliau segera tidur, dan bangun pada jam dua belas malam, dan biasanya beliau menulis buku. Beliau menulis, dibelakan sebelah kiri beliau ada kira-kira seratus buku”.

Pada akhirnya ini hanya masalah nilai, prioritas: “Pada kenyataannya, hidup yang teratur ialah jika enam belas putaran belum terselesaikan, maka kita mendahului untuk tidur. Kamu harusnya mengambil beberapa jam dari tidurmu”.

Srila Prabhupada juga menyebutkan berdoa dan latihan:

Penyembah: Kadang-kadang, baik, jika anda tidur sedikit, kita bisa melakukan lebih untuk Krishna, tapi pada saat yang bersamaan anda akan merasa lelah. Saya rasa anda bisa… Baik, anda bisa mengatur itu.

Srila Prabhupada: Ya. Praktisnya segala sesuatu tergantung dari latihan. Abhyasa-yoga-yuktena cetasa nanya-gamina (Bhagavad-gita, 8.8). Abhyasa-yoga. Abhyasa-yoga berarti latihan yoga… Praktekkan itu. Gerakan kesadaran Krishna yang besar ini merupakan latihan mentransfer dari satu jenis kesadaran ke yang lainnya. Jadi kita memerlukan latihan. Seperti orang yang berlari beberapa mil. Saya tidak bisa berlari meski hanya satu mil. Dia telah berlatih. Kita melihat beberapa anak laki, mereka berlari, terus berlari. Mereka latihan. Praktekkan itu. Kekuatan hati akan meningkat dengan latihan. Dan jika saya berlari, jantung saya akan berdebar-debar. Karena saya tidak pernah latihan. Dengan latihan, segala sesuatu dapat tercapai… Hidup itu pendek dan sangat banyak gangguan. Jadi bagaimana itu mungkin dilakukan ?. Oleh karena itu, ini adalah sebuah latihan — mengucapkan Hare Krishna, dan mendengar— sangatlah menyenangkan. Dan berdoa kepada Krishna, “Mohon beri saya kekuatan”. Hare, “O kekuatan dari Krishna, O Krishna, saya telah jatuh, saya tidak punya kekuatan. Mohon terimalah saya”. Itu saja. “Saya tidak punya kwalifikasi. Saya lemah. Saya mencoba, tapi saya gagal”. Segala permohonan hendaknya diajukan. Dan Krishna yang berkuasa penuh , Ia dapat melakukan segalanya.

 A Word of Caution

Suatu kali saya sedang mengemudi di jalan raya Rome-Naples, di Itali. Itu adalah awal siang hari dari musim panas, musim semi yang cerah. Saya tertidur di setir dan mobil mulai meluncur mengarah ke pagar. Pada saat itu, ada sebuah mobil yang mendahului saya. Melihat saya memotong jalurnya dan sopir itu membunyikan klangson mobilnya dan saya terbangun. Dengan kemurahan hati Krishna tidak terjadi apa-apa, tapi saya bisa mati. Karena itu saya berkata pada diri sendiri: “Saya tertekan karena keinginan untuk menghindari tidur yang banyak dan itu benar. Tapi orang yang mungkin kurang matang, secara  tiba-tiba akan menghentikan tidur pendeknya, dengan resiko tertidur ketika mengemudi dan meninggal dalam kecelakaan lalulintas”. Untuk mengimbangi himpunan saya, saya juga ingin mengingatkan mengenai tidur terlalu sedikit. Ketika Tuhan Sri Krishna berkata: “Tidak ada yang tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi seorang yogi, O Arjuna, jika orang makan terlalu banyak atau terlalu sedikit, tidur terlalu banyak atau tidak cukup tidur”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s